
Setelah dari toko pakaian dan tas, kali ini Sera dan Damar masuk ke toko sepatu, kali ini Sera tak mau lagi menolak atau pun protes, karena itu hanya akan sia-sia, sebab Damar tak akan menggubrisnya. Sera berjalan menyusuri jejeran rak yang berisi sepatu dan sendal cantik, dia bingung harus memilih yang mana.
"Ukuran kaki kamu berapa?" tanya Damar yang membuntuti Sera.
"Tiga puluh delapan, Om," jawab Sera.
"Oh."
Setelah bertanya, Damar kemudian berjalan menjauh dari Sera. Tak lama kemudian, dia kembali menghampiri gadis itu dengan membawa sepasang heels berwarna hitam yang sangat cantik.
"Coba yang ini," ujar Damar.
"Tapi aku tidak pernah pakai heels, Om," keluh Sera.
"Coba dulu! Lagian ini kan tidak terlalu tinggi, kok."
Sera mengangguk, "Iya, deh."
"Yuk, duduk di sana," Damar menunjuk sofa yang berada tak jauh dari mereka.
Sera menurut dan duduk di sofa itu, namun dia tak menyangka Damar akan berjongkok di hadapannya.
"Om mau ngapain?" protes Sera dengan suara pelan, dia merasa tidak enak.
"Mau memakaikan heels nya," sahut Damar tanpa memandang wajah Sera, dia cekatan membuka sendal jepit yang Sera kenakan lalu memasangkan heels yang dia pilih ke kaki gadis itu.
Beberapa karyawan dan pelanggan wanita yang melihat kelakuan Damar sampai senyum-senyum sendiri, mereka merasa kagum sekaligus iri melihat lelaki berparas rupawan itu bersikap sangat manis terhadap Sera. Sedangkan Sera sendiri sedikit risi dengan perbuatan-perbuatan pria itu.
"Sudah, sekarang coba kamu berjalan!" Damar beranjak dan berdiri di hadapan Sera.
Sera bangkit dari duduknya dan melangkah dengan perlahan, dia tak pernah memakai heels sebelumnya, jadi sedikit kesulitan saat berjalan. Karena tidak hati-hati, Sera yang tidak bisa menjaga keseimbangan nyaris terjatuh, untung saja Damar sigap memeganginya. Lagi-lagi adegan itu menjadi perhatian orang-orang yang berada di sekitar mereka.
"Kamu hati-hati jalannya," ucap Damar.
"Kan aku sudah bilang, aku itu tidak pernah pakai heels, Om," gerutu Sera, dia kembali duduk dan melepaskan heels itu.
"Ya sudah, Om akan cari yang lebih rendah."
"Tidak usah, Om! Biar aku yang cari sendiri, Om tunggu di sini saja!"
"Ya sudah, kalau begitu Om tunggu di sini." Damar langsung menjatuhkan dirinya di sofa.
Tak berapa lama, Sera pun kembali dengan membawa sebuah sepatu flat shoes berwarna coklat susu.
"Sudah, Om."
Damar menautkan kedua alisnya, "Hanya itu?"
Sera mengangguk sambil tersenyum, "Iya, hanya ini yang aku suka."
Damar menghela napas, "Ya sudah, yuk bayar!"
Keduanya pun berjalan ke kasir dan membayar sepatu itu, kemudian segera meninggalkan toko tersebut.
"Kita mau beli apa untuk Mama Om?"
"Dodol."
Sera mengernyit heran, "Dodol?"
"Iya, Mama itu suka banget dengan dodol dan itu tidak bisa dia dapatkan di Italia, makanya asal ke sini dia pasti beli banyak dodol, terutama dodol durian," terang Damar.
"Mama Om suka durian juga?"
Damar mengangguk, "Iya, dia suka banget. Tapi dokter melarangnya memakan buah itu karena Mama memiliki riwayat darah tinggi. Makanya dia paling suka dodol durian."
"Oh, sama, dong. Aku juga suka banget dengan durian, Om," beber Sera meski Damar tak bertanya.
"Kalau Om tidak suka, baunya buat mual." Damar bergidik membayangkan bau dari buah berduri tajam tersebut.
Sera termangu, dia kembali teringat pada Dafi yang juga membenci raja buah itu. Sera heran, kenapa banyak sekali hal yang mirip antara Damar dan Dafi? Membuat dia harus kembali teringat pada mantan kekasihnya itu.
"Ini dia tokonya!" seru Damar saat mereka tiba di depan sebuah toko jajanan tradisional, membuat Sera tersentak dari lamunannya tentang Dafi.
Mereka masuk ke toko itu dan membeli banyak sekali dodol dengan beraneka rasa, bahkan Damar memborong habis dodol rasa durian kesukaan sang mama.
Setelah itu mereka pergi dari mall tersebut dan Damar pun mengantarkan Sera pulang ke hotel.
***