My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 38.



Setelah menghubungi Ferdi, Riko pun mengajak Damar dan Sera menemui lelaki itu di sanggar seni teater milik keluarganya untuk membicarakan rencana mereka.


"Jadi ini yang kamu ceritakan tadi, Ko?" Ferdi memastikan lagi, dia menatap Sera dari bawah sampai atas.


"Iya, Mas. Ini Pak Damar, atasan aku di kantor." Riko menunjuk Damar, lalu beralih menunjuk Sera, "kalau yang ini Sera."


"Aku Ferdi, Mas." Ferdi mengulurkan tangannya ke hadapan Damar.


Damar menjabat tangan Ferdi dan tersenyum.


Ferdi lalu beralih mengulurkan tangannya ke depan Sera, "Perkenalkan, aku Ferdi."


Sera pun menjabat tangan Ferdi, "Sera."


"Namamu indah, seindah pemiliknya." Tak disangka Ferdi malah mencium tangan gadis itu.


Sera yang kaget sontak menarik tangannya, sementara Damar langsung menatap tajam lelaki itu.


"Maaf, aku hanya bercanda saja," ucap Ferdi, lalu tertawa.


"Dia memang seperti itu, jangan dimasukin ke hati," sela Riko yang menyadari situasi tidak mengenakkan ini.


"Riko sudah hapal bagaimana aku," sahut Ferdi membenarkan ucapan temannya tersebut.


Sera pun memaksakan senyuman, sedangkan Damar tetap memasang wajah masam, entah mengapa dia jadi tidak menyukai Ferdi.


"Kalau begitu mari kita bicarakan apa yang harus aku dan teman-temanku lakukan!" pinta Ferdi.


Keempat orang itu pun mulai menyusun rencana, Ferdi juga memanggil lima orang talent yang sudah berumur untuk bergabung bersama mereka.


"Jadi jelas, ya? Mbak Ayu, Mbak Hesti, Mas Deni dan Mas Raffi yang akan menjadi kerabatnya Sera. Sementara aku akan bertindak sebagai penghulu dan Bang Jamal yang jadi saksinya." Ferdi membagi tugas.


Semua orang menganggukkan kepala pertanda setuju.


"Berarti lusa mereka harus sudah bersiap-siap, karena mamanya Pak Damar ingin bertemu dengan kerabat Sera dulu." Riko memastikan lagi.


Ferdi mengangguk lalu menatap Sera, "Makanya segera kirim data diri kamu, nama orang tuamu, kebiasaan mu, pokoknya apa pun tentang kamu. Jadi talent ku tidak bingung saat mamanya Mas Damar bertanya macam-macam tentang kamu."


"Baik, Om," sahut Sera.


"Eh, jangan panggil Om! Panggil Mas saja, aku masih muda, kok," pinta Ferdi dengan nada protes.


Sera meringis, "I-iya, Mas."


Damar hanya melirik Ferdi dan Sera, dia semakin tidak menyukai lelaki berwajah manis itu.


Setelah selesai menyusun rencana bersama Ferdi dan teman-temannya, Damar, Sera juga Riko pun pamit dan keluar dari gedung sanggar seni teater itu.


"Ko, apa tidak ada aktor lain? Aku tidak suka dengan temanmu itu," Protes Damar terang-terangan.


"Tidak ada, Pak," sahut Riko lalu mengernyitkan keningnya, "Memangnya dia kenapa?"


Damar menggeleng, "Tidak apa-apa!"


"Jadi kenapa anda tidak suka?"


"Ya, tidak suka saja," jawab Damar enteng, kemudian berjalan mendahului Riko dan Sera.


Riko heran karena Damar tidak menyukai Ferdi tanpa alasan.


"Atasannya Mas Riko itu aneh ,deh!" ucap Sera pelan.


"Iya, belakangan ini sikapnya memang sering tidak jelas. Mungkin kurang puas atau belum tersalurkan," balas Riko asal.


Sera sontak menoleh ke arah Riko dengan kening yang mengerut, "Maksudnya, Mas?"


"Sudahlah, anak kecil seperti kamu tidak akan paham." Riko melengos dan bergegas menyusul Damar yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Enak saja bilangin aku anak kecil!" sungut Sera yang buru-buru berlari mengejar Riko.


***


Dafi dan Alvin sedang nongkrong bareng di kafe langganan mereka yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kost-kostan Dafi, keduanya sedang asyik bermain game online untuk mengisi waktu senggang.


"Begitulah, dia berubah jadi semakin posesif dan menyebalkan sekarang," jawab Dafi.


"Kok Luna gitu, ya? Padahal dulu sepertinya dia gadis yang manis dan menyenangkan, kenapa sekarang bisa berubah begini?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Dulu aku nyaman sekali di dekat dia, tapi sekarang rasanya malas banget mau bertemu dengannya," keluh Dafi.


Marcell yang baru saja pulang kerja datang menghampiri kedua sahabatnya itu.


"Hai, Bro," sapa Marcell sembari duduk di samping Dafi.


"Ini dia si pemburu dollar, akhirnya datang juga," sindir Alvin.


"Sorry, hari ini aku banyak kerjaan, jadi pulangnya telat," dalih Marcell, di antara mereka bertiga, dia lah yang kurang mampu, sehingga harus bekerja paruh waktu untuk membayar biaya kuliahnya sendiri.


"Wah, kalau lembur, berarti gajinya dobel, dong?" ledek Alvin, sedangkan Dafi hanya tertawa mendengar seloroh sahabatnya itu.


"Bisalah buat beli martabak untuk kekasih hati," sahut Marcell lalu tertawa.


Namun tiba-tiba Marcell teringat sesuatu, "Eh, tadi aku lihat Sera."


Dafi sontak mengalihkan pandangannya ke Marcell, "Di mana, Cell?"


"Di hotel, dia bersama seorang pria dewasa," jawab Marcell jujur.


Dafi dan Alvin tercengang mendengar penuturan sahabat mereka itu.


"Kamu yakin itu Sera, Cell?" Alvin memastikan.


"Iya, aku yakin banget! Dia masuk ke dalam lift bersama pria itu, dari style nya sih, kayaknya pria itu orang kaya."


Dafi terdiam, mendadak jantungnya seperti diremas-remas.


"Siapa pria itu? Apakah dia orang yang telah menabrak Sera? Tapi buat apa mereka ke hotel? Atau jangan-jangan benar yang dikatakan Luna, jika Sera punya Sugar Daddy?" Dafi bertanya-tanya dalam hati.


"Woi, Daf! Kenapa melamun?" Alvin menepuk pundak Dafi sebab melihat sahabatnya itu termenung.


Dafi tersentak dan sontak menatap Alvin.


"Kamu pasti memikirkan Sera, kan?" tebak Alvin.


Dafi tertunduk sembari menghela napas berat.


"Sudah, tidak usah dipikirkan! Kamu dan Sera sudah selesai, jadi apa pun yang dia lakukan, biarkan saja!" Alvin mencoba menasihati sahabatnya itu.


"Mana bisa, Dafi kan gagal move on dari Sera," ejek Marcell.


Alvin langsung memberikan tatapan peringatan pada Marcell.


Dafi tak membalas, dia tengah merasa kesal, bukan karena ledekan dari Marcell, tapi karena berita yang sahabatnya itu sampaikan tentang Sera. Entah mengapa hatinya tidak bisa terima jika gadis yang sudah menjadi mantannya itu berada di hotel bersama lelaki lain.


Sementara itu di sebuah restoran mewah, Lusi sedang duduk berhadapan dengan Sarah dan Elin. Dia tetap menemui ibu dan anak itu meskipun Damar sudah mengatakan ingin menikah dengan Sera.


Sebenarnya rencana perjodohan Sarah dan Damar sudah dibatalkan, tapi Lusi sengaja berbohong pada Damar untuk mendesak sang putra agar segera menikahi Sera, dan rencananya itu berhasil.


"Maaf, karena rencana perjodohan anak-anak kita harus batal. Aku juga tidak tahu kalau ternyata Damar sudah memiliki kekasih," ucap Lusi tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, kok. Kita hanya bisa berencana, tapi tetap Tuhan yang punya kuasa untuk menentukan," balas Elin dengan senyum mengembang.


"Iya, kamu benar, Lin."


"Jadi kapan Damar akan menikah?" tanya Elin.


"Tanggalnya belum ditentukan, tapi secepatnya," jawab Lusi lugas.


"Jangan lupa undang-undang, ya?"


"Pasti, dong!" balas Lusi.


Sarah hanya tersenyum menanggapi kabar dari Lusi itu meskipun hatinya merasa kesal mendengar Damar akan segera menikah dengan Sera.


***