
Anggi sedang terduduk lemas di atas ranjang, matanya sembab dan terdapat beberapa lebam di wajah serta tubuhnya, dia benar-benar terlihat berantakan.
Datuk Dahlan mendekatinya dan melemparkan pakaian beserta dalaman baru, "Cepat guna ini! Sekejap lagi kita nak balik."
Anggi membuang muka, "Saya tak nak!"
"Jangan bertekak dengan saya! Bila saya cakap guna, maka awak mesti guna!" bentak Datuk Dahlan marah.
Anggi tetap bergeming dan tak mau menyentuh pakaian itu, membuat emosi Datuk Dahlan semakin memuncak.
"Awak betul-betul buat kesabaran saya habis!" geram Datuk Dahlan, dia lantas mendekati Anggi dan mencengkeram leher istrinya itu dengan kuat.
"Akh .... sa-kit!" ucap Anggi terbata-bata, dia kesakitan dan kesulitan bernapas.
"Kalau awak tak nak sakit, jangan buat saya murka!" Datuk Dahlan melepaskan leher Anggi dengan kasar. "Cepat guna!"
Dengan air mata yang berlinang, Anggi pun mulai memakai pakaian yang suaminya itu berikan.
"Saya bersedia cuti kerja dan datang jauh-jauh dari Selangor buat jemput awak, jadi jangan terlalu bertindak dan membuat saya lebih murka daripada ini," ujar Datuk Dahlan kesal.
"Tapi saya tak nak ikut awak!" bantah Anggi lagi.
"Kalau tak nak, awak mesti tengok anak dan bekas suami awak itu pergi ke dunia akhirat," ancam Datuk Dahlan dingin.
Anggi seketika merasa takut, dia tak ingin terjadi sesuatu kepada Dafi ataupun Damar, dia tak mau orang-orang yang tak bersalah menjadi korban karena dirinya.
Tanpa sepengetahuan Datuk Dahlan, polisi sudah datang dan mengepung rumah yang dia sewa itu.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan, Datuk Dahlan segera berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit.
"Ada apa?"
"Di luar ada polisi, Datuk," jawab pria gondrong yang waktu itu menikam Damar.
"Macam mana polis boleh datang kat sini?" Datuk Dahlan mendadak panik.
Anggi yang mendengarnya sontak mengintip dari jendela kamar, dan benar saja ada banyak mobil polisi di halaman rumah itu.
"Saya tak tahu, Datuk." Si pria gondrong tertunduk takut.
Plak.
Datuk Dahlan langsung menampar pria gondrong tersebut.
"Bodoh! Tak boleh dipercaya!" bentak Datuk Dahlan marah.
Diam-diam Anggi membuka jendela dan melambaikan tangan ke arah polisi sambil berteriak, "Tolong! Tolong aku!"
Datuk Dahlan sontak menoleh ke arah Anggi dan bergegas menarik wanita itu lalu menamparnya.
Plak.
Anggi langsung jatuh tersungkur ke lantai dengan bibir berdarah.
"Awak nak mati, ke?"
Anggi tak menjawab, dia hanya meringis menahan sakit.
"Kami perintahkan pada kalian semua yang ada di dalam untuk keluar dan menyerahkan diri, rumah ini sudah kami kepung." Terdengar suara teriakkan salah seorang polisi dari luar rumah.
Datuk Dahlan dan pria gondrong itu semakin panik.
"Macam mana ini?" Datuk Dahlan mulai gelisah.
Seorang pria bertato kemudian datang dengan wajah tegang, "Datuk, polisi berusaha menerobos masuk! Kita harus kabur!"
Datuk Dahlan dan semua orang suruhannya merasa ketakutan.
"Saya tak nak masuk penjara! Saya mesti lari!" ujar Datuk Dahlan, dia buru-buru memakai tasnya yang berisikan pasport, ponsel dan juga dompet.
Tanpa pikir panjang pria berkebangsaan Malaysia itu merebut belati dari pinggang anak buahnya lalu menarik Anggi dan menyandera sang istri.
"A-apa yang awak buat ni?" tanya Anggi takut, tubuhnya gemetar.
Datuk Dahlan dan orang-orang suruhannya keluar dari rumah itu sambil menyandera Anggi, para polisi yang melihatnya sontak mundur perlahan. Bahkan Arman yang tak lain adalah ayah Anggi merasa ketakutan dan panik melihat putrinya dalam bahaya seperti ini.
"Kami mohon kerjasamanya, tolong lepaskan wanita itu dan menyerah lah!" pinta seorang polisi.
"Tak! Dia isteri saya, dia mesti ikut saya!" bantah Datuk Dahlan, sementara Anggi hanya bisa pasrah dan menangis ketakutan.
Dafi dan Riko pun tiba, keduanya sontak turun dari mobil. Dafi terperangah melihat Anggi ditawan oleh Datuk Dahlan.
"Mama!" pekik Dafi, dia hendak berlari ke arah Anggi, tapi Riko menahannya.
"Jangan!"
"Tapi Mama dalam bahaya, Mas."
"Biar polisi yang menanganinya, kita tunggu di sini."
Dafi menurut walaupun dia merasa sangat cemas dengan keadaan Anggi.
Pihak kepolisian masih berusaha bernegosiasi dengan Datuk Dahlan, berharap lelaki itu mau membebaskan Anggi dan menyerahkan diri, tapi ternyata dia sangat keras kepala.
"Tolong lepaskan sandera dan menyerah lah!" ujar polisi itu lagi.
"Saya tak nak, awak semua tepi dan biar kita orang pergi dari sini," balas Datuk Dahlan.
"Sekali lagi kami perintahkan, lepaskan sandera dan menyerah lah! Atau kami terpaksa mengambil tindakan tegas." Polisi itu kembali bernegosiasi dan mengancam Datuk Dahlan.
"Saya tak kisah! Saya nak awak semua tepi, atau saya bunuh dia!" ancam Datuk Dahlan sembari menggores leher Anggi dengan pisau yang dia pegang.
"Aaaahk ....!" Anggi seketika menjerit kesakitan dan lehernya pun berdarah.
"Mama!" Dafi berteriak dengan perasaan geram bercampur panik, dia ingin sekali berlari dan menghajar Datuk Dahlan, tapi Riko masih terus menahannya.
"Anggi, anakku!" Arman pun ikut menjerit histeris melihat sang putri terluka.
Bukan hanya Dafi dan Arman saja, Riko serta para polisi pun mendadak panik dan cemas.
"Jangan! Tolong jangan sakiti dia!" ucap polisi itu memohon.
"Sebab tu awak semua tepi!"
Suasana semakin mencekam, negosiasi berjalan alot, Datuk Dahlan sangat keras kepala meskipun polisi sudah mengancamnya berulang kali dan melakukan tembakan peringatan, dia tetap tak peduli. Dia bahkan kembali melukai Anggi dengan pisaunya.
Para polisi saling memberikan kode, mereka terpaksa harus mengambil tindakan tegas untuk melumpuhkan Datuk Dahlan.
Dari kejauhan seorang sniper sedang membidikkan senapannya ke arah kepala Datuk Dahlan, karena sang target jauh lebih tinggi dari Anggi, si sniper yakin kalau tembakannya tidak akan mengenai wanita itu.
Sebuah peluru dimuntahkan dari senapan si sniper dan menembus kepala Datuk Dahlan, pria itu langsung ambruk bersimbah darah dan beberapa polisi langsung menyelamatkan Anggi yang sangat syok, beberapa lagi meringkus orang-orang suruhan pria berkebangsaan Malaysia itu.
Dafi dan Riko berlari menghampiri Anggi yang terisak-isak dan ketakutan.
"Mama!"
"Dafo? Anakku?" Anggi langsung memeluk putranya itu.
"Mama baik-baik saja, kan?"
"Iya, sayang," jawab Anggi sambil menangis.
"Anggi, Dafi." Arman ikut memeluk anak dan cucunya.
Suasana pun menjadi penuh haru.
"Sebaiknya sekarang korban kita bawa ke rumah sakit agar mendapatkan pertolongan medis," cetus seorang polisi.
Ketiga orang itu saling melepaskan pelukannya dan berjalan menuju mobil, jasad Datuk Dahlan juga telah dinaikkan ke dalam mobil pick up polisi.
Usai sudah drama penculikan dan penyanderaan yang berujung dengan matinya Datuk Dahlan, sekarang Anggi bisa bernapas lega karena akhirnya terbebas dari belenggu cinta pria posesif dan kasar itu.
***