
Setelah mengantarkan Sera kembali ke apartemen, Damar pun pulang ke rumah, namun Lusi dan Erick sudah menunggunya di ruang tamu.
"Mama? Papa? Kenapa belum tidur?" cecar Damar saat melihat kedua orang tuanya itu.
"Kamu masih berhutang penjelasan pada Mama dan Papa," ujar Lusi.
Damar mengernyit, "Penjelasan apa, Ma?"
"Tentang Dafi, apa yang sebenarnya terjadi di kafe tadi?" tanya Lusi yang masih penasaran, dia yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres.
Damar menghela napas sembari menjatuhkan dirinya di atas sofa, "Seperti biasa, Ma."
"Dafi tidak datang?" tebak Erick.
"Dia datang, Pa. Tapi begitu melihatku, dia langsung pergi lagi."
"Jadi kamu tidak sempat menyampaikan rencana pernikahan mu pada Dafi?" tanya Lusi lagi.
Damar mengangguk, "Aku langsung mengejar dia dan mengatakan semuanya, aku juga meminta dia untuk datang ke pernikahan ku, tapi katanya, dia tidak akan datang."
Lusi dan Erick saling pandang, mereka merasa miris dengan hubungan ayah dan anak itu. Dafi masih begitu keras kepala untuk memaafkan dan berbaikan dengan Damar.
Lusi beralih menatap sang putra yang terlihat murung, "Kamu tenang saja, Mama akan coba bicara pada Dafi. Mama akan membujuknya untuk datang ke pernikahan kamu."
"Tidak usah, Ma!" tolak Damar.
Lusi menautkan kedua alisnya, "Kenapa?"
"Aku tidak ingin memaksanya, biarkan saja jika dia tidak mau datang," sahut Damar sedikit kesal dengan dan penolakan Dafi tadi.
"Sayang, tapi dia itu putramu. Bagaimana pun juga dia harus menghadiri pernikahan ayahnya," tutur Lusi yang keberatan dengan sikap pasrah putranya semata wayangnya itu.
"Mama sudah! Kalau memang Damar bilang tidak usah, jangan dipaksa!" sela Erick menengahi, "lagipula Mama kan tahu seperti apa tabiat Dafi, dia itu keras kepala. Semakin dipaksa, dia akan semakin membangkang."
Lusi mengembuskan napas pasrah, "Ya sudahlah, terserah kalian saja."
"Yang terpenting Damar sudah menyampaikan kabar baik ini padanya, Damar juga sudah meminta dia untuk hadir. Dia mau datang atau tidak, itu terserah dia," lanjut Erick.
Lusi hanya bergeming dengan wajah sendu.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu, mau istirahat," ucap Damar.
"Iya, beristirahatlah!" balas Erick.
"Selamat malam, Pa, Ma."
"Selamat malam."
Damar beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan Lusi dan Erick yang masih terpaku di ruang tamu.
Erick lalu memandang istrinya itu, "Kita istirahat juga, yuk! Aku lelah!"
Lusi mengangguk dan menuruti sang suami.
***
"Kamu lagi memikirkan apa, sih? Apa ada masalah?" tanya Alvin ingin tahu.
Dafi menggeleng lemah, "Tidak ada."
Dia tak mau mengatakan yang sebenarnya, karena sejak dulu dia selalu merahasiakan apa yang terjadi dengan keluarganya. Dia bahkan mengatakan kepada semua orang jika sang ayah telah tiada, termasuk kepada Sera sekalipun.
"Lalu kenapa dari tadi kamu melamun terus?" tanya Alvin lagi.
"Paling juga dia bertengkar lagi dengan Luna, makanya galau begitu," ledek Marcell.
Dafi hanya menghela napas, dia tak membalas ledekan sahabatnya itu. Namun sangat kebetulan, Luna datang menghampiri mereka.
"Ternyata kamu di sini, aku cariin ke kost-kostan, kamu tidak ada. Dihubungi juga tidak bisa, kamu mau menghindari aku, ya?" sergah Luna tiba-tiba tanpa basa-basi.
"Cckk, apaan, sih? Datang-datang langsung marah-marah, buat kesal saja!" gerutu Dafi tak acuh, dia beranjak dan pergi begitu saja dari hadapan Luna.
Luna sontak menarik lengan kekasihnya itu, "Dafi, tunggu!"
Dafi menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Luna dengan malas, "Apa lagi?"
"Kamu itu sebenarnya kenapa, sih? Sikap kamu berubah, kamu cuek padaku. Bahkan aku marah dan ngambek saja, kamu tidak peduli. Mau kamu itu apa, sih?" sungut Luna kesal.
"Aku mau kita putus!" sahut Dafi, sembari melepaskan lengannya dari cengkeraman Luna, "jadi jangan ganggu aku lagi!"
Luna tercengang mendengar ucapan Dafi itu, begitupun dengan Alvin, Marcell dan beberapa pelanggan kafe yang duduk tak jauh dari mereka.
"Dafi, kamu ini bicara apa?" Luna bertanya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku rasa pendengaran mu masih berfungsi dengan baik, kan?" sindir Dafi sinis.
"Kamu tidak bisa mengakhiri hubungan kita begitu saja," bantah Luna.
"Siapa bilang?" Dafi mengangkat sebelah alisnya, "aku bisa mengakhirinya kapan pun aku mau."
Dafi pun bergegas pergi dari kafe tersebut.
"Dafi, tunggu! Aku tidak mau putus, Daf! Dafi!" Luna berteriak dengan berlinang air mata, membuat dirinya menjadi perhatian seluruh pengunjung kafe.
Alvin dan Marcell hanya terdiam, tak menyangka Dafi akan memutuskan wanita seksi itu di depan umum.
Dafi yang sedang galau merasa kesal dengan sikap Luna, emosinya seketika naik dan tak bisa dia kontrol, apalagi sebelumnya hubungan mereka memang sudah tidak harmonis seperti awal pacaran.
***
Hai, maaf ya kalau alurnya berjalan sedikit lambat, karena aku sedang menceritakan kehidupan beberapa tokohnya, jadi harap maklum kalau kisahnya tidak hanya fokus pada Sera doang.
Aku harap kalian masih setia mengikuti novel ini.☺️🙏🏼