
Damar menjemput Sera dan mengajak gadis itu ke kafe yang sudah ditentukan oleh Lusi.
"Nanti kamu jangan terkejut melihat sikap anak Om, dia agak sedikit cuek dan dingin." Damar memperingatkan.
"Iya, Om," jawab Sera yang memang sudah tahu bagaimana hubungan antara Damar dan sang putranya.
Keduanya pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kafe.
"Om, aku jadi deg-degan, deh. Aku takut anak Om marah padaku," ujar Sera sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang, mendadak dia merasa gugup.
"Kamu tenang dan santai saja."
Sera mengangguk, meskipun dia tidak bisa menghentikan kegugupannya.
Damar mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kafe, tapi Dafi sama sekali tak terlihat di sana, sepertinya sang putra belum datang atau mungkin tidak akan datang.
"Kita duduk di sana!" Damar menunjuk salah satu meja di sudut kafe.
Sera mengikuti arah tangan Damar, kemudian memandang lelaki itu, "Kalau begitu Om duduk duluan saja, aku mau ke toilet sebentar."
"Ya sudah, tapi jangan lama, ya!"
Sera kembali mengangguk lalu bergegas pergi ke toilet, dia sangat gugup sampai-sampai perutnya terasa sedikit mules.
Damar pun melangkah menuju meja yang dia tunjuk tadi, kemudian duduk di salah satu kursi yang menghadap ke pintu masuk kafe, agar bisa melihat kedatangan Dafi.
Tak berapa lama, Dafi pun datang, dia celingukan dan akhirnya melihat keberadaan Damar yang juga sedang menatapnya.
"Papa?" gumam Dafi, dia menatap tajam ke arah Damar sembari mengeraskan rahangnya.
Dafi merasa dibohongi oleh Lusi, karena tadi sang Oma mengatakan ingin bertemu dengannya tapi yang datang malah Damar. Dafi yang kesal pun bergegas pergi meninggalkan kafe itu.
Melihat Dafi pergi begitu saja, Damar sontak beranjak dari duduknya dan berlari mengejar sang putra sampai keluar kafe.
"Dafi, tunggu!" teriak Damar, tapi Dafi tak peduli dan terus melangkah.
"Dafi, Papa mau bicara! Tolong tunggu sebentar!" Damar menarik lengan sang putra.
Dafi langsung menepis kasar tangan Damar, kemudian berbalik dan menatap sinis papanya itu, "Apa mau Papa sampai menyuruh Oma membohongiku?"
"Papa ingin mengatakan sesuatu sekalian memperkenalkan seseorang padamu," jawab Damar.
Dafi mengernyitkan kening menatap Damar, menunggu sang ayah melanjutkan kata-katanya.
"Minggu depan Papa akan menikah, dan Papa ingin memperkenalkan calon istri Papa padamu," lanjut Damar tanpa basa-basi.
Dafi terdiam sejenak sambil mengepal kuat tangannya, dia merasa kecewa dan keberatan jika sang ayah menikah, sebab jauh di dalam hatinya dia masih berharap kedua orang tuanya bisa bersama lagi, meskipun kini sang ibu juga telah menikah.
"Papa tidak perlu menyampaikan kabar ini dan memperkenalkan calon istri Papa itu kepadaku, karena aku tidak peduli," sahut Dafi tak acuh, dia lalu berbalik dan hendak pergi, namun kata-kata Damar mengehentikan langkahnya.
"Jangan menunggu ku, karena aku tidak akan datang!" pungkas Dafi dingin, kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Damar dan kafe itu. Dia berusaha menahan perasaan sedih di hatinya agar terlihat tegar dan tak peduli di hadapan sang ayah.
Damar hanya bisa mengembuskan napas berat melihat kepergian Dafi, dia tahu ini akan terjadi, dia sudah bisa menduga jika sang putra pasti tidak memberikan respon yang baik padanya.
Ponsel Damar tiba-tiba berdering, dia buru-buru mengeluarkan benda pipih itu dari dalam saku celana, ternyata Sera yang menelepon.
Damar tahu gadis itu pasti sedang mencarinya saat ini, dengan perasaan sedih bercampur kesal, dia kembali masuk ke dalam kafe. Dan benar saja, Sera sudah berdiri di dekat meja yang dia tunjuk tadi sambil celingukan ke sana kemari. Damar pun bergegas menghampiri Sera yang terlihat kebingungan.
"Om dari mana?" tanya Sera.
"Dari parkiran," jawab Damar singkat.
"Ngapain?"
"Menemui anak Om."
"Loh, dia sudah datang? Mana?" Sera celingukan ke sana-ke mari.
"Sudah pergi lagi."
Sera memandang Damar dengan alis yang menaut, "Kok pergi? Kenapa tidak menunggu ku, Om?"
"Dia masih ada urusan lagi, jadi dia tidak bisa menunggu," kilah Damar, dia tak ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Sera menghela napas dengan kecewa, "Ya sudah, deh."
"Kalau begitu, yuk! Kita masih harus bertemu Papa lagi." Damar mengalihkan pembicaraan.
"Tapi aku takut, Papa Om galak tidak?" Tanya Sera penuh selidik.
Damar tersenyum, "Tidak, Papa itu orangnya asyik dan baik. Jadi kamu santai saja, jangan takut!"
"Baiklah."
Keduanya pun pergi meninggalkan kafe itu tanpa sempat memesan apa pun, sebab mereka sudah ada janji bertemu dengan ayahanda Damar.
Sementara itu, Dafi yang tengah emosi memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, dia merasa seolah kedua orang tuanya kini benar-benar ingin meninggalkannya. Pertama sang ibu yang memutuskan menikah lagi dengan seorang pria berkebangsaan Malaysia dan lebih memilih tinggal bersama suaminya itu alih-alih dirinya, dan sekarang sang ayah juga akan menikah lagi. Kedua orang tuanya itu akan memiliki keluarga dan kebahagiaan baru, sementara dirinya hanya sendiri di dalam kesepian.
"Kalian semua sama saja! Aku benci kalian!" kecam Dafi geram, hatinya benar-benar marah.
Dia merasa tak ada satupun orang yang peduli dengan perasaannya saat ini, tak ada yang mengerti keinginannya. Semua orang sibuk mengejar kebahagiaan mereka tanpa sedikitpun memikirkan dirinya yang sebenarnya sangat terluka dengan apa yang terjadi. Perpisahan kedua orang tuanya adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya, tapi semua orang seolah mengabaikan lukanya itu.
Dafi terus memacu sepeda motornya membelah jalanan ibukota, tanpa terasa setetes cairan bening jatuh dari matanya.
***