My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 17.



Sesuai janjinya pada sang ibunda, malam ini dengan terpaksa Damar menemui wanita yang bernama Sarah itu. Dia berjalan memasuki lobi hotel Antares, seorang wanita cantik dan glamor sudah menunggunya dengan senyum mengembang. Damar tahu itu Sarah, karena Lusi sudah mengirimkan fotonya.


"Hai, Damar," sapa Sarah ramah.


"Hai," balas Damar dengan wajah datar.


"Senang bertemu denganmu, Tante Lusi sudah cerita banyak tentang kamu," ujar Sarah.


"Oh, ya? Baguslah kalau kalau begitu, jadi aku tidak perlu repot-repot memperkenalkan diri lagi," sahut Damar tak acuh, senyum Sarah langsung memudar.


Sarah sebenarnya tertarik dengan Damar, apalagi dia tahu lelaki itu kaya dan mapan. Tapi melihat sikap dingin Damar, dia jadi merasa kecewa. Padahal yang dia dengar dari Lusi jika putranya itu baik dan hangat, namun yang dia lihat tidak seperti itu.


Sedangkan Damar yang melihat penampilan Sarah, tahu jika dia wanita kelas atas yang punya selera tinggi. Damar justru mendapatkan ide untuk membuat wanita itu ilfil padanya dan menolak perjodohan ini.


"Apa kita akan terus berada di sini?" ledek Damar.


Sarah tertawa mendengar ledekan Damar itu, "Memang enaknya ke mana? Aku tidak hapal tempat-tempat di Jakarta."


"Kalau begitu ikut aku!"


Sarah mengernyit, "Ke mana?"


"Sudah, ikut saja!"


"Baiklah."


Keduanya bergegas meninggalkan hotel, Damar memacu mobilnya menuju pujasera yang kemarin dia datangi bersama Sera dan Yuni.


Setengah jam kemudian mereka tiba, Sarah terkesiap melihat tempat sederhana yang ramai dipenuhi pengunjung itu, sangat kontras dengan penampilannya yang glamor dan mewah.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Sarah.


"Karena aku suka tempat ini, yuk!" Damar melangkah meninggalkan Sarah yang masih terpaku dengan wajah bingung.


Melihat Damar semakin menjauh, Sarah pun bergegas menyusulnya. Dengan penampilan seperti itu, Sarah menjadi pusat perhatian pengunjung lain, rasanya tidak cocok dia yang mengenakan gaun terbuka nan mewah serta heels yang tinggi berjalan di tempat itu. Sementara Damar dengan santainya melenggang di depan Sarah, dia seperti tak memedulikan wanita itu, membuat Sarah sedikit kesal.


Damar berhenti di salah satu stand yang menjual telur gulung lalu membelinya, dia juga membeli ceker mercon dan gak lupa dua botol air mineral. Sarah hanya mengikuti Damar dengan wajah masam, dia juga merasa risi sebab orang-orang terus memandangnya.


"Kita duduk di sana!" Damar menunjuk sebuah meja dengan dua kursi kosong, dan langsung mendatangi tempat itu. Sementara Sarah hanya membuntutinya pasrah.


Mereka berdua duduk berhadapan, Damar segera membuka bungkusan telur gulung yang dia beli tadi lalu memakannya. Sebenarnya dia tidak terlalu suka kedua jajanan tersebut, namun dia terpaksa memakannya.


"Makanlah!" Damar menawarkannya ke Sarah.


Wanita itu hanya terdiam menatap Damar, dia tahu Damar sengaja melakukan semua ini untuk membuat dirinya kesal dan ilfil. Tapi Sarah tidak ingin kalah, dia pun meladeni permainan lelaki itu. Dengan santai dia mengambil satu tusuk telur gulung dan memakannya, Damar sempat meliriknya namun kemudian mengalihkan pandangan.


"Hem, enak juga!" seru Sarah sambil mengunyah makanan itu di mulutnya.


Damar menyeringai, kemudian membuka bungkusan ceker mercon di hadapannya.


"Ini juga enak." Damar mengambil sepotong ceker yang berlumuran sambal dengan tangan kosong, lalu memakannya. Bahkan dia menjilati tangannya yang terkena sambal.


Sarah sempat merasa jijik melihat tingkah Damar itu, tapi dia tak mau menyerah begitu saja.


"Aku coba, ya?"


"Silakan!"


Sarah pun ikut mengambil ceker mercon dengan tangannya, dia mengikuti apa yang Damar lakukan tadi.


"Hem, pedas, tapi enak." Sarah kembali mengambil ceker mercon itu.


Damar mengernyit, dia tak menyangka wanita sosialita seperti Sarah mau melakukan hal itu juga.


"Di sini seru juga!" Sarah mengedarkan pandangannya sambil menenggak air mineral.


"Hem." Damar hanya berdeham tanpa ekspresi, dari tadi dia sama sekali tidak terlihat senang dan Sarah menyadari itu.


"Setelah ini kita mau ke mana lagi?" tanya Sarah.


"Pulang, aku lelah," jawab Damar yang langsung beranjak dari duduknya dan lagi-lagi meninggalkan Sarah begitu saja.


Wajah Sarah kembali berubah masam, dia benar-benar kesal dengan sikap Damar itu, jelas kalau lelaki tersebut tidak tertarik padanya.


Sarah berjalan cepat dan segera masuk ke dalam mobil Damar, mereka kemudian meninggalkan pujasera itu. Selama di perjalanan, keduanya diam membisu, tak ada percakapan sama sekali, sampai mobil sedan mewah Damar berhenti di depan Antares Hotel.


Namun meskipun mobil Damar sudah berhenti, Sarah tetap tidak turun, dia menatap lelaki itu dengan kecewa.


"Apa susahnya sih kamu bilang, kalau kamu tidak menyukai aku? Tidak perlu melakukan semua ini untuk membuat aku ilfil," ujar Sarah menohok.


"By the way, yang tadi itu menyenangkan, kok. Terima kasih, ya. Selamat malam." Sarah pun turun dari mobil Damar dengan perasaan kesal bercampur kecewa.


Damar tak menjawab apa pun, dia hanya menghela napas dan kemudian melaju meninggalkan hotel tersebut. Dia tak peduli Sarah akan berpikir apa tentang dirinya, dia hanya tak ingin terikat dengan siapa pun.


***


Damar pulang ke rumah, namun dia terkesiap saat melihat Yuni masih menonton film di televisi.


"Eh, Oppa sudah pulang."


"Kamu kenapa belum tidur, Yun?"


"Nanggung, Oppa. Sedikit lagi filmnya selesai," sahut Yuni.


Pandangan Damar teralihkan ke Sera yang sudah tertidur di sofa, "Kenapa Sera tidur di situ?"


"Tadi dia mau ikut menonton, tapi malah tidur."


Damar mengembuskan napas, dia melangkah mendekati Sera lalu mengangkat gadis itu, "Biar aku pindahkan ke kamar saja."


"Nde, Oppa," balas Yuni tak acuh, matanya masih fokus ke televisi.


Damar membawa Sera ke kamar, gadis itu tetap terlelap di dalam gendongannya.


Begitu berada di dalam kamar, Damar membaringkan Sera di atas ranjang, membuat jarak wajah mereka sangat dekat. Sejenak lelaki berparas rupawan itu terpana memandangi wajah cantik Sera yang sedang tertidur pulas, dan lagi-lagi perasaan aneh itu datang menyerang hati Damar. Dia pun segera menjauh dari Sera dan memegangi dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang.


"Sebenarnya aku ini kenapa?" Damar bertanya-tanya sendiri sambil terus memandangi wajah Sera.


"Ini pasti karena sudah lama tidak tersalurkan, otak dan perasaanku jadi kacau!" gerutu Damar.


Dia pun menyelimuti Sera dan buru-buru keluar dari kamar gadis itu.


***


Di kamar hotel, Sarah yang baru saja mengganti pakaiannya terkejut saat Lusi menelepon. Dia bisa menebak, pasti wanita paruh baya itu ingin bertanya bagaimana pertemuannya dengan Damar tadi.


"Halo, Tante," sapa Sarah ramah.


"Hai, Sarah. Bagaimana tadi? Damar datang, kan?"


"Datang, Tan," jawab Sarah.


"Terus kalian ke mana?"


"Dia mengajak aku ke Pujasera."


"Kenapa ke Pujasera? Kok tidak ke restoran?"


"Kata Damar dia suka ke tempat itu," sahut Sarah.


"Sejak kapan dia suka tempat begituan?"


Sarah bergeming, dia tahu jika Damar berbohong tadi.


"Lalu dia bilang apa? Maaf, ya .... Tante kepo ini."


Sarah tertawa, "Tidak apa-apa, Tante. Kami tidak banyak bicara, Damar lebih banyak diam."


"Mungkin dia malu."


"Bukan karena itu, Tan. Damar tidak menyukaiku, aku bisa melihat dari sikap dinginnya dan cara dia memandangku," keluh Sarah.


"Kamu pasti salah paham, nanti Tante coba biacara dengan dia."


"Tidak usah, Tan. Tidak apa-apa, kok."


"Sarah, atas nama Damar, Tante minta maaf, ya. Kamu kan sudah tahu masa lalu Damar seperti apa, jadi Tante harap kamu sabar."


"Iya, Tante."


"Ya sudah, Tante tutup dulu, ya. Selamat malam, sayang."


"Selamat malam, Tante."


Setelah Lusi menutup teleponnya, Sarah pun menghela napas panjang.


***