My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 33.



Damar sedang fokus mendengarkan salah seorang karyawannya menyampaikan ide pembangunan proyek besar dalam rapat, tiba-tiba ponselnya bergetar, tapi dia mengabaikannya. Namun benda pipih itu terus saja bergetar, membuat Damar kesal sendiri.


Begitu rapat selesai, dia langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan terkesiap saat tahu ternyata dari tadi yang menelepon itu adalah sang mama.


"Ada apa Mama menghubungiku sampai berulangkali?" batin Damar bertanya-tanya, dia pun buru-buru menghubungi balik.


"Halo, Ma," sapa Damar saat teleponnya terhubung ke Lusi.


"Kamu ngapain saja, sih? Dari tadi Mama telepon susah banget!"


"Tadi aku sedang rapat, Ma. Memangnya ada apa Mama menelpon? Apa ada masalah?" tanya Damar penasaran, dia sedikit khawatir sang mama mengetahui tentang Sera.


"Mama cuma mau bilang, nanti kamu pulang cepat, ya. Mama mau ajak kamu pergi."


"Ke mana, Ma?"


"Hari ini Tante Elin datang ke Jakarta, Mama ingin ajak kamu bertemu dengannya, sekalian membahas hubungan kamu dan Sarah."


Damar mengernyit, "Apa maksud Mama?"


"Mama sudah putuskan untuk melanjutkan perjodohan kamu dengan Sarah, Mama ingin kalian segera menikah."


Damar tercengang dan langsung tersulut emosi, "Mama apa-apaan, sih? Kenapa seenaknya memutuskan semua ini tanpa bicara dulu padaku?"


Riko yang kebetulan masih berada di dekat Damar hanya diam mendengarkan atasannya itu bicara dengan nada tinggi, dia bisa menebak pasti terjadi sesuatu.


"Damar, kita sudah bicarakan ini sebelumnya. Mama memberikan kamu kesempatan untuk memilih calon istrimu sendiri, tapi nyatanya kamu hanya main-main saja. Jadi mau tidak mau, Mama harus memaksamu."


"Ma, tapi aku tidak mencintai Sarah. Tolong jangan memaksaku!" ujar Damar penuh harap.


"Kalau begitu nikahi wanita yang kamu cintai itu!"


Damar terdiam mendengar permintaan sang mama.


"Kenapa diam? Kamu tidak mau menikahi Sera, kan?"


"Mama kan tahu kami belum ingin menikah," bantah Damar gemas dengan sikap keras kepala sang mama.


"Damar, hampir dua puluh tahun kamu hanya membuang-buang waktu dengan wanita-wanita tidak jelas, sementara umurmu terus bertambah. Kamu bukan anak remaja lagi, kamu sudah dewasa dan mapan, jadi apalagi yang kamu takutkan?"


"Ma, sudahlah, hentikan semua ini!" Damar memelas.


"Mama tidak mau tahu, pokoknya kamu cepat pulang dan temani Mama bertemu Tante Elin!"


Lusi langsung menutup telepon sebelum Damar sempat mengatakan apa pun lagi.


Riko terkejut melihatnya, dengan hati-hati dia pun bertanya pada atasannya itu, "Anda kenapa? Ada masalah, Pak?"


Damar mengembuskan napas berat, "Mama memaksaku menikah dengan Sarah, dan hari ini dia mengajakku bertemu dengan orang tua wanita itu."


"Loh, tapi bukannya kemarin anda sudah berhasil membuat wanita itu menolak perjodohan ini? Kenapa sekarang berubah lagi?"


Damar pun akhirnya menceritakan semuanya kepada Riko, membuat bawahannya itu terkejut.


"Mengapa jadi begini?" Riko ikutan bingung.


"Ini semua gara-gara ide gila mu itu, semua jadi kacau!" rutuk Damar.


"Lah, kenapa sekarang anda menyalahkan saya, Pak?" protes Riko tidak terima.


"Iya, lah. Kalau aku tidak mengikuti idemu itu, Mama tidak akan pulang ke Jakarta dan bertemu Sera sebagai kekasihku. Masalahnya tidak akan serumit ini."


"Tapi kan ide saya sempat berhasil, Pak," balas Riko.


"Iya, tapi akibatnya juga jadi semakin parah! Sekarang Mama turun tangan langsung untuk menjodohkan aku dan Sarah." Damar memijat kepalanya yang mulai berdenyut karena memikirkan hal ini.


"Anda kan bisa menolak, Pak."


"Tidak segampang itu, Riko! Dia akan marah besar jika aku terus menentangnya, aku takut penyakitnya kambuh dan kalau pun aku berhasil menolak perjodohan dengan Sarah, dia pasti akan menjodohkan aku dengan wanita-wanita lain pilihannya lagi. Aku bisa stres, Ko!" adu Damar frustasi.


"Kalau begitu kenapa anda tidak menikah saja?" ujar Riko enteng.


Damar sontak melirik tajam bawahannya itu, "Kamu kan sudah tahu alasannya, kenapa masih bertanya?"


Riko terdiam, dia tentu tahu alasan Damar selama ini betah menduda. Tapi tiba-tiba sebuah ide kembali muncul di kepalanya.


"Bagaimana kalau anda dan Sera pura-pura menyetujui permintaan mama anda untuk menikah," cetus Riko kemudian.


Damar tercengang dan langsung menggeleng, "Tidak! Aku tidak mau!"


"Cuma itu satu-satunya cara agar mama anda berhenti menjodohkan anda dengan Sarah, Pak. Lagian ini kan hanya pura-pura, bukan sungguhan!"


"Iya, tapi aku takut menimbulkan masalah baru, Ko."


"Pak, mama anda sebentar lagi pasti kembali ke Italia, dia tidak akan mengurusi anda lagi di sini, jadi tidak akan ada masalah. Yang terpenting sekarang perjodohan anda dan Sarah batal dulu, baru selanjutnya anda pikirkan alasan anda dan Sera berpisah," terang Riko.


Damar tercenung memikirkan ide yang disampaikan oleh Riko itu, dia masih menimbang-nimbang keputusan apa yang akan dia ambil.


***