
Hari sudah gelap dan sepertinya malam ini akan turun hujan, mobil Damar pun tiba di basemen apartemen, namun Sera sudah tertidur pulas karena terlalu lelah.
"Sera, sudah sampai." Damar berusaha membangunkan Sera, tapi tidak ada respon sama sekali.
Damar lalu mendekati Sera dan mengguncang pelan tubuh gadis itu, "Sera, bangun!"
Bukannya bangun, Sera hanya menggeliat lalu tertidur lagi dengan posisi wajah menghadap Damar, membuat bibir keduanya berjarak hanya beberapa sentimeter saja.
Damar tertegun, matanya terfokus pada bibir ranum berwarna merah milik Sera. Hati Damar mendadak bergetar.
Tapi tiba-tiba ponselnya berdering, membuat dia tersadar dan segera menjauh dari Sera.
Karena ponsel Damar berdering, Sera pun akhirnya terbangun, dia meregangkan otot-ototnya sambil menguap.
Melihat gadis itu sudah bangun, Damar mendadak canggung dan salah tingkah. Dia pun segera menjawab telepon dari Lusi itu.
"Halo, Ma," sapa Damar sambil melirik Sera yang kini menatapnya dengan malas.
"Sayang, besok kamu dan Sera pulang ke rumah, kan?"
"Iya, Ma. Besok kami pulang ke rumah," sahut Damar.
"Pukul berapa?"
"Mungkin agak siang, Ma."
"Ya sudah, Mama cuma mau memastikan saja. Selamat malam pertama, sayang."
Lusi terkekeh lalu mengakhiri pembicaraan sebelum Damar sempat membalas ucapannya.
Damar tersenyum kecut mendengar kata-kata terakhir sang mama itu, mana mungkin ada malam pertama dalam pernikahan pura-pura ini.
"Ada apa, Om?" tanya Sera yang sedari tadi memperhatikan Damar.
Damar seketika menoleh ke arah Sera dengan sedikit gugup, "Hem, Mama tanya besok kita pulang ke rumah pukul berapa?"
"Oh, jadi besok kita pulang ke rumah Om?"
"Iya, karena lusa Papa akan kembali ke Italia," jawab Damar.
"Baiklah, kalau begitu nanti aku akan membereskan barang-barang ku."
Damar memaksakan senyuman demi menutupi rasa canggungnya, "Ya sudah, yuk!"
Damar bergegas keluar dari mobil, Sera pun menyusul suaminya itu, dia sebenarnya masih mengantuk tetapi terpaksa harus bangun dan berjalan ke apartemen.
Sera berjalan pelan di belakang Damar yang melangkah cepat meninggalkannya, dia memperhatikan lelaki itu dan kembali teringat pada Dafi.
"Om Damar dan Dafi. Aku masih tidak menyangka kalau mereka itu adalah ayah dan anak. Jadi selama ini Dafi begitu membenci Om Damar, sampai dia menganggap papanya itu sudah mati. Bagaimana kalau dia tahu sekarang aku ini istri papanya?" Batin Sera gelisah.
Begitu tiba di apartemen, Sera langsung masuk ke dalam kamar dan membereskan barang-barangnya. Sedangkan Damar memilih duduk di ruang tamu sambil bermain ponsel, dia mengirim pesan kepada Riko dan menanyakan keadaan Ferdi dan Jamal.
Setengah jam kemudian, Sera pun selesai beres-beres, dia lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur, namun tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Apartemen ini kan cuma ada satu kamar, terus Om Damar tidur di mana? Masa sekamar denganku?"
Sera pun bangkit dan memutuskan untuk keluar dari kamar, dia menghampiri Damar yang masih fokus pada ponselnya.
"Om."
Damar mendongak menatap Sera, "Iya, ada apa?"
"Apartemen ini kan cuma ada satu kamar, kalau aku tidur di kamar, terus Om tidur di mana?" tanya Sera.
"Om tidur di ruang tamu saja," jawab Damar kemudian mengalihkan pandangannya ke ponsel lagi.
"Tidak apa-apa, Om?" Sera merasa sungkan.
"Ya sudah, kalau begitu aku ambilkan bantal dan selimut dulu."
Sera bergegas kembali ke kamar. Tak berapa lama, dia balik lagi sambil membawa sebuah bantal dan selimut.
"Ini, Om." Sera menyodorkan bantal dan selimut yang dia bawa.
"Letak di sini saja!" Damar menepuk kursi di sebelahnya.
Sera meletakkan bantal dan selimut itu dengan perasaan bingung, sebab sejak dari basemen tadi Damar terlihat acuh tak acuh padanya.
"Kalau begitu aku tidur dulu, Om," ucap Sera.
"Hem."
Sera meninggalkan Damar sambil bertanya-tanya dalam hati, "Om Damar kenapa, sih? Tidak biasanya cuek begitu, apa dia lagi ada masalah? Tapi tadi dia baik-baik saja, kok."
Dia pun masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu, namun saat hendak melangkah ke ranjang, tiba-tiba petir menyambar dan lampu pun padam. Tak lama kemudian hujan turun dengan deras.
Sera yang terkejut sontak berteriak sembari menutup mata juga telinganya.
Damar langsung berlari dan membuka pintu kamar saat mendengar suara teriakkan Sera, dia menggunakan lampu senter ponselnya untuk penerangan.
"Sera, kamu baik-baik saja?" tanya Damar cemas.
Sera membuka mata dalam gelap, begitu samar-samar melihat Damar berdiri di ambang pintu, dia seketika berlari dan langsung memeluk lelaki itu.
"Aku takut, Om."
Damar tertegun, jantungnya lagi-lagi berdebar tak karuan karena Sera memeluknya dengan sangat erat. Ragu-ragu dia pun membalas pelukan gadis itu.
"Jangan takut, ada Om di sini." Damar berusaha menenangkan Sera yang gemetar ketakutan.
Tak lama kemudian lampu kembali menyala dan suasana seketika terang benderang.
"Lampunya sudah menyala," ujar Damar.
Sera melepaskan pelukannya dan menjauh dari Damar, "Aku kaget dan takut banget tadi, hampir saja aku pingsan."
"Tapi sekarang sudah tidak takut lagi, kan?"
"Masih, Om. Aku takut ada petir dan mati lampu lagi," tutur Sera.
"Jangan takut, kan Om ada di luar. Sekarang kamu tidur, ya!"
Sera menggeleng, "Tidak, aku mau tidur di ruang tamu saja dengan Om."
Damar termangu mendengar permintaan istrinya itu.
"Bolehkan, Om?" rengek Sera. Damar pun akhirnya mengangguk.
Sera bergegas mengambil bantal dan membawanya ke ruang tamu. Dia menyusun bantal di atas sofa, kemudian merebahkan dirinya.
Damar hanya memperhatikan tingkah gadis itu tanpa berkomentar sedikit pun.
"Aku tidur duluan, ya, Om. Selamat malam," ucap Sera.
"Selamat malam," balas Damar pelan.
Tak butuh waktu lama, Sera sudah terlelap dengan posisi meringkuk, terdengar suara dengkuran halus keluar dari mulutnya.
Dengan penuh perhatian Damar menyelimuti Sera, dan lagi-lagi matanya tertuju pada bibir merah gadis itu yang sedikit terbuka. Entah mengapa hal tersebut membuat hasrat di dalam dirinya sedikit terpancing.
Damar menggeleng demi menepis pikiran-pikiran kotor yang mulai merasukinya, dia tak ingin khilaf. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dia memutuskan untuk tidur berjauhan dari Sera.
***