My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 83.



Selepas Sera dan Yuni pergi, Riko kembali mengulang pertanyaannya, "Sebenarnya ada apa, Pak? Kenapa anak anda bisa terjatuh dari tangga?"


Damar lalu menceritakan semuanya sehingga kecelakaan ini bisa sampai terjadi, Riko terkejut setengah mati mendengar semua itu dan sekarang dia tahu alasannya kenapa mata Sera bengkak seperti habis menangis.


"Jadi mereka bukan cuma sekedar teman sekolah tapi pernah pacaran juga?"


Damar mengangguk lesu, "Iya, dan aku merasa kecewa sekali karena Sera berbohong."


"Ini benar-benar mengejutkan." Riko merasa syok.


"Hem. Aku sungguh tidak menyangka jika putraku lah lelaki yang telah mengkhianati dan menyakiti Sera, pantas saja waktu itu Sera mengatakan jika mantannya juga alergi kacang, sama seperti ku."


"Berarti ini alasannya anak anda tiba-tiba bertingkah aneh, bahkan sampai mau tinggal bersama anda segala, ternyata karena Sera," tebak Riko.


"Iya, Dafi masih mencintai Sera dan dia tidak rela aku menikah dengan gadis itu."


Riko terkesiap, "Wah, masih cinta tapi disakiti, giliran sudah menikah dengan papanya, baru kebakaran jenggot. Anak anda benar-benar aneh, persis ayahnya."


"Riko!" bentak Damar.


"Maaf-maaf, Pak. Saya keceplosan," ucap Riko sambil cengengesan, "Jadi sekarang bagaimana?"


Damar mengernyit, "Bagaimana apanya?"


"Pernikahan anda dan Sera. Bukankah putra anda sudah tahu semuanya, bagaimana kalau dia membongkar rahasia ini pada Mama anda? Anda dan Sera bisa terkena masalah."


Damar mengembuskan napas berat, "Aku akan bicara pada Dafi dan meminta dia untuk tutup mulut."


"Anda yakin dia bersedia melakukanya?"


"Entahlah, tapi aku harap dia mau membantuku kali ini," balas Damar.


"Aku juga sudah putuskan untuk segera mengakhiri pernikahan ku dengan Sera?" lanjut Damar sedih.


"Kenapa?"


"Karena aku tidak ingin menyakiti putraku sendiri, aku tahu Dafi masih mencintai Sera dan begitu juga sebaliknya," ujar Damar, dia berpikir Sera juga masih mencintai Dafi karena gadis itu terlihat sangat mencemaskan sang putra dan hatinya merasa perih saat mengingat hal itu.


"Lalu alasan apa yang akan anda katakan pada mama anda?"


"Masih aku pikirkan," jawab Damar lesu.


"Saya akan membantu anda, Pak."


Damar mengangguk dan memaksakan senyuman. Sebenarnya dia merasa tidak rela membayangkan harus berpisah dari Sera, tapi dia tak punya pilihan, dia tak ingin hubungannya dan Dafi semakin buruk karena hal ini.


***


Keesokan paginya, Dafi yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan pun akhirnya sadar, dia terbangun dan merasa bingung melihat sekelilingnya, sepertinya dia belum mengingat apa yang terjadi.


"Aku di mana? Akh ...." Dafi hendak bangkit, namun kepalanya mendadak sakit.


Mendengar pekikan Dafi, Damar yang tertidur di sisi ranjang sang putra pun tersentak bangun dan seketika cemas, "Dafi, kamu kenapa?"


"Kepalaku sakit!" Dafi mengadu sembari memegangi kepalanya yang diperban.


"Kalau begitu kamu tunggu di sini! Papa panggil dokter dulu." Damar beranjak dan buru-buru berlari keluar dari ruangan itu.


Dafi tertegun memandangi kepergian Damar, dia bisa merasakan kecemasan dan kepedulian yang besar dari sang ayah.


Tak berapa lama, Damar pun kembali bersama seorang dokter dan perawat, mereka langsung memeriksa keadaan Dafi.


"Sudah mulai membaik, kita hanya tinggal menunggu pemulihannya saja."


Damar menghela napas lega, "Syukurlah, kalau begitu."


"Nanti perawat akan menggantikan perban di kepalanya, sebab lukanya berdarah lagi. Jadi saya minta jangan terlalu banyak bergerak dulu, ya."


Damar mengangguk, "Iya, Dok. Terima kasih."


"Kalau begitu saya permisi." Dokter dan perawat itu meninggalkan ruang perawatan Dafi.


Damar lalu mendekati Dafi, "Papa sangat cemas saat mendapat kabar dari Yuni jika kamu terjatuh dari tangga."


Dafi pun mengingat apa yang terjadi semalam dan seketika dia sadar bahwa Sera tidak ada.


"Sera mana? Dia tidak jadi pergi, kan?"


"Tidak, Sera sudah Papa suruh pulang ke rumah bersama Yuni," sahut Damar, dia merasa canggung tapi berusaha bersikap biasa saja.


Dafi mengembuskan napas lega, dia tenang sebab Sera tidak jadi pergi.


"Daf, Papa boleh tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Sejak kapan kamu tahu jika Papa dan Sera hanya bersandiwara?" tanya Damar.


"Belum lama ini."


"Dari mana kamu mengetahuinya?"


"Papa tidak perlu tahu, yang pasti sumbernya terpercaya."


"Kenapa kamu tidak langsung melabrak Papa? Kenapa harus pura-pura tidak tahu? Begitu juga saat di restoran waktu itu, kenapa kamu tidak mengatakan siapa Sera yang sebenarnya?" Damar mencecar pertanyaan dengan sedikit emosi.


"Tadinya aku ingin Sera mengakuinya sendiri, tapi tidak disangka malah seperti ini," dalih Dafi, "Semuanya terbongkar tanpa rencana."


"Kalau begitu, Papa minta tolong padamu untuk merahasiakan semua ini. Jangan katakan kepada siapa pun terutama Oma dan Opa!"


Dafi menyeringai, "Aku akan merahasiakannya, tapi dengan satu syarat."


Damar menautkan kedua alisnya, "Syarat?"


"Ceraikan Sera!" pinta Dafi tegas.


Damar sempat tertegun mendengar permintaan Dafi itu, tapi kemudian dia mengangguk setuju, "Iya, Papa memang akan menceraikannya."


"Baiklah, aku akan merahasiakan semua ini. Tapi kalau Papa ingkar janji, jangan salahkan aku jika rahasia ini tersebar," ancam Damar.


Damar hanya bergeming menatap tajam Dafi, dia benar-benar terperangkap saat ini. Kalau boleh jujur, dia kesal pada Dafi karena berani mengancamnya, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa selain mengalah karena sekarang kartu as nya ada di tangan sang putra. Dia tak ingin kedua orang tuanya sampai tahu rahasianya dan hubungannya dengan Dafi jadi rusak lagi.


Tiba-tiba pintu ruang perawatan Dafi terbuka, wanita cantik yang tak lain adalah Anggi menerobos masuk dengan raut wajah cemas.


"Dafi, anakku sayang!"


Dafi terkesiap, "Mama?"


***