
Setelah tiba di rumah, Sera langsung masuk ke kamar karena beralasan ingin mengganti pakaian, sedangkan Damar masih mengobrol di ruang tamu bersama Lusi dan juga Erick.
Sera duduk termenung di tepi ranjang. Dia memandangi foto Damar yang sedang menggendong Dafi kecil, hatinya kian merasa galau.
"Kenapa ini harus terjadi padaku?" ucap Sera lirih.
Namun ponsel Sera tiba-tiba bergetar, ada sebuah pesan chat di akun media sosialnya dari Dafi. Dengan tangan gemetar dia membuka dan membaca isi pesan tersebut.
"KENAPA HARUS PAPAKU? APA INI CARAMU UNTUK BALAS DENDAM? KALAU BEGITU SELAMAT! KAU SUDAH BERHASIL MELUKAIKU."
Sera tercengang, air matanya seketika jatuh menetes, dia tak menyangka Dafi akan menuduhnya seperti itu.
Di saat bersamaan Damar mengetuk pintu kamar, "Sera, kamu sedang apa? Boleh masuk?"
Sera buru-buru mengusap air matanya, lalu membalas Damar, "Iya, silakan, Om."
Pintu kamar pun terbuka, Damar terkesiap melihat Sera masih memakai baju yang tadi.
"Loh, katanya mau ganti baju?"
"Oh, ini baru mau ganti, Om." Sera bergegas mengambil piyamanya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Damar hanya memandangi Sera yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
Dia pun melepas sepatunya dan duduk di sofa, tak bisa dipungkiri hatinya masih merasa sedih atas sikap Dafi tadi. Tapi dia berusaha terlihat biasa saja di hadapan semua orang.
Tak berapa lama Sera pun keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama bermotif bunga, dia juga sudah menghapus riasan di wajahnya.
"Ya sudah, sebaiknya sekarang kamu tidur, karena besok kita akan berangkat pagi-pagi!" pinta Damar.
Sera mengerutkan keningnya, "Tidur di mana, Om?"
"Ya di kamar ini, memang mau di mana lagi? Di rumah ada Mama dan Papa, kita tidak mungkin pisah kamar."
Sera tertegun dengan wajah tegang, mendadak hatinya merasa cemas dan resah jika harus tidur sekamar dengan Damar.
"Tidur satu kamar dengan Om Damar? Bagaimana kalau dia khilaf dan melakukan yang tidak-tidak padaku?" batin Sera.
Melihat ekspresi wajah Sera, Damar pun mengerti kecemasan gadis itu, "Om tidak akan macam-macam, jadi kamu tenang saja."
Wajah Sera sontak merah, karena Damar ternyata tahu isi hati dan pikirannya.
"Lagian Om juga tidak selera dengan anak kecil sepertimu," lanjut Damar sambil berlalu masuk ke kamar mandi.
Sera spontan melotot mendengar Damar mengatainya anak kecil, "Aku juga tidak mau dengan Om-om."
"Enak saja dia ngatain aku kecil!" sungut Sera kesal.
Di dalam kamar mandi Damar hanya tertawa mendengar balasan Sera, dia lantas memandangi cermin wastafel dan mengamati dirinya.
"Dia belum tahu saja rasanya Om-om, apalagi yang ganteng dan perkasa seperti aku," ujar Damar penuh percaya diri.
Sepuluh menit kemudian, Damar keluar dari kamar mandi, tapi dia tak menemukan sosok Sera
"Ke mana dia?" Damar bertanya pada dirinya sendiri.
"Ah, palingan juga menemui Yuni. Biarkan sajalah."
Damar mengabaikan gadis itu, kemudian mengambil bed cover dari dalam lemari, dan membentangkannya di dekat ranjang.
Setelah selesai, dia pun mengambil bantal dan berbaring di atas bed cover tersebut sambil bermain ponsel.
***
Sera sengaja keluar dari kamar karena hendak bertemu Yuni, dia ingin mengadukan apa yang terjadi di restoran tadi pada asisten rumah tangga Damar itu.
"Sera, ada apa kamu malam-malam ke sini?" tanya Yuni bingung sebab Sera datang ke kamarnya padahal sudah pukul sebelas malam.
"Ada yang mau ceritakan pada Eonni."
"Tadi di restoran ada Dafi, dan kami akhirnya bertemu," beber Sera.
Yuni tercengang, "Omo! Kenapa bisa ada dia?"
"Ternyata Tante Lusi mengundangnya, dan aku tidak tahu jika Tante Lusi sudah mengatur pertemuan kami," terang Sera.
"Terus bagaimana reaksi Dafi saat tahu bahwa kamu sudah menikah dengan Oppa? Apa dia marah? Atau terjadi sesuatu?" cecar Yuni heboh.
"Iya, dia tentu saja marah. Aku bisa melihat itu dari tatapan matanya," jawab Sera, dia terbayang tatapan tajam Dafi.
"Jadi Oppa dan kedua orang tuanya sudah tahu jika kamu adalah mantan kekasihnya Dafi?" Yuni memastikan.
Sera menggeleng pelan, "Tidak, Eonni. Sebelum Dafi bicara, aku buru-buru bilang kalau kami hanya teman sekolah, dan mereka percaya."
"Memangnya Dafi tidak membantah?"
Sera kembali menggeleng, "Tidak, dia langsung pergi."
"Kenapa kamu tidak jujur saja, Sera?"
"Kan aku sudah bilang, kalau aku takut mereka berpikiran macam-macam tentang aku, Eonni," dalih Sera.
"Tapi kamu tidak bisa terus-terusan menutupinya, suatu saat pasti akan terbongkar dan kamu akan dianggap pembohong."
Sera tertunduk sedih, air matanya menetes, "Entahlah, Eonni. Aku juga bingung harus bagaimana? Aku juga masih syok dengan kenyataan ini dan semua yang terjadi."
Yuni mengusap punggung belakang Sera, dia berusaha menenangkan gadis itu, "Kamu yang sabar, ya. Semoga semua ini segera berakhir dan kamu bisa hidup tenang lagi seperti sebelumnya."
"Iya, Eonni."
"Pasti tadi Dafi terkejut banget saat tahu kamu yang jadi istri papanya."
"Tentu saja, Eonni. Dia bahkan sampai mengirimkan pesan padaku."
Yuni menautkan kedua alisnya, "Apa katanya?"
"Ini." Sera menunjukkan pesan yang Dafi kirimkan tadi.
"Dasar tidak tahu diri! Apa dia tidak sadar jika telah menyakiti mu lebih dulu?" sungut Yuni kesal.
Sera hanya bergeming sembari mengusap air matanya.
"Eh, tapi menurutku, sepertinya Dafi masih ada rasa ke kamu. Aku yakin selain kaget dan marah, dia pasti juga cemburu melihat kamu bersama papanya," tebak Yuni.
"Dia tidak mungkin cemburu, Eonni. Kami itu sudah lama putus, lagian dia juga sudah punya pacar, mana mungkin dia masih ada rasa padaku. Dia itu hanya syok dan tidak suka saja karena papanya menikah, apalagi denganku," bantah Sera.
"Ih, Sera! Percaya padaku! Dia itu cemburu dan kamu harus memanfaatkan situasi ini."
"Maksud, Eonni?"
"Tunjukkan ke dia kalau sekarang hidup kamu bahagia tanpa dia, kamu sudah menemukan pria yang jauh lebih baik darinya. Buat dia merasa menyesal karena sudah menyakiti dan mengkhianati mu," ujar Yuni penuh semangat.
"Bagaimana caranya?"
"Seperti yang sudah kita rencanakan sebelumnya, kamu harus mengubah penampilanmu agar terlihat lebih cantik, lalu tunjukkan kemesraan kamu dengan Oppa di depannya. Buat dia iri dan cemburu, agar dia tahu rasanya ada di posisi kamu saat melihat dia bersama wanita lain."
"Tapi apa itu tidak membuat Dafi semakin membenci Om Damar?"
"Itu tidak usah kamu pikirkan, yang penting di berengsek itu mendapatkan pelajaran karena sudah kurang ajar pada Oppa dan juga kamu."
"Eonni sepertinya tidak menyukai Dafi, ya?"
"Iya, kamu benar. Meskipun aku tidak terlalu mengenal dia, tapi aku tidak suka padanya, karena dia bersikap buruk pada Oppa, padahal Oppa sudah begitu baik padanya. Ditambah lagi perbuatannya ke kamu, aku jadi semakin tidak menyukainya," sungut Yuni.
Sera tertegun mendengar ucapan bernada kesal Yuni itu, dia masih menimbang-nimbang saran wanita tersebut.
***