My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 79.



Damar sudah mandi dan kini Sera sedang mengolesi obat di buku-buku jari tangan Damar yang memar karena memukul Heru tadi. Sementara Sera sibuk memberikan obat di tangannya, Damar malah terus memandangi gadis itu sambil tersenyum. Entah mengapa hatinya merasa begitu hangat dan bahagia saat melihat wajah cantik yang belakangan ini selalu mengganggu pikirannya.


"Sudah, Om," ujar Sera, membuat Damar langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Terima kasih, ya," ucap Damar sedikit gugup.


"Sama-sama, Om."


"Luka kamu gimana?" tanya Damar.


"Sudah tidak terlalu perih, sebentar lagi juga kering, kok."


"Syukurlah. Jangan lupa diberi obat dan jaga kebersihannya, agar tidak infeksi."


"Siap, Bos!" seru Sera.


"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita turun, yuk! Om sudah lapar." Damar beranjak dan hendak keluar dari kamar tapi suara Sera menahannya.


"Om, tunggu. Ada yang mau aku tanyakan?"


Damar berbalik menatap Sera, "Tanya apa?"


"Kira-kira kapan kita akhiri semua sandiwara ini?"


Damar termangu, hatinya mendadak perih dan takut saat mendengar pertanyaan Sera itu.


"Kita tidak mungkin terus-terusan terikat dalam pernikahan ini, kan?" lanjut Sera.


"Bagaimana kalau kita tetap jalani pernikahan ini selamanya?"


Sera terkesiap, "Ha? Maksud Om apa?"


Damar terkekeh, "Om hanya bercanda, serius banget, sih!"


Sera menghela napas lega, dia sempat syok mendengar kata-kata Damar barusan.


"Iya, kamu benar. Kita memang harus mengakhirinya, tapi Om belum menemukan alasan dan waktu yang tepat."


"Mau sampai kapan seperti ini, Om? Aku takut orang tua Om dan semua orang tahu sandiwara kita, apalagi sekarang Dafi juga tinggal di sini. Aku takut lama-lama dia curiga."


Itu memang salah satu alasannya Sera ingin secepatnya berpisah dari Damar dan pergi dari rumah ini, sebab dia merasa Dafi mulai mencurigai mereka. Tapi alasan utamanya adalah karena Sera sudah tidak tahan dengan semua yang dilakukan oleh Dafi, dia tak ingin terbawa perasaan dan akhirnya kembali luluh pada mantan kekasihnya itu.


"Kamu tenang saja, Om akan secepatnya memikirkan alasan dan waktu yang tepat untuk mengakhiri semua ini," ujar Damar, hatinya bergemuruh hebat saat mengatakannya. Dia merasa tidak rela jika harus bercerai dari Sera.


"Baiklah, aku juga akan bantu memikirkannya," balas Sera.


Damar mengangguk dan memaksakan senyuman.


"Ya sudah, yuk kita makan malam. Aku juga sudah mulai lapar ini." Sera bergegas keluar dari kamar, meninggalkan Damar yang masih terpaku dengan perasaan tak karuan.


"Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku merasa tidak rela bercerai dari Sera? Apa mungkin aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya?"


Damar menggeleng, "Ini tidak mungkin! Pasti ada yang tidak beres dengan hatiku."


Damar pun keluar dari kamar dan menyusul Sera yang sudah lebih dulu duduk di meja makan, di sana juga ada Yuni yang sedang menyiapkan hidangan, tapi tidak terlihat sosok sang putra.


"Dafi mana, Yun?" tanya Damar.


Belum sempat Yuni menjawab, Dafi turun dengan mengenakan pakaian rapi sambil menenteng jaket, "Aku di sini."


Damar sontak menoleh ke arah putranya itu, "Kamu mau ke mana?"


"Mau nongkrong dengan teman, bosan di rumah," sahut Dafi sambil melirik Sera yang sama sekali tidak mau memandangnya.


"Kalau begitu makan malam dulu."


"Tidak usah, aku makan di luar saja," tolak Dafi, "aku pergi dulu."


"Iya, hati-hati."


Dafi pun bergegas pergi, sebenarnya dia kesal dan galau karena melihat kedekatan Sera dan sang ayah. Tak bisa dipungkiri, dia merasa iri dan cemburu, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa selain menahan perasaannya.


***


Dafi melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, dia mengeraskan rahangnya, menahan rasa geram dan cemburu yang memenuhi hatinya.


Rupanya tanpa sengaja tadi dia mendengar Damar berbicara sendiri setelah Sera keluar dari kamar, tapi dia buru-buru bersembunyi. Sekarang dia tahu jika ayahnya itu mulai jatuh cinta pada sang mantan dan dia benar-benar tidak terima.


"Aku tidak akan membiarkan kalian bersama, aku harus memisahkan kalian," gumam Dafi.


Dia terus menambah kecepatan motornya, melesat membelah jalanan ibukota yang tidak terlalu padat.


Dafi akhirnya berhenti di kafe langganannya, terlihat Alvin dan Marcell sudah lebih dulu ada di tempat itu. Dia bergegas turun dari motor dan menghampiri sahabat-sahabatnya itu.


"Hai, Bro. Akhirnya nongol juga," sapa Marcell yang melihat kedatangan Dafi.


"Kenapa itu tampang? Asam banget!" ledek Alvin yang menyadari wajah murung sang sahabat.


"Aku lagi bad mood," jawab Dafi.


"Makanya buruan cari pacar baru, biar ada teman bobok," ejek Marcell.


Dafi sontak menendang kaki Marcell, "Bangsat! Memangnya aku ini laki-laki apaan?"


Marcell tertawa.


"Kamu ini seperti tidak tahu saja, Cell. Dafi itu masih menunggu jandanya Sera," sambung Alvin dengan nada mengejek.


Dafi tak meladeni ejekan Alvin, karena sejujurnya yang dikatakan sahabatnya itu benar. Dia memang sedang menunggu Sera bercerai dari ayahnya dan merebut kembali hati gadis itu.


"Eh, tapi aku dengar katanya tadi kamu jalan bareng calon mahasiswi baru, orangnya cantik. Siapa, Bro?" tanya Marcell yang tiba-tiba teringat ucapan salah satu teman kuliahnya.


Dafi memang tidak menceritakan yang sebenarnya pada Alvin dan Marcell, sahabat-sahabatnya itu juga tidak tahu jika Sera mendaftar di kampus yang sama dengan mereka.


"Iya, kasih tahu, dong! Siapa tahu kami bisa kenalan sama itu cewek," sela Alvin.


"Itu Sera."


Alvin dan Marcell tercengang.


"Serius? Jadi Sera mendaftar di kampus kita?" Alvin memastikan.


Dafi mengangguk.


Marcell mengerutkan keningnya, "Tunggu ... tunggu! Tapi gimana ceritanya Sera bisa bareng kamu? Bukannya dia itu selalu menghindar dari mu?"


Dafi terdiam, dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya jika Sera menikah dengan ayahnya dan kini dia tinggal bersama mereka.


"Daf, kok diam?" tegur Alvin.


"Atau jangan-jangan kalian sudah balikan, ya? Sera selingkuh dari suaminya dan kamu jadi perebut bini orang!" tuduh Marcell seenaknya.


"Sembarangan saja kalau bicara!" bantah Dafi, "Kami tidak sengaja bertemu di gerbang kampus, jadi aku antar dia ke ruang ujian seleksi. Sudah, itu saja!"


Dafi sengaja berbohong untuk menutupi semuanya.


"Wah, kebetulan sekali!" seru Alvin, "Ini bisa jadi kesempatan untuk kamu mendekati Sera lagi."


"Hee, sadar! Sera itu istri orang." Marcell memperingatkan.


"Kan kamu dengar sendiri apa kata Mas Ferdi, Sera dan suaminya cuma bersandiwara, berarti masih ada kesempatan untuk Dafi balikan lagi kalau mereka pisah."


"Iya kalau mereka pisah, kalau dua-duanya malah jatuh cinta sungguhan, gimana?" imbuh Marcell.


Dafi tertegun mendengar ucapan Marcell, dia yang merasa punya harapan kini dipaksa untuk menyadari kenyataan jika sang ayah mulai jatuh cinta pada Sera, dan tidak menutup kemungkinan suatu saat mantannya itu juga memiliki perasaan yang sama.


Sungguh Dafi tidak rela.


***