My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 34.



Dafi tiba di depan kediaman orang tua Sera, rumah sederhana itu tampak tak berpenghuni. Dengan sedikit ragu dia mendekati rumah itu lalu mengetuk pintu, tapi tak ada sahutan apalagi yang membukakan pintu.


"Apa Sera sedang tidak di rumah?" Dafi bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Seorang wanita paruh baya yang kebetulan lewat menegur Dafi, "Cari siapa, Nak?"


Dafi sontak menoleh ke arah wanita itu, "Saya mencari Sera, Bu."


"Oh, dia sudah tidak tinggal di sini lagi. Sejak Ibunya meninggal, katanya dia ikut dengan orang yang menabraknya dan rumah ini sudah dikontrakkan ke orang lain."


Dafi mengernyit, "Orang yang menabraknya, Bu?"


"Iya, laki-laki kaya dan ganteng. Dia mengajak Sera tinggal bersamanya, mungkin mau dijadikan anak angkat."


"Ibu tahu tidak alamat tempat tinggal Sera sekarang?"


Wanita paruh baya itu menggeleng, "Wah, Ibu tidak tahu, Nak."


"Ya sudah, kalau begitu terima kasih atas informasinya, Bu," ucap Dafi.


"Iya, Nak. Sama-sama," balas wanita itu, dia kemudian berlalu pergi meninggalkan Dafi yang masih termangu memikirkan ucapannya.


"Apa ini ada hubungannya dengan pria yang Luna lihat jalan bersama Sera di mall? Apa benar dia diangkat menjadi anak oleh orang itu? Atau jangan-jangan Sera hanya dimanfaatkan?" Dafi menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi, dia semakin mencemaskan keadaan Sera saat ini.


"Ke mana aku harus mencarinya?" Dafi benar-benar bingung, dia tidak bisa mengabaikan begitu saya mantan kekasihnya itu.


Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Dafi, "Aku akan minta tolong Alvin untuk menanyakan keberadaan Sera saat ini, dia pasti mau mengatakannya kepada Alvin."


Dafi pun buru-buru pergi untuk menemui sahabatnya itu.


***


Setelah memikirkan matang-matang ide Riko tadi, Damar pun akhirnya memutuskan untuk menemui Sera di hotel. Dia tak ada pilihan lain, hanya itu satu-satunya cara agar dia bisa terbebas dari perjodohan yang dirancang sang mama.


"Om Damar?" Sera terkesiap melihat Damar sudah berdiri di depan kamar hotel dengan wajah kusut.


"Ada yang ingin Om bicarakan dengan kamu."


"Kalau begitu silakan masuk, Om."


Damar melangkah masuk dan langsung duduk di sofa, Sera pun ikut menjatuhkan dirinya di samping lelaki itu, dia menyadari wajah Damar yang murung.


"Om kenapa? Ada masalah, ya?"


Damar menghela napas lalu mengangguk, "Iya, Om lagi ada masalah dan Om membutuhkan bantuan kamu lagi."


Sera menautkan kedua alisnya, "Bantuan aku?"


Damar kembali mengangguk lesu.


"Memangnya apa yang bisa bantu, Om? Pura-pura jadi pacar Om lagi?" tanya Sera dengan nada meledek.


"Bukan itu!" bantah Damar.


"Lalu?"


"Begini, karena kita menolak permintaan Mama untuk menikah, Mama jadi melanjutkan perjodohan Om dengan Sarah."


Sera terkesiap mendengar penuturan Damar.


"Sialnya lagi, hari ini Mama mengajak Om bertemu dengan ibunya Sarah untuk membicarakan perjodohan kami. Makanya Om mau minta tolong ke kamu agar Mama membatalkan niatnya itu," lanjut Damar.


"Apa yang harus aku lakukan, Om?"


"Kita harus pura-pura menyetujui permintaan Mama untuk menikah," jawab Damar.


Sera tercengang, "Jadi kita harus membohongi mama Om lagi, dong?"


"Tapi apa nanti tidak jadi masalah, kita sudah terlalu jauh membohongi mama Om, dia pasti kecewa kalau sampai suatu saat ini terbongkar," ujar Sera, dia merasa sedikit keberatan dengan ide Damar tersebut.


"Ya jangan sampai terbongkar lah!" balas Damar.


"Om, sebaik-baiknya kita menutupi bangkai, suatu saat pasti akan tercium juga baunya. Aku tidak mau mama Om marah dan kita jadi terlibat masalah." Sera berusaha memperingatkan Damar.


"Sera, Mama itu tidak akan lama di sini, paling Minggu depan dia sudah balik ke Italia. Jadi setelah itu semua akan aman-aman saja, karena Mama tidak akan lagi mengurusi hidup Om. Yang terpenting sekarang, Om bisa terbebas dari perjodohan dengan Sarah." Damar mengulang kembali kalimat Riko tadi.


"Tapi aku takut, Om."


"Kamu tenang! Semua pasti akan baik-baik saja, percaya pada Om." Damar berusaha meyakinkan gadis cantik itu.


Sera terdiam, dia masih menimbang-nimbang rencana Damar ini.


"Om janji setelah ini tidak akan menyusahkan kamu lagi, ini yang terakhir. Jadi Om mohon, tolong bantu Om, ya?" sambung Damar memohon.


Sejujurnya Sera ingin menolak permintaan Damar, dia sungguh takut semua ini menimbulkan masalah baru nanti, apalagi dia belum pernah berbohong seperti ini sebelumnya, dia takut sandiwaranya terbongkar. Tapi jika mengingat semua kebaikan Damar padanya, Sera merasa tidak enak jika menolak. Apalagi melihat Damar memohon seperti itu, dia jadi merasa tidak tega.


Dengan sangat terpaksa Sera pun akhirnya setuju, "Baiklah, aku akan membantu Om."


Damar tersenyum, dia merasa senang sekali, "Terima kasih banyak, ya, Sera?"


"Iya, Om."


"Baiklah, kalau begitu sekarang kamu bersiap! Om akan ajak kamu menemui Mama, kita akan bilang kalau kita bersedia menikah. Jadi Mama bisa segera membatalkan niatnya itu sebelum dia menyampaikannya ke Tante Elin."


"Ya sudah, Om tunggu di sini! Aku bersiap-siap dulu." Sera beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Damar.


Sera mengambil sepasang pakaian yang baru dia beli kemarin, lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi, karena dia tidak mungkin mengganti pakaiannya di hadapan Damar.


Setelah mengganti pakaiannya, Sera pun keluar dari kamar mandi kemudian sedikit berdandan, Damar memperhatikan gadis itu sambil tersenyum sendiri.


"Dia memang gadis yang baik, cantik lagi." batin Damar.


Tiba-tiba ponsel Sera berdering singkat, ada sebuah pesan chat dari Alvin. Sera menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu membaca pesan itu.


"SERA, SEKARANG KAMU TINGGAL DI MANA? KOK TADI AKU KE RUMAHMU, TAPI KATANYA KAMU SUDAH PINDAH."


Sera mengernyit heran lalu bergumam, "Mau apa dia ke rumahku?"


Karena penasaran, Sera pun membalas pesan Davin itu, "MAU APA KAMU KE RUMAHKU?"


Tak berapa lama, balasan dari Alvin pun masuk.


"TADI AKU KEBETULAN LEWAT, JADI SINGGAH."


Sera termangu, dia meragukan alasan Alvin itu.


Melihat Sera melamun, Damar lantas menegurnya, "Ada apa, Sera? Siapa yang kirim pesan?"


Sera tersentak dan sontak menyimpan ponselnya, "Oh, ini teman aku, Om."


Sera lalu lanjut berdandan.


Setelah selesai, keduanya pun bergegas meninggalkan kamar hotel.


Sementara itu di tempat lain, Dafi dan Alvin tengah menanti balasan dari Sera.


"Gimana? Sudah dibalas?" tanya Dafi tidak sabar.


Alvin menggeleng, "Belum, Bro. Sepertinya dia tidak mau memberitahu tempat tinggalnya yang sekarang."


Dafi mengembuskan napas berat, dia merasa kecewa. Sepertinya Sera memang benar-benar ingin menghindari dirinya, sebab pada Alvin pun gadis itu tak mau memberikan alamatnya.


***