
Damar pulang dari kantor dan mendapati rumahnya sunyi senyap, di saat bersamaan Yuni keluar dari dapur dan terkejut melihat majikannya itu.
"Eh, Oppa sudah pulang rupanya."
"Rumah kok sepi, Yun. Pada ke mana semua orang?"
"Sera ada di kamar, sedang belajar, soalnya besok dia harus ujian seleksi," terang Yuni.
"Oh, jadi besok ujian seleksinya?" Damar memastikan.
Yuni mengangguk.
"Kalau Dafi?"
"Dia tadi pergi, tapi tidak bilang mau ke mana," jawab Yuni.
"Ya sudah, kalau begitu aku ke kamar dulu." Damar bergegas menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Dia mengetuk pintu kamar, "Sera, boleh Om masuk?"
Tapi tak ada jawaban dari dalam. Damar pun kembali mengetuk pintu dan memanggil gadis itu, namun hasilnya sama.
Dengan perlahan Damar memutar handle dan membuka pintu, ternyata Sera tertidur di atas ranjang sambil memegang buku-buku pelajaran.
"Pantas saja tidak menyahut, rupanya dia tidur."
Damar pun memungut dan merapikan buku-buku yang berserakan di sekitar Sera, namun tiba-tiba gadis itu terbangun dan sontak bangkit.
"Om mau ngapain?" Sera menatap curiga.
"Merapikan buku-buku ini." Damar menunjuk beberapa buku yang dia pegang.
"Kenapa dirapikan? Aku masih mau baca, Om," protes Sera.
"Kamu kan tidur tadi."
"Sekarang kan sudah bangun. Ya sudah, sini bukunya!" Sera merebut kembali buku-buku itu.
Damar duduk di hadapan Sera, namun gadis itu pura-pura tak menghiraukannya, "Besok jam berapa ujiannya?"
"Jam delapan pagi," sahut Sera, lalu menatap Damar dengan alis menaut, "Om tahu dari mana kalau besok aku ujian?"
"Yuni yang bilang."
"Oh." Sera kembali mengalihkan pandangan ke buku di hadapannya.
"Baiklah, kalau begitu kamu belajar sungguh-sungguh. Agar ujiannya lancar dan lolos seleksi." Damar mengusap kepala Sera, lalu beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sera tertegun memandang pintu kamar mandi yang sudah tertutup, entah mengapa darahnya berdesir dan jantungnya berdebar saat Damar menyentuh kepalanya tadi, dia merasa seperti benar-benar disayangi.
***
Sera makan malam bersama Damar, sedangkan Dafi belum juga menampakkan batang hidungnya sejak tadi siang.
"Dafi belum pulang, Yun?" tanya Damar.
"Belum, Oppa."
"Ke mana anak itu?" Damar merasa sedikit cemas.
"Paling juga nongkrong bareng teman-temannya, biasalah namanya juga anak muda, Oppa," sahut Yuni sok tahu, sementara Sera hanya diam menyantap makanan di hadapannya.
Namun pucuk dicinta ulam pun tiba, Dafi akhirnya pulang juga.
"Selamat malam, Daf. Kebetulan kamu pulang, mari makan malam!" ajak Damar.
"Iya, Pa." Dafi melangkah mendekati meja makan dan duduk di samping sang mantan.
Sera hanya menunduk, dia masih malas melihat mantan kekasihnya itu dan memilih untuk mengacuhkannya.
"Kamu dari mana?" Damar bertanya.
"Dari rumah teman," jawab Dafi.
"Oh iya, besok kamu kuliah?"
Dafi mengangguk, "Iya, kenapa?"
"Besok ke kampus bareng Sera, ya?"
Sera yang kaget mendengar permintaan Damar itu, tersedak dan batuk-batuk.
"Uhuk ... uhuk ...."
"Ini minum!" seru Damar dan Dafi bersamaan.
Ayah dan anak itu refleks memberikan gelas yang berisi air putih kepada Sera.
Suasana mendadak canggung, namun Sera akhirnya lebih memilih gelas yang disodorkan oleh Damar, lalu buru-buru meminumnya.
Dengan kecewa, Dafi meletakkan kembali gelas yang dia pegang di atas meja makan.
"Kamu makannya pelan-pelan, dong!" Damar mengusap punggung belakang Sera, Dafi yang melihat itu merasa cemburu.
Setelah batuknya hilang, Sera pun langsung menolak permintaan Damar itu, "Hem, besok aku pergi sendiri saja."
Damar mengernyit, "Kenapa? Kamu dan Dafi kan tujuannya sama, jadi bisa sekalian."
Sera terdiam, dia bingung harus memberikan alasan apa pada Damar.
"Memangnya besok dia mau ke mana, Pa?" tanya Dafi penasaran.
"Besok Sera akan mengikuti ujian seleksi masuk ke kampus kamu."
Dafi tercengang, dia tak menyangka Sera akan kuliah di kampus yang sama dengannya. Ini seperti kesempatan emas bagi Dafi untuk bisa melancarkan rencananya meluluhkan hati Sera.
"Papa tidak bisa antar karena besok ada meeting. Kan kampus kamu dengan kantor Papa berlawanan arah, Papa bisa telat kalau mengantarkan Sera dulu," lanjut Damar.
"Tapi aku bisa naik taksi atau ojek online!" bantah Sera.
"Apa tidak sebaiknya ikut dengan Dafi?"
"Iya, bareng aku saja!" sela Dafi.
Sera melirik sinis Dafi, dia tahu lelaki itu sedang memanfaatkan situasi.
"Aku naik taksi atau ojek online saja!" Sera bersikeras.
"Ya sudah, terserah kamu mau pergi naik apa." Damar akhirnya mengalah, dia berpikir Sera mungkin canggung bila pergi dengan sang putra.
Untuk kesekian kalinya Dafi merasa kecewa karena lagi-lagi Sera menolak perhatiannya.
***