My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 96.



Suasana ruang tunggu di depan kamar operasi sangat hening, Sera, Dafi serta Lusi masih menunggu dengan penuh kecemasan. Operasi Damar sudah berjalan lima jam, tapi tak kunjung selesai, sedangkan waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam.


Wajah semua orang terlihat lesu dan lelah, bahkan pakaian Dafi dan Sera yang berlumuran darah juga belum diganti. Mereka masih setia menunggu sambil terus berdoa.


Riko datang lagi setelah selesai membuat laporan di kantor polisi, kali ini dia kembali seorang diri sebab Bobi sudah dia suruh kembali ke rumah dan istirahat.


"Bagaimana keadaan Pak Damar? Apa sudah ada perkembangan?" tanya Riko.


Sera menggeleng lemah, "Belum, Mas. Operasinya belum selesai."


Riko menghela napas, dia merasa cemas dengan kondisi atasannya itu.


"Aku dan Bobi sudah membuat laporan, tadi polisi juga sudah ke rumah Pak Damar dan mengecek cctv. Mereka sedang menyelidiki kasus ini dan melakukan pengejaran terhadap mobil Taft hitam itu," terang Riko meskipun tak ada yang bertanya.


"Mobil itu juga yang kemarin hampir menyerempet kami dan yang meninggal bangkai kelinci di depan rumah," sahut Sera.


"Berarti pelakunya orang yang sama."


"Iya, Mas. Tapi kira-kira siapa?" Sera bertanya-tanya.


"Aku yakin pelaku nya itu Datuk Dahlan, dia suami Mama," sela Dafi tiba-tiba, semua orang sontak menoleh ke arahnya.


"Oma sudah menduganya dari awal. Ini yang Oma takutkan saat Anggi tinggal di rumah papa kamu, dan sekarang benar-benar kejadian," sungut Lusi penuh emosi.


Sera mengusap pundak Lusi demi menenangkannya, "Ma, tenanglah!"


Dafi terdiam, dia semakin menyesali semuanya, namun dia juga tak tega jika membiarkan sang ibu begitu saja. Rasanya saat ini dia ingin sekali menghajar orang yang bernama Dahlan itu, tapi dia sendiri tak tahu di mana alamat pria itu.


"Kenapa kamu bisa menuduh orang itu?" tanya Riko kemudian.


"Karena Mama ingin bercerai darinya dan dia tidak mau. Kata Mama, dia itu pria kejam dan posesif, dia selalu bersikap kasar dan memperlakukan Mama dengan buruk," ungkap Dafi.


"Kamu sudah hubungi keluarga Mamamu?" tanya Riko lagi.


Dafi menggeleng, "Belum, aku tidak sempat menghubungi mereka, lagipula ponselku tertinggal di rumah."


"Kamu ingat nomor telepon mereka?"


"Iya, aku ingat nomor telepon nenekku di Surabaya," jawab Dafi.


Riko mengeluarkan ponselnya dari saku lalu menyodorkannya ke Dafi, "Kalau begitu pakai ini, hubungi keluarga Mamamu dan ceritakan semua yang terjadi. Siapa tahu mereka bisa membantu kita menemukan Mamamu dan menangkap dalang dari semua ini."


Dafi menerima ponsel Riko lalu menjauh dari semua orang, dia menghubungi keluarga Anggi dan menceritakan apa terjadi kepada kedua orang tuanya.


"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan putraku, aku tidak akan memaafkan mereka," gerutu Lusi sambil mengusap air matanya.


Sera mendekap erat tubuh tua Lusi dan mengusap pundaknya, berharap bisa menenangkan sang mertua.


Riko hanya bergeming menatap sendu ibunda dari atasannya tersebut, dia merasa prihatin dan iba atas apa yang menimpa keluarga ini.


Pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter spesialis bedah bernama Adam keluar dengan wajah sendu. Semua orang langsung menghampirinya, bahkan Dafi buru-buru mematikan telepon sebelum dia selesai bicara.


"Bagaimana operasinya, Dok? Bagaimana keadaan anak saya?" cecar Lusi tak sabar.


"Operasinya sudah selesai, tapi saya harus sampaikan ini, pasien mengalami penurunan kesadaran, dia kritis dan koma," ucap Dokter Adam penuh sesal.


Semua orang terkesiap mendengar kabar buruk ini, Lusi sontak menangis histeris.


Sera memeluk Lusi sambil menangis sesenggukan, dia seketika merasa takut kehilangan Damar.


Dafi dan Riko hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca, mereka juga merasa terpukul mendengar kabar buruk ini.


"Kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU, dan akan terus memantau perkembangan," lanjut Dokter Adam.


"Dok, tolong lakukan apa saja untuk menyelamatkan papa saya! Saya mohon, Dok!" Dafi menatap dokter Adam dengan penuh harap.


Dokter Adam mengangguk, "Iya, kami pasti akan melakukan yang terbaik dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien."


"Terima kasih, Dok."


"Berdoalah agar papa kamu bisa segera melewati masa kritisnya dan pulih kembali!" Dokter Adam menepuk bahu Dipa.


"Iya, Dok."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


Dokter itu pun berlalu meninggalkan semua orang yang masih diselimuti kesedihan dan atas apa yang terjadi.


"Anakku, Damar," lirih Lusi, tubuh rentanya mulai lemas.


"Tolong!" Pekik Sera panik, Dafi dan Riko langsung menoleh ke arahnya.


"Oma!" Dafi langsung bergegas memegangi Lusi, "sebaiknya Oma duduk dulu!"


Sera dan Dafi membantu Lusi duduk, wanita paruh baya itu benar-benar sedih dan terpukul mendengar kondisi sang putra.


"Sebaiknya kalian pulang dulu, Nyonya butuh istirahat," cetus Riko.


"Tapi kami masih mau di sini, Mas!" bantah Sera dan Dafi bersamaan, kemudian mereka saling pandang.


"Iya, aku juga masih mau di sini, aku aku menemani putraku," sambung Lusi lemah.


Riko berjongkok dan memandang Lusi dengan wajah cemas, "Nyonya harus istirahat! Kalau tidak nanti Nyonya bisa sakit. Biar saya yang menjaga Pak Damar di sini, nanti kalau Nyonya sudah lebih segar, Nyonya bisa balik lagi."


Lusi hanya bergeming, air mata jatuh membasahi pipi keriputnya.


Riko menatap Sera yang juga tak berhenti meneteskan air mata, "Sera, kamu temani Nyonya pulang, ya? Kasihan kalau seperti ini."


"Tapi, Mas ...." Sera keberatan karena dia juga masih ingin menemani sang suami.


"Sera." Riko memohon.


Meskipun berat, tapi akhirnya Sera mengangguk. "Baiklah, Mas."


Riko berdiri dan beralih menatap Dafi, "Pulanglah dulu bersama Nyonya dan Sera, setelah ganti baju kamu bisa ke sini lagi."


Dafi menghela napas, kemudian mengangguk pasrah.


Sepasang muda-mudi itu membantu Lusi berdiri lalu memapah wanita tersebut berjalan meninggalkan rumah sakit, Riko hanya memandangi kepergian mereka dengan penuh rasa iba.


***