My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 18.



Pagi ini Damar dikejutkan dengan dering ponselnya, duda tampan itu tersentak dari tidurnya dan segera meraih benda pipih yang tergeletak sembarangan di atas tempat tidur. Tanpa melihat ID si penelepon, Damar langsung menjawabnya.


"Halo," sapa Damar dengan suara khas orang bangun tidur.


"Damar! Kamu ini benar-benar, ya!"


Mata Damar sontak terbuka lebar saat mendengar bentakan sang mama dari seberang telepon.


"Mama, kenapa pagi-pagi sudah marah-marah?" tanya Damar basa-basi meski dia tahu tujuan Lusi menghubunginya.


"Apa yang kamu lakukan pada Sarah? Kenapa kamu bersikap seperti itu, ha?"


"Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya mengajaknya jalan-jalan dan makan, apa itu salah?" sanggah Damar.


"Bukan itu, tapi sikap dingin mu yang Mama maksud. Ini bukan yang pertama kali, kamu selalu saja mengecewakan Mama!"


"Kalau Mama sudah tahu begitu, sebaiknya Mama berhenti menjodohkan aku dengan wanita-wanita pilihan Mama itu, karena aku tidak suka."


"Mama akan berhenti menjodohkan mu jika kamu sudah menikah. Tapi selama kamu masih sendiri, Mama akan terus mencarikan jodoh untukmu."


Lusi mematikan panggilan telepon itu tanpa Damar sempat protes atau berkata apa-apa.


Damar mengembuskan napas berat lalu melempar ponselnya ke atas ranjang, hatinya sedikit kesal karena ucapan Lusi itu. Dia pun bangkit dari pembaringan dan bergegas ke kamar mandi.


***


Sera sedang menikmati sarapan di meja makan, tak lama kemudian Damar pun turun lalu duduk di samping gadis itu.


"Selamat pagi Sera," tegur Damar.


"Pagi, Om."


"Yuni ke mana?"


"Tadi katanya ke kamar mandi."


"Oh." Damar pun segera menyantap sarapan di hadapannya.


"Om!" panggil Sera.


Damar sontak menatapnya. "Iya, ada apa?"


"Aku sudah memutuskan mau kuliah di mana."


"Benarkah, di mana?" tanya Damar penasaran.


"Universitas Tunas Bangsa, Om," jawab Sera.


"Anak Om juga kuliah di sana," beber Damar.


"Oh iya? Dia fakultas apa, Om?"


"Fakultas hukum, semester empat."


Sera termangu.


"Ternyata anak Om Damar satu fakultas dengan Dafi, jangan-jangan mereka temanan," batin Sera yang seketika teringat mantan kekasihnya itu.


"Kalau kamu mau ambil jurusan apa?" Damar bertanya lagi.


Sera tersentak, "Oh, kalau aku rencananya mau ambil jurusan akuntansi, Om."


"Wah, bagus itu! Nanti kamu bisa kerja di kantor Om kalau sudah selesai."


"Benar, Om?"


"Iya, Om janji akan memberimu pekerjaan. Makanya kamu harus belajar dengan bersungguh-sungguh, jangan mengecewakan Om!"


Sera mengangguk, "Pasti, Om. Aku tidak akan mengecewakan Om, aku janji!"


Damar tersenyum sembari mengusap kepala Sera, "Anak baik!"


Sera merasa senang setiap kali Damar mengusap kepalanya, dia merasa seperti anak kecil yang disayangi oleh ayahnya.


"Kalau begitu nanti Om akan bantu kamu mendaftar di sana."


Yuni yang baru selesai buang hajat datang dengan tergesa-gesa, "Eh, Oppa sudah turun. Selamat pagi."


"Selamat pagi, Yun."


Mereka bertiga pun melanjutkan sarapannya masing-masing.


***


Damar sedang membaca berkas di hadapannya, tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari sang mama.


"MAMA MAU KAMU MENEMUI SARAH DAN MEMINTA MAAF PADANYA MALAM INI, KALAU TIDAK MAMA AKAN PULANG KE INDONESIA SECEPATNYA."


Damar mencampakkan ponselnya ke atas meja, dia kesal membaca pesan ancaman dari mamanya itu. Riko yang kebetulan sedang berada di ruangannya pun terkejut.


"Ada apa, Pak?" tanya Riko penasaran.


"Kamu baca ini," Damar mengangsurkan ponselnya yang berisikan pesan Lusi itu ke arah Riko.


Riko mengernyitkan keningnya, "Siapa Sarah?"


"Dia anaknya teman Mama, kemarin malam kami ketemuan dan aku bersikap cuek padanya. Dia mengadu ke Mama dan sekarang Mama menyuruhku meminta maaf padanya."


"Ya sudah, anda temui saja dan minta maaf, dari pada Mama anda pulang ke Indonesia, bisa gawat. Sera mau diungsikan ke mana?" ujar Riko.


"Masalahnya aku malas bertemu lagi dengan dia, aku tidak ingin memberikan harapan apa pun pada wanita, aku tidak ingin menyakiti mereka nantinya," bantah Damar.


"Jadi bagaimana, dong?"


Damar mengembuskan napas berat, "Entah, aku juga bingung."


Riko tampak berpikir keras, dan sebuah ide muncul di kepalanya.


"Saya ada ide, Pak."


"Apa?" tanya Damar malas.


"Bagaimana kalau anda menemui si Sarah itu bersama seorang wanita, bilang ke dia kalau anda sudah punya kekasih. Dia pasti tidak akan mengharapkan anda lagi. Bagaimana?" usul Riko.


"Masalahnya siapa wanita yang akan aku bawa dan mau pura-pura jadi kekasihku?"


"Anda kan banyak teman wanita, pilih saja salah satu."


"Kamu kan tahu hubunganku dengan wanita-wanita itu seperti apa, mereka hanya partner di atas ranjang, aku bahkan tidak menyimpan nomor telepon mereka, jadi bagaimana menghubunginya?"


"Ya sudah kalau begitu datang saja ke bar, terus sewa salah satu pelacurnya." Riko memberi saran seenaknya.


Damar sontak menatap tajam bawahannya itu, "Kamu tidak ada ide lain apa? Kalau menyewa wanita di bar, yang ada berakhir di hotel bukan menemui Sarah."


Riko kembali berpikir, dan satu ide lagi tiba-tiba mampir di kepalanya.


"Sera!" seru Riko.


Damar mengerutkan keningnya, "Kenapa dengan Sera?"


"Bagaimana kalau anda minta tolong Sera untuk berpura-pura menjadi kekasih anda?"


Damar menggeleng cepat, "Tidak! Ide macam apa itu? Aku tidak mau!"


"Itu ide brilian, Pak. Dan yang pasti tidak ribet," jawab Riko enteng.


"Kamu gila, ya, Ko? Sera itu sudah seperti anakku, masa sekarang jadi kekasih ku, sih!" sungut Damar tak terima.


"Ini kan hanya pura-pura, Pak. Bukan sungguhan, dan yang tahu cuma kita saja."


"Iya, tapi rasanya aneh, Ko. Aku yakin Sera juga tidak akan mau."


"Anda coba bicara dulu pada Sera, jelaskan ke dia yang sebenarnya. Saya yakin dia pasti mau membantu anda, Pak," imbuh Riko yakin.


Damar menghela napas, dia merasa tidak setuju dengan ide gila Riko itu tapi dia juga tidak punya ide lain lagi.


***