
Malam harinya Damar kembali menjenguk Sera di rumah sakit, dia membawa makanan dan buah untuk gadis itu juga Yun.
"Selamat malam," sapa Damar yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Selamat malam, Oppa."
"Selamat malam, Om."
Jawab Yuni dan Sera bersamaan.
"Sepertinya kalian sudah akrab, nih?" ledek Damar sambil melangkah masuk dan memberikan bungkusan yang dia bawa kepada Yuni.
"Tentu saja, Oppa. Yuni kan orangnya menyenangkan, pastilah cepat akrab dengan siapa saja," sahut Yuni bangga dan penuh percaya diri.
Damar hanya geleng-geleng kepala mendengar kalimat narsis asisten rumah tangganya itu, sedangkan Sera hanya terkekeh-kekeh. Sepertinya gadis itu mulai membaik berkat tingkah konyol Yuni.
"Ya sudah, sekarang kamu boleh pulang, bawa makanan itu untuk kamu dan Bobi!" pinta Damar pada Yuni.
"Kalau saya pulang, terus yang jaga Sera siapa?" tanya Yuni.
"Biar aku yang jaga, besok kan weekend, jadi aku tidak ke kantor," sahut Damar.
Sera merasa tidak enak, "Hem, aku tidak di jaga juga tidak apa-apa, kok."
"Kamu itu tidak bisa berjalan, terus kalau ada apa-apa bagaimana?" bantah Damar.
"Tapi kan ada perawat yang selalu datang dan memantau ke kamar aku, Om."
"Tetap saja kamu butuh penjaga."
"Tapi aku tidak mau merepotkan siapa-siapa," ujar Sera sungkan.
"Tidak ada yang direpotkan, ini sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab Om," pungkas Damar, lalu beralih menatap Yuni yang masih terpaku di tempatnya. "Sudah kamu pulang sekarang, ini sudah malam."
"Nde, Oppa," balas Yuni sembari mengangguk patuh.
"Gomawo, Eonni!" seru Sera mengucapkan terima kasih pada Yuni dalam bahasa Korea.
Damar mengerutkan keningnya, dan memandangi dua wanita itu bergantian.
"Nde." Yuni pun bergegas keluar dari ruang perawatan Sera.
"Kamu pecinta drama Korea juga?" tanya Damar kemudian.
Sera menggeleng, "Tidak, Om."
"Itu tadi kamu pakai bahasa Korea?"
Sera tertawa, "Cuma iseng, Om. Tadi aku diajari bahasa Korea oleh Mbak Yuni, aku juga disuruh memanggilnya Eonni dan diajak nonton Drakor bareng."
Damar kembali geleng-geleng kepala. "Dasar Yuni! Ada-ada saja."
"Tapi aku senang, Om. Dia baik dan lucu, aku jadi cepat akrab dengannya."
Damar tersenyum, dia tahu Yuni memang baik dan menyenangkan, makanya dia sendiri menganggap wanita itu seperti seorang teman alih-alih sekedar asisten rumah tangga.
"Oh iya, kamu sudah makan malam?" tanya Damar.
Sera mengangguk, "Sudah, Om."
"Makan lagi, yuk! Ini Om ada bawa burger."
"Mana enak makan sendiri," keluh Damar pura-pura sedih.
"Kan aku temani."
"Baiklah, kalau begitu Om makan." Damar pun melahap burger yang dia bawa, kebetulan dia memang sangat lapar karena belum makan malam.
"Om!" panggil Sera.
"Hem." Damar berdeham dengan mulut yang penuh.
"Om jaga aku di sini, apa istri Om tidak marah?" selidik Sera ingin tahu.
"Om tidak punya istri," jawab Damar santai.
"Jadi Om belum menikah?"
"Sudah, tapi bercerai," sahut Damar tak acuh sambil terus menikmati burger di mulutnya.
"Maaf, aku tidak tahu."
"Tidak apa-apa."
"Hem, Om punya anak?" tanya Sera lagi.
"Punya, umurnya dua puluh tahun dan dia laki-laki yang tampan. Kamu mau lihat fotonya?"
Sera menggeleng, "Tidak usah, Om."
"Berarti umur anak Om sama dengan aku, dong," lanjut Sera.
"Jadi kamu juga sudah dua puluh tahun? Om kira masih lima belas," seloroh Damar.
Sera tertawa menanggapi kelakar Damar itu, "Om bisa saja!"
Damar pun ikut tertawa sambil memasukkan potongan terakhir burger yang dia beli ke dalam mulutnya.
"Tapi Om kok masih muda banget? Sedangkan Ibu aku saja sudah terlihat tua."
Damar terdiam sejenak, tapi kemudian tersenyum kecut, "Om nikahnya masih muda banget, makanya masih labil dan belum dewasa."
"Oh, begitu."
"Ya sudah, sekarang kamu tidur, soalnya kan kamu harus banyak istirahat biar cepat pulih." Damar mengalihkan pembicaraan, dia tak ingin Sera semakin banyak bertanya tentang hidupnya.
"Iya, Om. Selamat malam."
"Selamat malam."
Sera yang memang sudah mulai merasa mengantuk pun memejamkan matanya, tak butuh waktu lama, gadis itu sudah terlelap.
Damar merapikan selimut yang dipakai Sera, kemudian memandangi wajah ayu nan lugu itu.
"Gadis yang malang, Kasihan," batin Damar iba.
Setelah memastikan Sera telah tidur dengan nyenyak, Damar yang merasa lelah karena seharian bekerja pun menjatuhkan diri di atas sofa lalu mengotak-atik ponselnya, dia membuka media sosial dan mengecek kabar terbaru tentang sang putra. Hingga lambat laun matanya mulai perih dan akhirnya dia pun terlelap dalam keheningan malam.
***