My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 64.



Sera dan Damar akhirnya tiba di Roma setelah perjalanan tiga jam lebih empat puluh lima menit dengan menaiki kereta cepat Frecciargento, rupanya Lusi dan Erick sudah menunggu mereka di stasiun Termini.


"Halo, sayang. Selamat datang di Roma," Lusi menyambut anak dan menantunya itu, "bagaimana perjalanannya? Menyenangkan?"


"Sangat menyenangkan, Ma. Soalnya aku tidak mabuk perjalanan seperti saat naik pesawat kemarin," sahut Sera.


"Jadi kemarin kamu mabuk perjalanan?" Lusi memastikan sambil memegangi kedua pipi sang menantu.


Sera hanya mengangguk.


"Iya, Ma. Sepanjang perjalanan dia hanya tidur, katanya pusing dan mual," sambung Damar.


"Ya ampun, kasihan sekali kamu, sayang. Jadi sekarang kamu sudah baikan?" Lusi memastikan.


"Sudah, Ma," jawab Sera sambil tersenyum.


"Syukurlah." Lusi merasa lega.


"Sudah-sudah, nanti lagi ngobrolnya. Sebaiknya sekarang kita pulang, agar Sera dan Damar bisa istirahat," sela Erick yang sedari tadi menyimak obrolan mereka.


"Iya, Papa benar. Yuk, kita pulang, Mama juga sudah siapkan makanan yang lezat untuk kalian." Lusi langsung menggandeng tangan Sera.


Keempat orang itu pun meninggalkan stasiun kereta api dan bergerak menuju kawasan Acqua Acetosa di kaki bukit Parioli.


Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah rumah bergaya Eropa yang sangat cantik dan megah, Sera sangat takjub melihat bangunan yang diklaim sebagai tempat tinggal Lusi dan Erick.


"Mari masuk!" ajak Lusi.


Mereka pun masuk dan langsung di sambut oleh dua orang asisten rumah tangga yang juga orang Indonesia.


"Kalian makan dulu, baru setelah itu istirahat," pinta Lusi.


Pasangan pengantin baru itu pun mengangguk bersamaan, memang perut mereka sudah terasa lapar karena sekarang sudah waktunya makan siang.


Di meja makan sudah terhidang beraneka ragam makanan, baik khas Indonesia maupun ala Italia, Lusi benar-benar menyambut mereka dengan baik.


"Oh iya, nanti malam Mama berencana mengadakan acara-acara kecil-kecilan untuk merayakan pernikahan kalian. Mama ingin mengundang teman-teman Mama dan Papa, biar bisa berkenalan dengan Sera," beber Lusi.


Damar melirik Sera, lalu menatap Lusi, "Ma, sebaiknya tidak usah. Aku kan sudah bilang, kami tidak ingin ada pesta."


"Tidak ada pesta, sayang! Hanya acara kecil-kecilan saja," bantah Lusi.


"Iya, Damar. Hanya sekedar kumpul-kumpul biasa saja dan Papa rasa Sera juga tidak keberatan." Erick menyela, lalu menatap menantunya untuk meminta persetujuan, "iya, kan, Sera?"


Sera terdiam tegang, namun akhirnya mengangguk pasrah, "I-iya, Pa."


"Tuh, kan! Sera saja setuju," ujar Erick.


Damar menghela napas pasrah.


"Sayang, Mama dan Papa itu sudah lama sekali menantikan saat-saat ini, kami sangat bahagia dengan pernikahan kalian. Jadi biarkan kami melampiaskan rasa bahagia itu dengan memamerkan menantu baru kami yang cantik ini." Lusi berbicara sambil tersenyum memandang Sera.


Keduanya merasa canggung sekaligus bersalah mendengar kata-kata Lusi, mereka tak bisa bayangkan bagaimana kecewanya kedua orang tua itu jika tahu yang sebenarnya.


"Benar itu. Jadi kami harap kalian memakluminya," sambung Erick.


"Iya, baiklah, Pa."


Lusi dan Erick pun tersenyum senang.


"Kalau begitu nanti malam Sera harus dandan yang cantik," pinta Lusi girang.


Sera hanya mengangguk dan tersenyum, sejujurnya dia merasa sedih dan iba melihat Lusi yang begitu bahagia, padahal dia sedang bersandiwara membohongi wanita itu.


Keempatnya pun mulai makan dan menikmati hidangan, sesekali Lusi dan Erick bersenda gurau mengundang tawa semua orang.


Sera kian merasa bersalah sebab Lusi dan Erick sangat baik, mereka begitu tulus padanya, membuat dia merasa seperti memiliki orang tua baru.


***


Makan siang telah selesai, kini pasangan pengantin baru itu sudah berada di kamar yang Lusi sediakan untuk mereka.


Sera duduk di tepi ranjang, wajahnya tampak murung dan Damar memperhatikan itu.


"Kamu kenapa?"


"Aku kasihan pada mama dan papa Om."


Damar mengernyit heran, "Kenapa kamu kasihan pada mereka?"


"Mereka begitu bahagia dengan pernikahan ini, bagaimana kalau nanti kita berpisah? Mereka pasti sangat sedih dan kecewa, Om."


Damar mengembuskan napas berat, "Mau gimana lagi? Cuma itu satu-satunya cara untuk mengakhiri semua ini, memangnya kamu mau selamanya terjebak dalam pernikahan ini?"


Sera sontak menggeleng cepat, "Tidak! Tentu saja aku tidak mau! Aku masih muda, aku masih ingin mengejar impian ku dan menikah dengan pria yang aku cintai."


Damar tertegun mendengar kata-kata Sera itu, entah mengapa hatinya berdenyut dan sedikit kecewa. Apakah dia sedang mengharapkan sesuatu?


"Tapi alasan apa yang akan kita berikan pada mama dan papa Om nanti? Kita tidak mungkin bercerai tanpa alasan, kan?" Tanya Sera bingung.


"Nanti akan Om pikirkan."


Sera menghela napas, "Aku takut membayangkannya, Om. Aku tidak akan berani bertemu dengan mama dan papa Om lagi setelah kita bercerai."


"Kamu jangan takut, apa pun yang terjadi, Om akan selalu melindungi mu."


Sera hanya menganggukkan kepalanya.


Damar sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan selalu menjaga dan melindungi Sera. Dia pasti tak akan ingkar janji.


"Kalau begitu kamu istirahat, Om mau keluar dulu."


"Om mau ke mana?" tanya Sera ingin tahu.


"Om hanya ingin melihat-lihat kebun anggur papa," jawab Damar.


Sera langsung heboh, "Kebun anggur? Jadi Papa Om punya kebun anggur? Di mana, Om?"


"Di belakang rumah."


"Wah, kalau begitu aku ikut, dong! Aku juga mau lihat kebun anggur, Om." Sera sangat antusias, seketika dia melupakan kecemasan dan kegundahan hatinya.


"Kamu tidak lelah?" Damar memastikan.


"Tidak sama sekali."


"Ya sudah, yuk!"


"Hore!" Sera berteriak kegirangan, kemudian bergegas keluar dari kamar, "Ayo, Om. Aku tidak sabar ingin lihat kebun anggur!"


Damar hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Sera dan segera menyusul gadis itu.


***