
Dengan langkah yang lemah Sera memasuki rumah sambil sesekali meringis menahan sakit di lengannya, dia sebenarnya kesal pada Heru namun juga malas berurusan dengan lelaki tidak tahu diri itu sebab dia tahu bagaimana watak Heru yang kasar dan arogan.
Yuni yang melihat kepulangan Sera, langsung menyambut gadis itu dengan heboh.
"Sera, gimana ujiannya? Lancar tidak? Kamu bisa menjawab semua pertanyaannya, kan?" cecar Yuni sembari berjalan ke arah Sera.
"Lancar, Eonni," jawab Sera tak bersemangat.
Melihat wajah Sera yang lesu dan pucat, Yuni merasa cemas.
"Sera kamu baik-baik saja?" tanya Yuni, lalu pandangannya tertuju pada lengan Sera yang berdarah, "tangan kamu kenapa?"
"Tadi aku terjatuh."
"Omo! Kok bisa? Jatuh dimana?" Yuni mendadak panik.
"Panjang ceritanya, Eonni. Nanti aku ceritakan. Sekarang aku minta tolong ambilkan kotak P3K!"
"Iya-iya, sebentar aku ambilkan." Yuni bergegas ke dapur.
Tak lama kemudian, asisten rumah tangga Damar itu balik lagi sembari membawa kotak yang Sera minta serta air bersih.
"Sini biar aku bersihkan dulu lukanya!" Yuni menarik Sera duduk di sofa ruang tamu dan langsung membersihkan darah di luka gadis itu dengan kapas dan air bersih yang dia bawa tadi.
Sera meringis menahan perih saat Yuni menyentuh lukanya.
Di saat bersamaan, Dafi pulang dan langsung menghampiri mereka.
"Ada apa?" tanya Dipa, tapi Sera diam saja.
Melihat Sera diam, Yuni berinisiatif menjawab pertanyaan anak majikannya itu, "Sera jatuh dan tangannya terluka."
Mendengar itu, Dafi langsung merasa cemas, "Astaga, Sera! Kamu kenapa bisa jatuh? Apa lukanya parah? Ayo, ke rumah sakit!"
"Tidak usah dan jangan sok peduli!" balas Sera ketus.
Dafi menghela napas lalu tiba-tiba berjongkok di hadapan Sera dan mengambil alih pekerjaan Yuni, "Sini, Mbak. Biar aku saja yang obati."
Sera terkesiap dan sontak menarik lengannya, "Tidak perlu! Aku tidak butuh bantuan mu!"
Dafi menatap Sera, "Ra, kamu sedang terluka, kalau tidak segera diobati, nanti bisa infeksi."
Sera buru-buru memalingkan wajahnya demi menghindari tatapan Dafi, "Aku bisa obati sendiri!"
Yuni hanya terpaku melihat perdebatan dua anak manusia itu, dia bisa melihat jika Dafi benar-benar peduli dan cemas pada Sera.
Dafi tak menggubris penolakan Sera, dia menarik paksa tangan Sera dan membersihkan luka di tangan gadis itu.
"Lepaskan tanganku!" Sera sontak memberontak dan berusaha melepaskan diri, tapi Dafi menahannya dan dengan hati-hati dia mengoles obat di luka Sera, membuat gadis itu kembali meringis kesakitan, Dafi pun meniup luka itu.
Sera tertegun melihat apa yang dilakukan Dafi, mendadak ada perasaan sedih bercampur perih di hatinya. Apa yang dilakukan Dafi ini membuat Sera terbawa perasaan, hingga tanpa sadar air matanya menetes.
"Sudah," ujar Dafi, membuat Sera tersadar dan buru-buru menghapus air matanya.
Sera menarik lengannya dan kembali membuang muka.
Dafi kembali menatap Sera, "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa jatuh dan terluka seperti ini?"
"Bukan urusanmu!" sahut Sera ketus, dia lalu bangkit dan bergegas pergi meninggalkan Dafi juga Yuni yang termangu di ruang tamu.
Dafi menghela napas, meskipun dia kesal dengan sikap kasar dan dingin Sera, tapi dia tidak akan menyerah untuk merebut kembali hati mantan kekasihnya itu.
***
Sorenya, Damar pulang dan menemukan Sera sedang duduk termenung di balkon kamar. Dia sedikit heran, sebab tak biasanya gadis itu melamun seperti ini.
"Kamu lagi melamun kan apa?" tegur Damar, membuat Sera tersentak dan lamunannya buyar seketika.
"Eh, Om! Tidak, tidak ada. Aku hanya sedang bersantai saja," sanggah Sera dengan wajah kaget.
"Oh. Bagaimana ujiannya tadi? Lancar?" tanya Damar.
"Berarti tinggal menunggu pengumuman hasilnya saja, kan?"
"Iya, Om."
"Om doakan semoga kamu lolos dan diterima di kampus itu."
"Aamiin." Sera mengamini.
"Ya sudah, Om mau mandi dulu. Soalnya gerah banget." Damar beranjak dari duduknya.
"Aku juga mau masuk, mau bantu Eonni menyiapkan makan malam." Sera ikut beranjak.
Keduanya pun sama-sama masuk ke dalam kamar, namun saat Sera melewati Damar, tak sengaja dia melihat luka di lengan gadis itu.
"Sera, tunggu!" Damar melangkah mendekati Sera.
Sera sontak berbalik menghadap Damar, "Iya, ada apa, Om?"
Damar meraih tangan Sera dan memeriksa lukanya, "Tangan kamu kenapa?"
Sera mendadak gugup, "Oh, ta-tadi aku terjatuh."
Damar mengerutkan keningnya, "Terjatuh? Terjatuh di mana?"
"Hem, di depan warung nasi soto tak jauh dari kampus, Om," jawab Sera takut-takut.
"Kok bisa? Kamu ngapain ke sana?"
"Tadi aku tidak sempat sarapan, jadi saat pulang perutku lapar sekali dan aku singgah di warung itu. Tapi aku bertemu ayah tiri ku, dia meminjam uang sepuluh juta dan aku bilang tidak ada. Ketika aku hendak pergi, dia merampas tasku, aku mencoba mempertahankan tas itu sambil berteriak minta tolong, karena orang-orang mulai berdatangan, dia panik dan mendorongku hingga terjatuh."
Damar mengepalkan kuat tangannya demi menahan geram, "Kurang ajar! Berani sekali dia melakukan itu. Om akan melaporkannya ke polisi."
"Tidak usah, Om! Biarkan saja, aku tidak mau membuat masalah ini semakin besar. Lagian ini hanya luka kecil saja, kok," bantah Sera, dia tak mau berurusan dengan polisi dan juga Heru lagi.
"Dia sudah keterlaluan, Sera! Dia pantas mendapatkan hukuman atas perbuatannya."
"Iya, aku tahu, Om. Tapi sudahlah, aku tidak mau mempermasalahkan hal ini lagi."
"Tidak bisa! Dia harus mendapatkan pelajaran," ujar Damar, "sekarang katakan pada Om, di mana Om bisa menemuinya?"
Sera mendadak cemas, "Om mau ngapain?"
"Katakan saja di mana Om bisa bertemu dia?"
"Setahuku dia selalu berada di tempat perjudian tak jauh dari rumah lamaku," jawab Sera.
Tanpa bicara, Damar bergegas pergi, membuat Sera seketika panik.
"Om, tunggu!" teriak Sera sambil berlari mengejar Damar, tapi lelaki itu tak menggubrisnya.
Dafi yang mendengar teriakkan Sera, sontak keluar dari kamarnya dan bingung melihat situasi ini.
"Om mau ke mana?"
"Om akan buat dia menyesali perbuatannya hari ini," sahut Damar, matanya menyiratkan kemarahan yang besar.
"Om, sudahlah. Aku mohon jangan lakukan itu!" Sera berusaha menahan langkah suaminya itu.
Damar berhenti lalu berbalik menatap Sera yang ketakutan dan berlinang air mata, "Kamu tenang saja, Om tidak akan lama."
Damar kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Sera yang ketakutan melihat kepergiannya.
Dafi segera menghampiri Sera, "Ada apa, Ra?"
Sera hanya melirik sinis Dafi lalu berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu. Dafi yang penasaran pun menyusul sang mantan kekasih.
***