
Sesuai petunjuk wanita penghibur itu, mobil Damar berhenti di depan sebuah rumah kumuh yang berjarak cukup jauh dari tempat tadi. Suasananya sangat sepi dan jauh dari keramaian, bahkan seperti tak ada kehidupan.
"Ini rumahnya."
"Kau tidak bohong, kan?" Damar memastikan.
"Aku berani bersumpah, ini tempat tinggal Heru. Kalau tidak percaya, Mas bisa membuktikannya."
"Baiklah, kita turun!"
Damar dan wanita itu keluar dari mobil.
"Kau tunggu di sini!" pinta Damar, dan wanita itu hanya mengangguk.
Damar mengetuk pintu rumah itu, cukup lama tak ada jawaban apalagi pintu terbuka, membuat Damar semakin kesal. Dia kembali menggedor pintu dan kali ini Heru membukanya.
Ayah tiri Sera itu terkejut melihat kedatangan Damar dan buru-buru hendak menutup pintu, namun Damar berhasil menahannya dan mendorong pintu itu agar terbuka lebar.
Heru yang panik mundur dengan wajah tegang, "Mau apa kau?"
Tanpa basa-basi Damar langsung melayangkan bogem mentah ke wajah Heru, sehingga membuat lelaki paruh baya itu terhuyung ke belakang.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukulku?" tanya Heru pura-pura tidak tahu.
"Jangan berlagak bodoh, berengsek! Kau pasti tahu alasannya!" Damar kembali memukul Heru dengan sekuat tenaga.
Heru sampai terjengkang dan Damar langsung menghajarnya dengan membabi-buta, dia benar-benar ingin melampiaskan kemarahannya pada lelaki tidak tahu diri itu.
"Aku sudah pernah peringatkan, jangan pernah menyentuh Sera. Tapi kau tidak mau dengar, jadi rasakan ini." Damar meninju wajah Heru hingga hidungnya berdarah.
"Ampun! Jangan pukul aku lagi!" teriak Heru memelas.
Damar mencekik leher Heru dan mengancamnya, "Ini peringatan terakhir, kalau kau berani menyentuh Sera lagi, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup."
Heru mengangguk dengan susah payah. Damar pun melepaskan cekikan nya di leher Heru, lelaki itu sontak terbatuk-batuk.
"Aku bisa saja menyeret mu ke kantor polisi dan memenjarakan mu, tapi karena Sera melarang, aku tidak melakukannya. Jadi berterima kasihlah pada dia," lanjut Damar, kemudian melenggang pergi meninggalkan Heru yang terkapar di lantai dengan wajah babak belur.
Di luar rumah Heru, wanita penghibur tadi masih menunggu Damar dengan was-was, namun begitu melihat Damar keluar, dia langsung menghampirinya.
"Bagaimana? Sudah selesai?"
"Sudah," jawab Damar singkat, dia kemudian mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribu lalu memberikannya kepada wanita itu, "Ini, ambil bayaran mu."
Wanita itu menerimanya dengan mata berbinar, "Wah, banyak sekali."
"Terima kasih atas informasinya," ucap Damar kemudian membuka pintu mobilnya.
"Mas mau ke mana?"
"Pulang."
"Tidak, istriku sudah menunggu di rumah," balas Damar, dia buru-buru masuk ke dalam mobil dan tancap gas meninggalkan rumah Heru serta wanita penghibur itu.
"Eh, Mas! Kenapa aku ditinggal? Aku pulang dengan siapa, dong?" pekik wanita itu heboh, tapi Damar tak menggubrisnya sama sekali.
***
Sera masih menunggu dengan cemas, dia berulang kali menghubungi Damar, tapi sama sekali tak ada jawaban. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu pada suaminya itu, segala pikiran buruk mulai menghantuinya.
Saking khawatirnya, Sera sampai berdiri di balkon kamar dan menunggu kepulangan Damar, sesekali air matanya masih jatuh menetes. Dia sungguh menyesal karena telah mendatangkan masalah sehingga membuat Damar emosi sampai seperti ini.
Dia terus menunggu, meskipun angin malam yang dingin menerpa tubuhnya.
"Ya Tuhan, lindungi Om Damar," ucap Sera, matanya terus menatap gerbang rumah Damar, berharap sang suami muncul dari sana.
Sera pun sontak tersenyum saat melihat mobil Damar memasuki halaman rumah, dia buru-buru berlari menuruni anak tangga dan langsung memeriksa keadaan Damar.
"Om baik-baik saja, kan?"
Damar mengangguk, "Iya,kamu tenang saja."
Tapi pandangan Sera tertuju pada tangan Damar yang terdapat lebam kebiruan, dia pun meraih tangan lelaki itu dan menggenggamnya, "Tangan Om kenapa?"
"Oh, ini pasti karena Om terlalu kuat memukul si berengsek itu," jawab Damar enteng.
"Jadi Om memukul ayah tiri ku?"
"Iya, Om sudah menghajarnya habis-habisan. Dia pasti tidak akan berani mengganggu mu lagi."
Sera tercengang, "Ya ampun, Om! Bagaimana kalau dia lapor polisi? Om bisa terkena masalah."
"Kalau dia melapor ke polisi, itu sama saja dia bunuh diri. Soalnya kasus yang menjeratnya cukup banyak, dari pelecehan, perampokan, penganiayaan, perjudian sampai penipuan."
Sera mengernyit, "Penipuan?"
"Iya, dia sudah banyak menipu orang dan sekarang sedang dicari-cari."
"Ya Tuhan, dia benar-benar jahat."
"Ya sudah, sekarang semua sudah selesai. Kamu jangan cemas dan takut lagi." Damar mengusap pucuk kepala Sera, membuat darah gadis itu berdesir.
"Om, terima kasih sudah melindungi ku. Maaf kalau aku selalu menyusahkan Om."
Damar tersenyum, "Itu sudah kewajiban Om menjaga kamu, karena kamu itu tanggung jawab Om."
Sera pun ikut tersenyum menanggapi ucapan Damar itu.
Tanpa sepengetahuan mereka, Dafi berdiri di anak tangga paling atas dan melihat semuanya. Hati Dafi terasa panas dan sakit, dia cemburu dengan keharmonisan Sera bersama sang ayah.
***