
Sera dan Damar berjalan melewati pertokoan di dalam mall, mereka akhirnya berhenti di sebuah toko pakaian merek ternama, Sera sempat menolak, tapi sama seperti Yuni, Damar juga memaksa gadis itu untuk masuk ke dalam toko tersebut.
"Kamu pilih saja mana yang kamu suka!" pinta Damar.
"Om, kita ke toko lain saja, ya?" Sera merasa sungkan.
"Di sini saja!" balas Damar, "sudah cepat pilih! Nanti keburu sore."
Sera mengangguk pasrah. "Iya, Om."
Satu per satu pakaian yang tergantung di lihat harganya oleh Sera, dia merasa semakin tidak enak karena harga pakaian di toko ini bahkan lebih mahal dari toko yang di datanginya bersama Yuni tadi. Tapi karena takut Damar marah, Sera pun akhirnya memilih beberapa potong baju yang sesuai dengan seleranya.
"Om, aku coba dulu, ya?"
"Iya," balas Damar yang juga sedang melihat-lihat gaun yang terpajang di toko itu.
Sera pun bergegas ke ruang ganti dan mencoba beberapa pakaian yang dia pilih tadi.
"Hem, ternyata aku cantik juga kalau memakai baju mahal," gumam Sera sembari berputar-putar di depan cermin.
Setelah puas mencoba beberapa pakaian yang dia pilih, Sera pun keluar dari ruang ganti dan menghampiri Damar.
"Sudah, Om. Aku ambil yang ini saja," ujar Sera, dia menunjukkan beberapa potong pakaian yang di tangannya.
"Baiklah, kalau begitu coba yang ini juga!" Damar menyodorkan sebuah gaun cantik nan mewah berwarna hitam.
Sera mengernyit, "Itu kan gaun, Om? Masa aku kuliah mengenakan pakaian seperti itu?"
"Ini bukan untuk kuliah, tapi buat nanti malam," sahut Damar.
"Tapi aku bisa memakai baju ini saja." Sera lagi-lagi menunjukkan pakaian yang dia pegang.
"Pakai yang ini saja!" Damar memaksa.
Sera menghela napas, "Baiklah."
"Sini baju-baju itu, biar Om kasih ke kasir. Kamu coba dulu gaun ini!"
Sera memberikan pakaian yang dia pegang ke Damar, lalu mengambil gaun yang lelaki itu sodorkan dan kembali ke ruang ganti.
Setelah Sera pergi, Damar memanggil salah seorang penjaga toko dan menyerahkan pakaian-pakaian itu.
Di dalam ruang ganti, Sera segera membuka semua pakaiannya lalu mengenakan gaun itu.
Sera memandangi dirinya di depan cermin lalu tertawa sendiri, "Cantiknya aku, sudah seperti orang kaya."
Dia pun buru-buru keluar dari ruang ganti untuk memamerkan gaun indah yang dia kenakan itu pada Damar.
"Om, cantik tidak?" tanya Sera.
"Wah, kamu cantik sekali," puji Damar takjub.
Sera tersenyum senang dengan wajah bersemu merah.
"Ya sudah, aku tukar lagi," Sera bergegas kembali ke ruang ganti.
Damar terus memandangi kepergian gadis itu dengan perasaan kagum.
Setelah Sera selesai, mereka pun membayar semua pakaian itu dan segera pergi dari toko tersebut.
Keduanya kemudian mampir ke sebuah toko tas branded. Lagi-lagi Sera berusaha menolak, tapi tentu Damar selalu memaksanya.
"Om, tasnya mahal-mahal banget. Beli di tempat lain saja," bisik Sera dengan wajah memelas.
"Sudah, kamu tenang saja. Kamu tinggal pilih mana yang kamu suka, tidak usah pikirkan harganya," balas Damar.
Mau tak mau Sera pun kembali pasrah menuruti Damar, dia memilih-milih tas cantik di sepanjang etalase toko dan pilihannya jatuh pada tote bag berbentuk sederhana berwarna coklat susu.
"Yang ini saja, Om." Sera menunjuk tas yang dia mau.
"Lagi?"
Sera mengernyit, "Lagi apa nya, Om?"
"Tasnya lah, masa hanya satu? Beli lagi buat ganti."
"Satu saja cukup, Om."
"Pilih satu lagi!" titah Damar.
"Tidak usah, Om."
"Atau kamu mau Om pilihkan?" tanya Damar tanpa memedulikan penolakan Sera.
"Ya sudah, Om saja yang pilihkan," balas Sera pasrah.
Damar lantas memilih satu tas mewah berwarna hitam dari merek terkenal, harganya juga fantastis. Sera ingin protes, tapi Damar tak memberikan kesempatan. Dia langsung menyerahkan tas-tas itu ke penjaga toko untuk dibawa ke kasir.
Kali ini Damar membayar belanjaan itu menggunakan black card miliknya, bukan dengan ATM yang dia berikan pada Sera.
Setelah selesai, keduanya pun keluar dari toko tersebut, tapi tanpa diduga, Sera dan Damar malah berpapasan dengan Luna yang juga hendak berbelanja. Sera merasa kesal, tapi dia mengabaikan Luna dan melewati kekasih sang mantan begitu saja seperti tidak mengenal wanita itu sebelumnya.
"Itu kan mantannya Dafi? Terus siapa pria itu? Apa jangan-jangan sekarang dia punya sugar Daddy?" tebak Luna, "wah, aku harus bilang ini ke Dafi, biar dia tahu seperti apa mantannya itu."
Luna buru-buru mengambil ponselnya lalu memotret Sera dan Damar dari belakang sambil menyeringai.
***