
Sera sedang makan malam bersama Yuni dan Bobi, tapi dia bingung karena sejak pergi siang tadi, Damar belum juga kembali sampai sekarang.
"Eonni."
"Iya, ada apa?"
"Kita makan nya tidak menunggu Om Damar dulu?" tanya Sera, sebab dia merasa aneh melihat asisten rumah tangga dan satpam makan di meja makan tanpa kehadiran sang majikan.
"Oppa tidak usah ditunggu, soalnya tidak tentu kapan pulangnya," jawab Yuni sambil mengunyah makanan.
"Iya, Mas Damar jarang makan di rumah, palingan pulang cuma buat ganti baju dan tidur saja, itu juga kalau dia tidak tidur di hotel," sela Bobi.
Sera mengernyitkan keningnya, "Di hotel? Kenapa harus tidur di hotel kalau punya rumah?"
Yuni dan Bobi saling pandang, kemudian tertawa, membuat Sera bingung dengan sikap mereka.
"Kenapa tertawa? Memangnya ada lucu?" Sera memandang Yuni dan Bobi bergantian.
"Kamu masih kecil, belum mengerti urusan pria dewasa," ujar Bobi diselingi tawa mengejek.
"Siapa bilang aku masih kecil? Aku sudah dua puluh tahun, kok," bantah Sera tak terima.
"Iya, tapi kamu masih terlalu polos," balas Yuni.
Setelah berpikir sejenak, Sera pun sekarang paham maksud Yuni dan Bobi. Meskipun dia masih polos dan lugu, tapi bukan berarti dia tidak mengerti hal-hal semacam itu. Namun tentu dia tak pernah melakukannya, bahkan tiga tahun pacaran dengan Dafi, mereka hanya sebatas berciuman saja, tidak lebih dan itu menjadi salah satu alasan Dafi merasa jenuh dengan hubungan mereka.
Sera melanjutkan makannya tanpa bertanya apapun lagi, begitu pun dengan Yuni dan Bobi yang menyantap makanan dengan lahap.
Sementara itu, Damar sedang berjalan di lobi hotel, seorang wanita berpakaian seksi bergelayut manja di lengannya. Damar sengaja menyewa sebuah kamar hotel untuk tempat bercinta dengan si wanita bayaran itu. Miris memang, Damar lebih memilih bergelimang dosa demi melampiaskan hasratnya daripada harus terikat dengan sebuah pernikahan.
***
Keesokan paginya, Sera sudah bangun dan keluar kamar menggunakan kursi rodanya, suasana rumah sangat sepi, tidak terlihat Yuni atau siapapun.
"Semua orang pada ke mana?" Sera celingukan.
Di saat bersamaan Damar yang sudah rapi turun dari lantai atas.
"Selamat pagi, Sera," sapa Damar.
Sera sontak menoleh ke arah Damar, "Eh, selamat pagi, Om."
"Kamu sedang mencari siapa?" tanya Damar yang heran melihat Sera celingukan.
"Aku heran saja kenapa tidak ada siapa-siapa? Eonni juga tidak kelihatan."
"Oh, Yuni paling sedang belanja ke pasar, kalau Bobi biasa, jaga pos depan." beber Damar.
"Pantas saja tidak rumah sepi," gumam Sera.
"Kamu sudah sarapan?"
Sera menggeleng, "Belum, Om."
"Ya sudah, mari sarapan!" Damar menghampiri Sera lalu mendorong kursi rodanya ke ruang makan.
Di atas meja makan sudah ada roti tawar dan selai beraneka rasa.
"Kamu tunggu di sini, biar Om buatkan sarapan kamu." Damar bergegas mengambil selembar roti.
"Tidak usah, Om. Biar aku buat sendiri saja," tolak Sera sebab merasa sungkan.
"Tidak apa-apa, santai saja," balas Damar. "Kamu mau selai rasa apa?"
"Kacang saja, Om."
Dengan cekatan Damar mengoles selai kacang di atas roti, lalu menimpanya dengan roti satu lagi.
Damar memberikan roti buatannya itu pada Sera, "Ini buat kamu, silakan makan."
Sera menerima roti itu, "Terima kasih, Om."
Damar hanya mengangguk sambil tersenyum, dia lalu mengambil sepotong roti lagi dan mengoleskan selai coklat.
"Kalau Om sukanya selai coklat, soalnya Om alergi sama kacang," terang Damar meski Sera tak bertanya.
Seketika Sera teringat pada Dafi yang juga alergi kacang, dia jadi merindukan lelaki itu dan kembali galau.
Rupanya Damar memerhatikan perubahan raut wajah Sera itu.
"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba wajahnya sedih begitu?"
"Oh iya? Kebetulan sekali."
"Iya, Om."
"Sudah, mantanmu yang berengsek itu jangan diingat-ingat lagi! Lupakan dia, kamu harus bisa move on dan memulai hidup baru."
Sera mengangguk lalu memakan roti di tangannya. Damar menghela napas, begitu mudah dia menasihati orang lain untuk move on, tapi nyatanya dia sendiri tidak bisa melakukan hal itu. Bukan karena dia masih mencintai mantan istrinya, tapi dia trauma akan hubungan yang menyakitkan satu sama lain, makanya dia menutup hatinya dari wanita. Selama ini dia hanya melakukan kontak fisik dengan wanita-wanita sewaannya itu, tidak pernah ada hati.
Damar dan Sera pun makan dalam diam, mereka masih sibuk bergelut dengan pikiran masing-masing, hingga Yuni pulang dengan banyak belanjaan di tangannya.
"Annyeong Haseyo," sapa Yuni heboh, membuat Damar dan Sera terkejut.
"Astaga, Yuni! Berapa kali harus aku bilang, jangan teriak-teriak di dalam rumah!" sungut Damar.
"Maaf, Oppa. Namanya juga saya wanita energik, jadi selalu bersemangat," sahut Yuni seenaknya.
"Berisik tahu!" bentak Damar.
Yuni meringis, "Oppa makin ganteng deh kalau marah begitu, jadi mirip Ji Chang Wook."
Damar mengerutkan keningnya, "Siapa itu?"
"Suami kedua saya," sambung Yuni sambil tersipu-sipu.
Damar menghela napas sambil geleng-geleng kepala, "Dasar Halu!"
Sera tertawa melihat tingkah konyol Yuni itu, perasaan galau dan sedihnya mendadak sirna.
"Sudahlah, aku mau berangkat ke kantor. Titip rumah dan Sera." Damar beranjak dari duduknya.
"Siap, Oppa."
Damar menatap Sera yang masih tertawa-tawa, "Om pergi dulu, kamu hati-hati di rumah! Jangan terlalu dekat dengan Yuni, nanti ketularan gila."
"Iya, Om."
"Ish, Oppa!" Wajah Yuni cemberut.
Damar bergegas pergi sambil tertawa terbahak-bahak, dia memang suka sekali mengejek Yuni yang super berlebihan itu.
"Kalau begitu aku mau ke dapur dulu, mau masak makanan ala Korea." Yuni pun membawa langkahnya menuju dapur.
Sera merasa terhibur berada di rumah Damar, kehangatan dan tingkah laku orang-orang di rumah ini membuatnya merasa senang dan nyaman. Dia berjanji jika nanti dia keluar dari rumah ini, dia pasti akan selalu mengunjungi mereka. Sera pun akhirnya menyusul Yuni ke dapur sambil memakan roti buatan Damar itu.
"Eonni mau masak apa?" tanya Sera saat melihat Yuni sibuk membongkar barang belanjaannya.
"Mau masak kimbap ala Lee Yun Ni."
Sera menautkan kedua alisnya, dia merasa asing dengan nama makanan itu, "Kimbap? Makanan apa itu?"
"Nanti kamu akan tahu, dan pasti ketagihan kalau sudah mencobanya," kata Yuni penuh percaya diri.
Jora tersenyum, "Baiklah."
Namun ponsel Yuni tiba-tiba berdering, ada panggilan dari Mimi.
"Tetangga kamu ini, nah!" Yuni memberikan ponselnya pada Sera.
"Halo, Kak. Aku dapat kabar dari Bu RT, katanya ibu kakak masuk rumah sakit."
"Ya Tuhan, Ibu!" Sera terkejut, tubuhnya seketika gemetar, "sekarang Ibu di rumah sakit mana, Mi?"
"Kasih Bunda yang didekat rumah kita itu, Kak."
"Baiklah, aku segera ke sana. Terima kasih, ya, Mi."
"Sama-sama, Kak."
Sera mengembalikan ponsel Yuni dengan tangan bergetar, dia benar-benar panik dan cemas.
"Ada apa?" Yuni memandang Sera yang pucat dan tegang.
"Ibuku masuk rumah sakit, Eonni. Aku harus ke sana."
"Tapi kita harus minta izin Oppa dulu, sebentar aku telepon dia."
Yuni pun buru-buru menghubungi Dirga.
***