My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 27.



Sera dan Yuni duduk berhadapan dengan Lusi, keduanya sangat tegang dan cemas, namun sebisa mungkin berusaha bersikap tenang.


"Sepertinya kamu dan Yuni sudah akrab, apa kalian sering bertemu?" tanya Lusi penasaran.


Keduanya saling pandang, namun kemudian Sera beralih menatap Lusi, "I-iya, Tan. Kami sudah sering bertemu."


"Di mana? Kamu sering datang ke rumah Damar, ya?"


Sera terdiam dan semakin gugup, dia takut salah bicara.


"Tidak apa-apa kalau kamu sering datang ke rumah Damar, itu berarti hubungan kalian memang benar-benar serius," lanjut Lusi.


Sera tertawa kaku, "Iya, Tante."


Yuni terus berdoa agar saat-saat menegangkan ini segera berakhir, dia benar-benar khawatir kebohongan ini semakin melebar dan menambah masalah baru.


Lusi beralih menatap Yuni, "Kamu kenapa tidak bilang kalau sudah akrab dengan Sera?"


"Nyonya kan tidak pernah bertanya pada saya," jawab Yuni enteng.


"Iya juga, ya," balas Lusi.


Lusi kembali memandang Sera, "Berarti kamu dan Damar sudah cukup lama berhubungan, dong? Soalnya kamu bisa sampai akrab dengan Yuni."


Sera menelan ludah sebelum bicara, "Tidak terlalu lama, kok, Tan."


"Jadi kegiatan kamu sekarang apa? Kerja?"


"Belum kerja, Tan. Rencananya mau kuliah, baru saja daftar kemarin," Sera menjawab dengan jujur.


Lusi mengernyit, "Baru mau kuliah? Memangnya umur kamu berapa?"


"Dua puluh tahun, Tan," sahut Sera apa adanya.


Lusi terkesiap, dia sudah menduga Sera pasti masih muda, tapi tidak menyangka jika gadis itu masih seusia Dafi.


"Kamu masih sangat muda, seusia cucu Tante," ujar Lusi, dia meragukan Sera yang masih belia, dia takut gadis itu masih kekanak-kanakan dan ujung-ujungnya membuat Damar kecewa lagi.


"Biarpun masih muda, tapi dia itu dewasa banget, Nya," sela Yuni.


Lusi sontak memberikan tatapan peringatan pada Yuni, membuat asisten rumah tangga putranya itu langsung merapatkan mulutnya dan menunduk.


Ponsel Sera tiba-tiba berdering karena Damar menelepon, gadis itu bergegas menjawabnya.


"Halo," sapa Sera pelan.


"Kalian di mana?"


Sera mendongak lalu celingukan mencari nama restoran tempat mereka duduk saat ini, saking tegang dan takutnya tadi, dia sampai tidak memperhatikan nama restoran itu saat masuk.


"Yummy Resto," jawab Sera saat dia sudah mengetahui nama restoran itu.


"Om ke sana sekarang."


"Iya."


Damar mengakhiri pembicaraannya dengan Sera.


"Siapa? Damar, ya?" tanya Lusi ingin tahu.


"I-iya, Tante. Dia mau ke sini."


"Oh, bagus kalau begitu. Tante sudah tidak sabar ingin memarahinya karena tidak bilang kalau kamu sudah ada di Jakarta." Lusi mengomel.


Sera dan Yuni hanya tertawa menanggapi omelan Lusi itu, mereka merasa sedikit lega karena Damar akhirnya datang untuk menyelamatkan mereka.


Tak lama kemudian, Damar pun terlihat berjalan ke arah ketiga wanita itu, beberapa pasang mata kaum hawa memandang takjub dan terpesona melihat duda tampan itu melintas di hadapan mereka.


"Loh, Mama ada di sini juga?" Damar pura-pura terkejut melihat Lusi, lalu menatap Sera, "kenapa kamu tidak bilang?"


Belum sempat Sera menjawab, Lusi sudah lebih dulu menyela. "Memangnya kenapa? Tidak boleh Mama bertemu kekasih kamu?"


"Siapa yang bilang tidak boleh, Ma? Aku cuma kaget saja, Sera dan Mama kok bisa bareng?" sanggah Damar yang duduk di samping Lusi.


"Kalau memang boleh, kenapa kamu merahasiakan kepulangannya? Kamu meminta Yuni menemaninya, sementara kamu tidak cerita apa pun pada Mama." Lusi merajuk dengan wajah cemberut.


Sera dan Yuni hanya terdiam memperhatikan interaksi ibu dan anak itu.


" Bukan begitu, Ma. Sera itu baru tiba di Jakarta, dan rencananya nanti malam aku mau buat kejutan untuk Mama, aku akan ajak dia makan malam di rumah. Tapi dia ingin membelikan sesuatu untuk Mama, makanya aku suruh Yuni temani. Soalnya kan Yuni tahu selera Mama seperti apa," dalih Damar bohong.


Damar mengangguk, "Iya, Mama. Aku tidak berbohong!"


Sera dan Yuni tak menduga Damar berani berkata seperti itu, sudah jelas-jelas dia sedang berbohong, tapi berani mengatakan tidak.


"Baiklah, kalau begitu Mama mau belanja buat masak makan malam," ujar Lusi, lalu menatap Sera, "kamu lanjut mencari sesuatunya sama Damar saja, ya? Dia juga tahu selera Tante, kok. Soalnya Yuni mau Tante ajak belanja."


Sera menatap Damar meminta persetujuan, dia bingung harus menjawab apa dan lelaki itu mengangguk.


Sera kembali menatap Lusi, "Baiklah, Tante."


"Kalau begitu Tante pergi dulu, nanti malam Tante tunggu di rumah."


Sera tertawa, "Iya, Tante."


Lusi beranjak dari duduknya lalu menarik lengan Yuni, "Ayo, Yun! Kita belanja!"


"Iya, Nyonya." Mau tak mau Yuni pun pasrah.


Lusi pun buru-buru pergi sambil menyeret Yuni yang mengikuti langkahnya dengan tergopoh-gopoh.


Sera dan Damar mengembuskan napas lega melihat kepergian Lusi, walaupun ini belum selesai, tapi setidaknya suasana menegangkan barusan sudah berakhir.


"Bagaimana ini, Om? Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Sera cemas.


"Untuk sekarang kita lanjutkan saja sandiwara ini, kamu tetap datang makan malam di rumah seperti keinginan Mama. Nanti Om coba pikirkan langkah selanjutnya."


"Tapi aku merasa berdosa membohongi Mamanya Om, aku juga takut sandiwara ini terbongkar," keluh Sera.


"Om juga, tapi kita tidak ada pilihan lain, kita sudah terlanjur berbohong, jadi terpaksa harus dilanjutkan agar Mama tidak kecewa dan marah."


"Sampai kapan, Om? Kita tidak bisa terus-terusan membohongi Mama Om."


"Ini tidak akan lama, kok. Kalau nanti Mama sudah kembali ke Italia, kita tidak perlu bersandiwara lagi, Mama biasanya paling cuma seminggu di sini."


"Lalu setelah itu kita tetap biarkan dia berpikiran kalau kita ini ada hubungan?" tanya Sera lagi.


"Nanti Om akan bilang kita sudah putus, yang penting sekarang Mama tidak tahu kalau kita berbohong."


Sera menghela napas, "Iya, terserah Om saja."


"Tapi masalahnya, Om tidak bisa lagi menjelaskan siapa kamu sebenarnya seperti rencana Om sebelumnya."


"Tidak apa-apa, Mama Om tidak perlu tahu siapa aku."


"Kalau Mama tidak tahu siapa kamu sebenarnya, Mama akan salah paham kalau kita tinggal bersama."


"Om tenang saja, setelah kuliah aku akan mencari pekerjaan part time dan aku akan keluar dari rumah Om, jadi Mama Om tidak akan tahu," cetus Sera.


Damar bergeming, dia sendiri pun bingung antara mau melarang Sera keluar dari rumahnya atau tetap membiarkan wanita itu tinggal bersamanya. Dia tak pernah menduga akan terjebak di permainannya sendiri.


"Maaf, ya. Kamu jadi terbawa-bawa dalam masalah Om, ini semua gara-gara ide gila Riko, dari awal Om sudah tidak setuju," gerutu Damar.


"Tapi kenapa masih Om ikuti juga?"


Damar kembali terdiam, dia semakin merasa kesal dengan kebodohannya sendiri.


Melihat Damar diam, Sera merasa tidak enak hati, "Om kenapa? Aku salah bicara, ya?"


Damar tersentak lalu menggeleng cepat. "Tidak ... tidak apa-apa. Ya sudah, kalau kita bahas terus tidak selesai-selesai. Sebaiknya sekarang beli sesuatu untuk Mama!"


Sera mengangguk lalu beranjak dari duduknya.


Damar menautkan kedua alisnya, "Loh, kamu belum beli apa-apa?"


"Belum, Om. Tadi keburu bertemu Mama Om, jadi tidak sempat belanja."


"Ya sudah, mari Om temani kamu belanja, sekalian beli sesuatu untuk Mama."


"Eh, tidak usah, Om. Besok saja aku belanja sendiri," tolak Sera.


"Kamu kan sudah sampai sini, sudah sekalian saja. Yuk!" Damar bangkit dan menarik Sera pergi dari restoran itu.


Keduanya pun berjalan menyusuri pertokoan di dalam mall.


***