
Enam bulan kemudian, Sera sudah bisa berjalan dengan menggunakan tongkat, gadis itu juga sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Kini Sera sudah tertawa dan ceria lagi, meski terkadang dia masih merasa sedih jika teringat kedua orang tuanya yang telah berpulang.
Setiap hari Sera berlatih berjalan, Damar bahkan menyewa seorang fisioterapis untuk melatihnya, lelaki itu benar-benar menepati janji untuk bertanggung jawab dan menjaga Sera sebaik mungkin. Hubungan mereka juga sudah semakin dekat, Sera tak lagi merasa sungkan pada duda tampan itu.
Damar sedang memperhatikan Sera latihan berjalan, dia ingin mengetahui perkembangan terapinya. Sera melepaskan tongkat yang dia pegang dan perlahan-lahan mulai berjalan, tapi rupanya gadis itu belum bisa menjaga keseimbangannya dan hampir jatuh, Damar sigap menangkapnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Damar cemas.
"Tidak, Om. Aku hanya kurang menjaga keseimbangan saja."
"Iya, jangan khawatir Mas, itu wajar terjadi pada pasien patah kaki yang baru mulai berjalan tanpa tongkat, nanti pelan-pelan juga akan kembali terbiasa," sela fisioterapis yang menangani Sera.
Damar melepaskan Sera, "Kalau begitu kamu harus hati-hati, jangan dipaksakan kalau belum bisa."
"Ok, Om tenang saja."
Damar pun menjauh dari Sera dan kembali memperhatikan gadis itu latihan berjalan, berhubung hari ini weekend, jadi dia memiliki banyak waktu untuk bersantai, meskipun ada beberapa pekerjaan yang masih harus dia selesaikan dari rumah.
Sera mulai berjalan tanpa tongkat lagi, selangkah demi selangkah dia mulai maju, walau harus tertatih. Damar memandangnya dengan cemas, takut gadis itu terjatuh.
"Ayo, Sera! Semangat!" seru si fisioterapis.
Gadis itu kembali melangkah dan semakin lama semakin lancar, usahanya selama enam bulan ini tidak sia-sia.
"Aku bisa berjalan lagi!" Sera tertawa kegirangan.
Damar yang melihatnya pun tersenyum senang sambil bertepuk tangan, "Kamu keren, Sera!"
"Terima kasih, Om."
Yuni tiba-tiba datang menghampiri Damar. "Oppa, Riko datang."
"Oh, suruh ke sini!" pinta Damar.
Yuni kembali pergi untuk memanggil Riko, tak berapa lama bawahan Damar itu pun nongol.
"Selamat pagi, Pak," sapa Riko.
"Selamat pagi, Ko."
Perhatian Riko teralihkan ke Sera yang sedang berjalan tanpa tongkat.
"Eh, Sera sudah bisa berjalan?" ujar Riko.
"Iya, Mas Riko. Aku sudah bisa berjalan tanpa tongkat," sahut Sera bangga.
"Wah, kalau begitu sudah bisa diajak jalan-jalan, dong," seloroh Riko.
"Boleh, Mas."
"Eits, izin dulu sama papanya," ledek Yuni sambil melirik Damar.
"Oh iya, saya lupa kalau di sini ada papanya." Riko memandang Damar dengan senyum mengejek.
"Dasar anak nakal!" Damar meninju lengan Riko.
"Ampun, Pak. Saya hanya bercanda."
Semua orang pun tertawa, hubungan Damar dan Riko memang sangat dekat, mereka tak segan-segan bercanda dan tertawa bersama seperti saat ini.
Sera pun kembali melanjutkan latihan berjalannya bersama si fisioterapis, dia sangat bersemangat agar bisa lancar berjalan seperti dulu lagi. Sera berniat setelah ini dia akan mencari pekerjaan, sebab dia tak ingin terus-terusan menjadi benalu di rumah Damar dan menyusahkan lelaki itu lebih lama lagi. Meskipun Damar dan semua orang baik padanya, tapi tetap saja dia merasa tidak enak kalau hanya makan dan tidur saja.
Sementara itu di jalanan, Dafi sedang memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, dia lagi-lagi bertengkar dengan Luna karena masalah sepele.
Dia heran karena semakin hari kekasihnya itu semakin kekanakan, Luna selalu saja membesar-besarkan masalah tidak penting. Belum lagi sikap posesif dan egois wanita itu yang selalu membuat Dafi merasa terkekang, dia benar-benar stres menghadapi sang kekasih.
Padahal dulu Luna sangat manis, sehingga Dafi tertarik dan jatuh hati padanya. Namun sekarang wanita itu berubah drastis, dia bukan Luna yang dulu lagi.
"Sial!" pekik Dafi penuh emosi, dia semakin menambah kecepatan motornya.
Seketika Dafi merindukan Sera yang dewasa dan pengertian, gadis itu selalu bersikap baik dan sabar terhadapnya. Dafi merasa seperti mendapatkan karma atas perbuatannya yang telah menyakiti mantan kekasihnya itu.
"Jora," gumam Dafi lirih.
Namun malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, sepeda motor Dafi oleng dan menabrak sebuah mobil yang sedang berhenti.
Brak ....
Dafi terpental ke aspal dengan sangat keras lalu terseret beberapa meter, untung saja dia memakai helm yang melindungi kepalanya, tapi kaki dan tangannya terluka cukup parah. Orang-orang sontak berdatangan untuk menolongnya.
***
Di dalam ruang kerja, Damar sibuk membolak-balik berkas di hadapannya, dia sedang mempelajari proyek besar yang akan mereka kerjakan. Sedangkan Riko hanya memperhatikannya sambil sesekali bermain handphone.
"Pak," panggil Riko.
"Hem." Damar berdeham tanpa memandang Riko yang duduk di hadapannya.
"Mama anda sudah tahu tentang Sera?"
"Belum, aku belum cerita tentang Sera ke Mama. Nanti saja tunggu waktu yang pas, baru aku ceritakan."
"Anda tidak takut kalau tiba-tiba Mama anda datang dan melihat Sera ada di sini? Dia pasti salah paham, Pak."
"Mama itu kalau mau datang dia pasti memberikan kabar, tidak tiba-tiba."
"Iya, juga," sahut Riko, "terus apa anda tidak terpikir untuk menyekolahkan Sera"
"Aku ada niat mau menyekolahkan dia, tapi tunggu dia benar-benar pulih. Karena aku sadar dia juga butuh teman dan bersosialisasi di luar, dia tak mungkin selamanya berdiam diri di dalam rumah."
"Tapi saya rasa, alangkah baiknya jika dia tinggal di tempat lain. Dia sudah dewasa dan tidak mungkin selamanya tinggal di rumah ini bersama anda, kalau anak anda dan orang lain tahu, mereka juga akan salah paham."
"Iya, aku tahu. Tapi aku tidak bisa menyuruhnya pergi, aku akan membiarkan dia tetap tinggal di sini selama yang dia mau."
"Iya, terserah anda saja. Saya hanya memperingatkan agar tidak terjadi fitnah dan masalah di kemudian hari."
Damar mengangguk, kemudian menatap Riko curiga, "Eh, tunggu! Kamu ini sebenarnya peduli padaku atau pada Sera?"
"Saya peduli pada semua orang."
Damar terkekeh mendengar jawaban Riko, dia tahu bawahannya itu sedang bercanda. Jauh di dalam benak Damar, dia membenarkan ucapan Riko itu.
Ponsel Damar tiba-tiba berbunyi, dia melirik telepon genggam yang terletak di atas meja, ada panggilan masuk dari Anggi. Damar mengembuskan napas lalu menjawab telepon dari mantan istrinya itu.
***