My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 97.



Begitu tiba di rumah, Yuni langsung menyambut mereka dengan heboh, sedari tadi dia benar-benar mencemaskan keadaan Damar.


"Bagaimana keadaan Oppa?" Bisik Yuni pada Sera.


"Dia sudah dioperasi, tapi keadaannya kritis dan dia koma," jawab Sera sedih.


"Omo, Oppa!" seru Yuni kaget bercampur cemas, "semoga Tuhan melindunginya."


"Aamiin." Sera mengamini.


"Mbak, tolong buatkan susu hangat dan makanan untuk Oma!" pinta Dafi.


"Iya, baik." Yuni langsung bergegas ke dapur.


"Oma tidak mau makan," tolak Lusi dengan suara yang pelan.


"Oma kan belum makan malam, jadi Oma harus makan sekarang," ujar Dafi, sambil membantu Lusi berbaring di ranjangnya.


"Iya, Ma. Nanti Mama sakit kalau tidak makan," sela Sera.


"Kalian juga belum makan, anakku Damar pun belum makan. Bagaimana bisa aku makan?" ucap Lusi, dia kembali menangis tersedu-sedu kala mengingat sang putra.


Sera pun ikut meneteskan air mata. Sedangkan Dafi hanya memalingkan wajah, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


Yuni masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi susu hangat dan nasi berserta lauk pauknya, "Ini, silakan."


"Sekarang Mama makan dulu, ya! Aku mau mandi dan ganti baju," imbuh Sera.


"Iya, Nyonya. Biar saya yang suap," sahut Yuni.


Lusi hanya bergeming dengan pandangan kosong, air matanya terus saja menetes. Dia benar-benar terpukul dengan kejadian ini.


"Aku juga mau mandi dan ganti baju dulu, Oma," Dafi menimpali.


Meskipun Lusi tak menjawab, Dafi dan Sera tetap meninggalkan kamarnya. Kedua orang itu buru-buru mandi dan berganti pakaian.


Beberapa saat kemudian setelah selesai mandi, Dafi menemukan ponsel Anggi yang tergeletak di atas meja, dia mendadak penasaran dan berharap bisa menemukan petunjuk dari ponsel sang mama. Dafi membuka ponsel itu, ternyata terkunci.


"Apa sandinya?" Dafi bertanya-tanya, "ah, coba gunakan tanggal lahir Mama."


Dafi mencoba membuka sandinya dengan tanggal lahir Anggi, namun ternyata salah.


"Cckk, tidak bisa!" keluh Dafi, tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu, "apa jangan-jangan sandinya tanggal ulang tahun aku?"


Dafi kembali coba membuka sandi ponsel Anggi dengan tanggal lahirnya dan ternyata berhasil, dia kemudian mengecek benda pipih itu, dan terkesiap melihat beberapa pesan ancaman dari Datuk Dahlan.


"Jadi ternyata Mama sudah tahu peneror itu adalah orang suruhan suaminya? Tapi kenapa Mama tidak mengatakannya?"


Dafi kembali mengotak-atik ponsel itu dan melihat beberapa foto Datuk Dahlan, hatinya sontak panas dan geram melihat wajah lelaki yang telah menyakiti kedua orang tuanya itu.


"Aku akan menyerahkan ponsel ini ke polisi sebagai bukti dan petunjuk, aku bersumpah akan membuatnya membusuk di penjara," geram Dafi sembari menggenggam erat ponsel sang mama.


Dia kemudian keluar dari kamar dan berniat untuk kembali ke rumah sakit, namun dia justru bertemu Sera yang juga sudah selesai mandi dan memakai pakaian rapi.


"Sera? Kamu mau ke mana?"


"Tapi ini sudah larut malam, lagian tidak ada yang menjaga Oma."


"Ada Eonni yang akan menjaganya, lagi pula dia sudah lebih tenang setelah bicara dengan suaminya tadi. Jadi aku bisa pergi."


"Ra, sebaiknya kamu istirahat saja di rumah, biar aku saja yang menjaga Papa."


"Tidak, aku juga ingin menjaga Om Damar, aku tidak bisa tenang jika hanya diam di rumah," bantah Sera.


Dafi menghela napas pasrah, "Baiklah, kita kembali ke rumah sakit."


Sera mengangguk, mereka pun bergegas pergi bersama.


***


Sementara itu di sebuah kamar, Anggi sedang tergolek lemas tanpa sehelai benang pun, wajahnya penuh lebam kebiruan akibat dipukul.


Seorang pria bertubuh kekar dan bertelanjaang dada menatapnya dengan tajam, "Dah macam ni, masih nak buat lagi?"


"Awak jahat! Saya benci awak!" ucap Anggi pelan, air matanya menetes pilu.


"Awak kata saya teruk? Saya cuma tak nak isteri saya bertekak dengan saya, saya nak awak tunaikan semua hajat saya," ujar lelaki itu, dia tak lain adalah Datuk Dahlan, suami Anggi.


"Tetapi saya bukan anak patung awak yang boleh awak buat sesuka hati!"


"Saya tak kisah! Saya memberi amaran kepada awak, jangan cuba lari dari saya lagi atau saya akan membuat awak lebih sengsara daripada ini!" ancam Datuk Dahlan dingin.


"Saya lebih rela mati daripada hidup bersama awak," bantah Anggi.


"Tak semudah itu, sayang." Datuk Dahlan meraih rahang Anggi dan mencengkeramnya dengan kuat, "sebelum awak mati, saya akan buat awak menyesal dulu sebab berani lawan saya. Ingat itu!"


Datuk Dahlan melepaskan Anggi dengan kasar.


"Awak yang akan menyesal sebab melakukan semua ini pada saya!" balas Anggi.


"Betul ke? Jika ya, kita akan lihat. Awak atau saya yang akan menyesal?" Datuk Dahlan melenggang pergi meninggalkan Anggi yang merana dan menangis terisak-isak.


Anggi tak pernah menyangka akan menikah dengan lelaki posesif dan kasar seperti Datuk Dahlan, dia menyesal telah menerima pinangan lelaki berkebangsaan Malaysia itu.


Dia akui selama ini hidupnya bergelimang harta, apa pun yang dia inginkan, Datuk Dahlan pasti berikan. Tapi lama-lama dia merasa hidupnya seperti di sangkar emas, serba berkecukupan tapi tidak bebas.


Datuk Dahlan tak pernah mengizinkan Anggi keluar rumah, dia juga selalu memantau aktifitas Anggi dan melarang istrinya itu berteman dengan pria mana pun, bahkan Anggi tidak boleh bertemu Dafi juga keluarganya. Makanya selama ini Anggi tidak pernah ada untuk sang putra, walaupun sebenarnya dia sangat merindukannya.


Anggi pernah protes, tapi Datuk Dahlan marah dan memukulnya. Begitu seterusnya, setiap kali Anggi berusaha membantah, dia selalu dipukuli. Hal itu benar-benar membuat Anggi tersiksa dan frustasi.


Hingga beberapa hari yang lalu, Anggi mendapatkan kabar jika Dafi masuk rumah sakit, dia tak bisa lagi menahan kecemasan dan rasa rindunya pada sang putra. Diam-diam dia membeli tiket pesawat, dan keesokan harinya di saat Datuk Dahlan pergi bekerja, Anggi kabur dari rumah dan pulang ke Indonesia.


Namun rupanya Datuk Dahlan tak tinggal diam, dia mencari Anggi dan dengan mudah menemukan tempat persembunyian wanita itu. Dia berulang kali meminta Anggi pulang dan bahkan mengancam sang istri dengan meneror keluarga Damar, tapi Anggi menolak dan mengabaikan ancamannya.


Datuk Dahlan pun habis kesabaran, dia memutuskan untuk datang ke Indonesia dan memerintahkan orang-orang bayarannya untuk menculik Anggi, hingga terjadilah tragedi yang melukai Damar. Namun tentu Anggi tak tahu apa yang menimpa mantan suami itu.


***