
Setelah selesai makan, Yuni pun membereskan meja makan. Sera ikut beranjak dan ingin membantu.
"Kamu mau apa, sayang?" tanya Lusi.
"Mau membantu Mbak Yuni, Ma," jawab Sera.
"Kamu tidak usah repot-repot, sayang." ujar Lusi.
"Iya, saya bisa sendiri, kok," sambung Yuni sungkan.
"Tidak apa-apa, kasihan Mbak Yuni, soalnya piring yang kotor banyak." Sera bersikeras.
"Sudah biarkan saja Sera membantu Yuni, Ma." Damar menengahi.
"Ya sudahlah kalau begitu." Lusi mengalah.
Sera pun membantu Yuni membawa piring-piring kotor ke dapur.
"Kamu memang tidak salah pilih istri, Sera itu gadis yang baik dan rajin, kamu beruntung bisa menikah dengannya," puji Erick kagum.
"Dari awal Mama memang sudah yakin kalau Sera gadis yang baik, makanya Mama desak Damar untuk segera menikahinya." Lusi menyela.
Damar hanya tersenyum menanggapi ucapan kedua orang tuanya itu, dia tak bisa bayangkan jika suatu saat mereka tahu yang sebenarnya.
Sementara itu di dapur, Sera dan Yuni mencuci piring sambil mengobrol.
"Eh, kamu belum jawab pertanyaan aku kemarin."
Sera mengernyit, "Pertanyaan yang mana, Eonni?"
"Waktu kamu tanya tentang nama anaknya Oppa, aku kan tanya apa kamu mengenalnya? Tapi kamu belum jawab."
Sera tercenung, dia tak menyangka Yuni masih mengingat hal itu.
"Sera kenapa diam? Ayo jawab, kamu kenal dengan Dafi?" Yuni mengulang pertanyaannya.
"Hem, tapi Eonni janji jangan bilang ke siapa-siapa kalau aku jawab, ya?"
Yuni mengangguk, "Iya, aku janji."
"Janji?" Sera memastikan lagi.
"Iya, Sera! Ayo cepat katakan! Aku penasaran ini," desak Yuni tidak sabar.
"Dafi mantan pacarku yang waktu itu aku ceritakan ke Eonni," ungkap Sera.
Yuni tercengang dan menghentikan aktivitasnya, "Omo ... omo .... kamu serius?"
"Iya, Eonni. Aku juga baru tahu kemarin saat bertanya nama anaknya Om Damar ke Eonni, selama ini aku sama sekali tidak mengetahuinya," sesal Sera.
"Aigo, sempit sekali dunia ini. Putus dari anaknya, malah menikah dengan ayahnya. Seperti di novel-novel saja," tutur Yuni tak habis pikir.
"Sstt, Eonni jangan keras-keras bicaranya! Nanti Om Damar dan yang lainnya dengar."
Yuni mengernyit, "Memangnya kenapa kalau mereka dengar?"
"Aku takut mereka berpikir macam-macam tentang aku," jawab Sera.
"Kenapa harus berpikiran macam-macam? Kamu kan tidak tahu sebelumnya kalau mereka itu ayah dan anak."
"Lagipula kalian kan hanya pacaran dan sudah putus. Jadi tidak masalah kalau kamu menikah dengan ayahnya, kecuali kalau kalian sudah pernah berhubungan badan, baru jadi masalah," lanjut Yuni.
Sera menggeleng cepat dan membantah, "Aku tidak pernah melakukan perbuatan terlarang itu, Eonni! Aku berani bersumpah atas nama ibuku."
"Iya-iya, aku percaya," balas Yuni, "tapi mau sampai kapan kamu akan menutupi semua ini? Cepat atau lambat, semua akan tahu."
"Itulah Eonni, aku juga bingung," keluh Sera.
"Bingung kenapa?" Damar tiba-tiba datang dan menyela.
"Ti-tidak ada apa-apa, Om," bantah Sera gugup, sementara Yuni hanya bergeming dan melanjutkan aktivitasnya.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita ke depan, yuk! Kamu sudah ditungguin Mama dan Papa," ajak Damar.
Sera mengangguk patuh, "I-iya, Om."
Kedua insan itu segera meninggalkan Yuni di dapur.
***
Di ruang tamu, Lusi dan Erick sudah menunggu pasangan pengantin baru itu.
"Ini dia menantu Mama," ucap Lusi saat melihat Sera dan Damar berjalan ke arah mereka.
Sera hanya tersenyum, walaupun sejujurnya dia masih gugup dan canggung, takut Damar mendengar obrolannya dengan Yuni tadi.
"Katanya ada yang mau Mama dan Papa sampaikan, apa?" Damar bertanya dengan tidak sabar.
"Kamu ini tidak sabaran banget, sih?" protes Lusi.
"Habis aku penasaran, Ma."
"Ini buat kalian." Erick meletakkan dua buah tiket pesawat di hadapan anak dan menantunya itu.
"Apa ini, Pa?" tanya Damar bingung.
"Tiket," jawab Erick enteng.
"Iya, aku tahu ini tiket. Tapi tiket untuk apa?" Damar kembali bertanya dengan gemas.
"Tiket pesawat ke Venesia untuk kalian berbulan madu, besok kalian berangkat," sahut Erick.
Sera dan Damar terkesiap.
"Itu hadiah pernikahan dari Mama dan Papa, kami ingin bisa segera menimang cucu," sambung Lusi, membuat wajah sepasang pengantin baru itu seketika merona.
"Tapi aku tidak bisa pergi, Ma. Aku harus bekerja." Damar membantah, berharap kata-katanya ini bisa menjadi alasan untuk menolak hadiah pemberian kedua orang tuanya itu.
"Kamu kan bisa ambil cuti," usul Lusi.
"Iya, tapi ...."
"Damar, kamu jangan cari-cari alasan! Itu perusahaan milik kamu, jadi kamu bisa atur semuanya," potong Erick, membuat Damar tak jadi melanjutkan ucapannya.
"Iya, kamu ini apa-apa selalu saja abai. Kemarin pernikahan, sekarang bulan madu juga mau kamu lupakan. Pokoknya Mama dan Papa tidak mau tahu, kalian harus pergi bulan madu. Setelah itu ajak Sera ke Roma, Mama mau kenalkan Sera ke teman-teman Mama di sana," sela Lusi, dia sudah mengurus paspor Sera dan mengatur keberangkatan mereka seminggu sebelum pernikahan.
Damar mengembuskan napas pasrah, dia selalu saja sulit membantah keinginan orang tuanya itu. Sementara Sera hanya tertunduk diam dengan wajah yang merah.
"Damar, kamu dengar Mama?" Lusi memastikan.
"Iya, Ma. Aku dengar, kok," sahut Damar lesu.
"Ya sudah, sekarang kalian istirahat dulu. Mama sudah merapikan kamar kamu, barang-barang Sera juga sudah dipindahkan Bobi ke dalam kamar. Nanti minta tolong Yuni untuk packing barang yang mau dibawa besok."
"Baik, Ma." Damar beranjak dari duduknya dan menarik lengan Sera, "Yuk!"
Sera ikut bangkit, lalu menatap Lusi dan Erick malu-malu, "Aku ke kamar dulu, Ma, Pa."
"Iya, sayang."
Erick hanya mengangguk sembari tersenyum.
Kedua pasangan suami istri itu pun melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua, sebenarnya Damar kesal namun dia tak mau membuat papa dan mamanya marah jika terus membantah keinginan mereka.
***