My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 88.



Yuni sedang membersihkan rumah, dia menyapu lantai sambil melantunkan lagu Korea kesukaannya.


"Selamat siang."


Yuni terperanjat ketika mendengar suara yang tidak asing baginya itu, dia sontak berbalik dan melotot kaget saat melihat Lusi sudah berdiri di belakangnya.


"Nyo-Nyonya Lusi?"


"Kamu kenapa? Seperti lihat hantu saja," gerutu Lusi sambil melangkah mendekati Yuni.


Yuni hanya bergeming sambil menelan ludah, dia takut terjadi keributan jika Lusi tahu ada Anggi di rumah ini.


"Rumah kok sepi, ke mana semua orang?" tanya Lusi.


"Oppa ... eh, maksudnya Mas Damar dan istrinya pergi."


"Kalau Dafi?"


"A-ada di kamarnya, Nyonya."


"Baiklah, aku mau menemui Dafi dulu. Kamu tolong bawa barang-barang ini ke kamar tamu saja!" pinta Lusi sambil menunjuk kopernya.


Namun di saat bersamaan Anggi menuruni anak tangga sambil membawa piring kotor bekas makan sang putra, kemunculannya menarik perhatian Lusi, wanita paruh baya terkejut dan itu sontak menatapnya dengan tidak suka.


"Sedang apa kau di sini?" sergah Lusi.


Anggi tercengang melihat Lusi, dia mendadak gugup, "Ta-Tante Lusi?"


"Aku tanya sedang apa kau di sini?" Lusi mengulang pertanyaannya dengan nada tinggi.


"A-aku sedang mengurus Dafi, dia meminta ku untuk tinggal di sini," dalih Anggi.


"Kalau begitu sekarang juga kau pergi dari sini! Dafi biar aku yang urus!" Lusi melangkah mendekati Anggi lalu menarik lengan wanita itu dengan kasar, sehingga piring yang dia pegang jatuh lalu pecah dan melukai kaki Anggi.


"Aduh, kakiku!" Pekik Anggi.


Karena mendengar suara gaduh, Dafi pun keluar dari kamar dan segera turun ke lantai bawah. Dia terkesiap melihat mamanya diseret oleh sang nenek dan terdapat darah di lantai.


"Mama!" jerit Dafi dan bergegas menghampiri sang ibu, "Oma, lepaskan Mama!"


Lusi pun melepaskan Anggi dan memandang kesal pada wanita itu.


"Mama tidak apa-apa?" tanya Dafi cemas.


"Kaki Mama sakit." Anggi meringis menahan sakit di kakinya.


Dafi menatap tajam Lusi, "Apa yang Oma lakukan? Lihat, kaki Mama sampai terluka dan berdarah seperti ini!"


Lusi terkejut melihat banyak bercak darah di lantai, "Oma tidak tahu jika kakinya terluka, Oma hanya tidak mau dia ada di sini."


"Aku yang minta Mama tinggal di sini, dan Papa sudah mengizinkannya."


Lusi semakin merasa kesal karena ternyata Damar yang mengizinkan mantan istrinya itu tinggal di sini.


"Oma, aku mohon jangan usir Mama! Biarkan Mama di sini untuk sementara waktu." pinta Dafi penuh harap.


"Dafi, dia sudah menikah dan papa kamu juga, tidak baik kalau mereka tetap tinggal serumah. Hargai perasaan pasangan mereka, jangan sampai menimbulkan fitnah dan masalah," ujar Lusi.


"Oma, Sera tidak keberatan, kok. Dan suami Mama ...." Dafi mengjeda ucapannya, lalu menatap wajah sendu Anggi.


Lusi mengernyit, "Kenapa dengan suaminya?"


"Mama dan suaminya akan segera bercerai," lanjut Dafi.


Lusi terperangah, "Bercerai?"


Dafi mengangguk sambil mendekap Anggi, dia lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga sang ibu.


Lusi benar-benar tak menyangka jika kehidupan Anggi yang terlihat baik-baik saja ternyata sangat mengerikan.


"Jadi aku mohon izinkan Mama sementara tinggal di sini, aku janji akan segera membawa Mama pergi." Dafi memohon pada Lusi.


Lusi termangu, dia memang tidak suka pada Anggi, bahkan membenci wanita itu. Tapi dia tak ingin mengecewakan Dafi dan membuat cucunya itu bersedih.


"Kalau Papa kamu dan Sera tidak keberatan, Oma mau bilang apa? Tapi Oma tidak ingin keluarga kita terlibat dalam masalah rumah tangga Mamamu, jangan sampai suaminya itu menuduh Papa kamu yang tidak-tidak karena sudah menyembunyikan istrinya."


"Iya, aku janji tidak akan melibatkan keluarga ini, aku akan segera pulang ke Surabaya jika dia sudah menyetujui gugatan cerai dariku," sela Anggi sambil mengusap air matanya.


Lusi tak membalas ucapan Anggi, dia hanya mengembuskan napas dan memalingkan wajahnya dengan angkuh.


***


"Mama?" gumam Damar dengan mata melotot.


Mereka bingung karena Lusi mendadak muncul tanpa pemberitahuan, apalagi wanita itu baru saja pulang ke Italia tapi kini dia datang lagi ke Indonesia di saat masalah semakin rumit dan pernikahan mereka diambang perpisahan.


Lusi hanya menatap keduanya dengan sorot mata yang tak bisa diartikan, tak ada senyum apalagi pelukan hangat seperti biasanya.


Damar melangkah mendekati Lusi, "Mama kapan datang? Kenapa tiba-tiba?"


"Baru saja," jawab Lusi ketus.


Damar bisa menebak jika ada yang tidak beres sehingga mamanya itu tiba-tiba muncul.


"Kenapa tidak bilang, kan aku bisa jemput ke bandara, Ma."


"Sudahlah, jangan banyak basa-basi! Sekarang jelaskan kenapa kalian mengizinkan Anggi tinggal di sini?" Lusi melayangkan pertanyaan tanpa basa-basi.


Damar sudah menduga jika sang ibu pasti akan memprotes keputusannya itu.


"Aku terpaksa, Ma. Ini demi Dafi, aku tidak ingin dia kecewa padaku jika menolak permintaannya. Lagi pula dia tidak lama di sini, hanya beberapa hari saja, kok," terang Damar.


"Siapa bilang? Dia di sini sampai suaminya menerima gugatan cerai darinya."


Damar terkesiap, "Cerai? Dia mau bercerai?"


Sera juga terkejut mendengar ucapan Lusi itu.


"Iya, dia ingin bercerai dari suaminya, tapi suaminya tidak mau dan dia kabur. Jadi dia ingin bersembunyi di sini."


"Tapi tadi dia tidak mengatakan apa pun, Dafi hanya meminta izin agar dia tinggal beberapa hari di sini. Tidak ada membahas masalah perceraian," bantah Damar.


"Dafi sudah cerita semua ke Mama dan jujur sebenarnya Mama keberatan dia ada di sini."


"Aku juga keberatan, Ma. Tapi Mama kan tahu semua ini demi Dafi," sambung Damar.


Lusi mengalihkan pandangannya ke Sera yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan mereka.


"Kamu tidak cemburu mantan istri Damar tinggal di sini?" tanya Lusi.


Sera bingung menjawab pertanyaan Lusi itu, jauh di dalam hati dia memang tidak suka Anggi tinggal di sini, apa itu bisa diartikan sebagai cemburu? Atau karena dia hanya kesal pada Anggi sebab sudah menghinanya kemarin?


"Sera juga tidak suka dia ada di sini, Ma," sela Damar.


"Kenapa kamu yang jawab? Mama bertanya pada Sera, bukan kamu!" protes Lusi.


Damar sontak terdiam.


"Iya, Ma. Mas Damar benar, aku tidak suka dia ada di sini, tapi mau gimana lagi? Mas Damar tidak mau mengecewakan putranya," jawab Sera pura-pura cemberut.


"Baiklah, untuk sementara ini kita biarkan saja dulu dia tinggal di sini. Tapi kalau nantinya terjadi masalah gara-gara dia, Mama minta kamu tegas usir dia dari rumah ini. Mama tidak mau hubungan kalian nantinya jadi terganggu karena kehadiran dia."


Damar mengangguk, "Iya, Ma."


"Ya sudah, Mama mau istirahat dulu di kamar tamu." Lusi beranjak lalu melangkah pergi.


Damar dan Sera mengembuskan napas lega, tapi keduanya masih bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan Lusi datang mendadak begini?


"Terakhir kali mama Om datang tiba-tiba, karena mendengar kabar jika Om sudah punya pacar. Dan kali ini pasti ada sesuatu yang dia dengar, tapi apa, ya?"


"Entahlah, Om juga tidak tahu. Tapi kenapa kebetulan sekali di saat Anggi ada di sini, Mama pun datang. Apa ada yang mengadu ke Mama tentang Anggi?" Damar menebak-nebak.


"Mungkin saja, Om. Tapi siapa? Kita berdua tidak mungkin, Eonni dan Mas Bobi apa lagi. Atau jangan-jangan Dafi?"


"Om rasa tidak, Dafi tidak mungkin melakukan itu," sanggah Damar.


"Lalu siapa, dong?"


"Nanti Om akan cari tahu, sekarang Om mau mandi dulu, sudah gerah banget karena berkeringat tadi."


"Iya, aku juga mau mandi."


"Mandi bareng, yuk!" Damar berbicara sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Sera sontak melotot dan memukuli pundak Damar, "Ih, genit! Dasar om-om mesum!"


Bukannya kesakitan, Damar malah tertawa terbahak-bahak.


Dari lantai atas Anggi memandangi kedua insan itu dengan tatapan yang sulit diartikan, rupanya sejak tadi dia memperhatikan mereka, dia masih penasaran dengan kata-kata Dafi waktu itu.


***