
"Sera?" ucap Dafi pelan, lalu melirik tangan Damar yang menggandeng tangan Sera.
Semua orang terkejut karena ternyata Dafi sudah mengenal Sera. Sementara Sera sendiri hanya bisa terdiam dengan wajah tegang.
Lusi lantas memandang Sera dan sang cucu bergantian, "Kalian sudah saling kenal?"
"Dia itu ...."
"Hem, ka-kami pernah satu sekolah, Ma," potong Sera cepat sebelum Dafi selesai bicara.
Dafi tercengang mendengar jawaban Sera, dia tak menyangka Sera hanya menganggapnya teman satu sekolah alih-alih mantan kekasih.
"Jadi kalian teman sekolah?" Lusi memastikan.
"Wah, sangat kebetulan sekali," sela Erick.
Dafi masih memandangi Sera yang berdiri tepat di hadapannya, dia masih sangat syok dan kecewa dengan semua ini. Sementara Sera tak mau menatap mantannya itu, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Dafi, sekarang Sera adalah istri papa kamu." Lusi menegaskan, meskipun tak ada yang bertanya.
Bagai ada ribuan belati yang menghujam hati Dafi, terluka dan sakit minta ampun. Sungguh dia tak pernah menduga akan mendapatkan kenyataan jika mantan kekasih yang masih dia sayangi itu kini sudah menikah dengan sang ayah. Rasa marah dan tidak rela seketika menggelayuti perasaannya yang kecewa.
Tak ingin lebih lama lagi menahan amarah dan cemburu, Dafi pun beranjak lalu memutuskan untuk pergi, membawa rasa sakit serta kecewa yang teramat sangat, dia semakin menyesal telah menyakiti dan melepaskan Sera.
"Dafi, kamu mau ke mana, sayang?" tanya Lusi panik dan cemas.
"Dafi! Tunggu!" panggil Damar.
Meskipun mendengar teriakkan Papa dan Omanya, tapi Dafi tak mau peduli, dia tetap melangkah pergi meninggalkan restoran tersebut.
Sedangkan Sera hanya diam menatap kepergian Dafi, perasaannya berkecamuk. Dia tahu Dafi pasti sangat marah dan berpikiran macam-macam tentangnya.
"Aku akan susul dia." Damar hendak mengejar Dafi, tapi Erick melarangnya.
"Sudah tidak usah! Biarkan dia menenangkan diri dulu, nanti lama-lama dia juga bisa menerima semuanya."
Damar pun mengurungkan niatnya mengejar sang putra.
"Maaf, ya, Sera? Mungkin Dafi marah karena papanya menikah lagi, apalagi menikahnya dengan teman sekolahnya sendiri," tutur Lusi, dia merasa tidak enak pada Sera karena sikap Dafi itu.
"Tidak apa-apa, Ma," balas Sera dengan wajah sendu, dia tahu alasan Dafi bersikap demikian.
"Apa sebelumnya kamu sudah tahu kalau Damar ini ayahnya Dafi?" Erick menatap curiga.
Sera menggeleng, "Tidak, Pa. Aku juga baru tahu ini."
"Pa, Dafi itu sangat membenciku, dia tidak akan menceritakan tentang aku pada teman-temannya. Jadi mana mungkin Sera bisa tahu siapa ayahnya Dafi," sambung Damar dengan raut sedih.
"Iya, juga," balas Lusi, lalu menghela napas, "entah sampai kapan dia akan terus bersikap keras kepala seperti itu?"
"Entahlah, Ma."
"Kamu yang sabar, suatu saat dia pasti sadar jika kamu adalah ayah yang baik." Erick menimpali.
Damar hanya mengangguk.
Sera merasa prihatin dengan hubungan ayah dan anak itu, memang dia akui jika Dafi tidak pernah sekalipun menceritakan tentang ayahnya, malah Dafi mengatakan jika ayahnya entah ke mana. Sebegitu bencinya Dafi terhadap Damar, sampai dia menganggap sang ayah sudah mati.
"Rencana Mama buat makan malam bersama jadi berantakan, padahal Mama sudah susah payah membujuk Dafi agar dia mau ikut," sesal Lusi.
"Sudahlah, Ma. Mau gimana lagi? Mungkin belum saatnya kita bisa berkumpul dan makan bersama Dafi, sekarang kita makan berempat saja dulu," imbuh Erick.
"Mama sudah tidak berselera, Pa," keluh Lusi.
"Ish, Papa!" Lusi merajuk.
Akhirnya mereka makan malam berempat, tanpa kehadiran Dafi.
Sementara itu, Dafi memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, dia mencengkeram kemudi dengan sangat kuat. Rasa sesal kian memenuhi pikiran dan perasaannya, bercampur amarah dan cemburu yang semakin merajalela. Dia tak bisa menepis bayangan Sera dan Damar yang bergandengan tangan dengan begitu mesra, hatinya sungguh tidak terima.
"Kenapa harus Sera? Kenapa harus dia, Pa?" teriak Dafi penuh emosi, namun suaranya seolah hilang begitu saja terbawa angin.
Rasanya bagai mimpi saat mendengar sang oma mengatakan jika sekarang Sera adalah istri papanya, dia jelas menolak itu.
"Aku tidak terima Papa menikah dengan Sera, aku tidak terima!" geram Dafi.
***
Setelah selesai makan malam, Damar beserta keluarganya pulang ke rumah. Di perjalanan, Sera bergeming, dia masih berusaha menenangkan hatinya. Tapi dia bingung kenapa Dafi tidak berusaha untuk membantah pengakuannya tadi dan lebih memilih pergi? Apa karena pemuda itu terlalu syok? Atau terlalu marah?
Damar menyadari sikap diam Sera itu, dia merasa sedikit cemas.
"Kamu baik-baik saja?" Damar memastikan keadaan Sera.
"Iya, Om. Aku baik-baik saja."
Sera kembali diam, dia memalingkan wajahnya dan menatap nanar keluar jendela mobil.
Damar sesekali melirik Sera, dia merasa tidak enak pada gadis itu karena kejadian di restoran tadi.
"Om minta maaf atas sikap Dafi," ucap Damar sungkan.
"Tidak apa-apa, Om tidak perlu minta maaf," sahut Sera tanpa memandang Damar.
"Sebenarnya hubungan kami memang sudah tidak baik sebelumnya, jadi mungkin itu salah satu alasan dia bersikap seperti tadi. Jadi Om harap kamu jangan masukkan ke hati, ya!"
"Iya, Om," balas Sera, dia sudah mengetahui semua itu dari Yuni.
"Oh iya, kalau Om boleh tahu, bagaimana hubungan kamu dan Dafi saat di sekolah?" tanya Damar.
Sera terkesiap, jantungnya sontak berdebar kencang dan mendadak gugup, "Baik, Om."
"Kalian berteman dekat?"
Sera menggeleng dengan ragu, "Hem, tidak, Om."
"Apa dia nakal di sekolah?" tanya Damar lagi, dia sedikit penasaran dengan kelakuan Dafi saat di sekolah.
"Tidak, dia baik dan sopan, dia juga siswa yang pintar dan cukup populer di sekolah. Walaupun terkadang sikapnya dingin pada sebagian orang yang tidak dia sukai," sahut Sera sembari mengenang mantan kekasihnya tersebut.
Damar termangu, dia merasa ada yang aneh dengan jawaban Sera itu.
"Katanya kalian tidak dekat, tapi sepertinya kamu mengenal Dafi dengan baik," sindir Damar.
Sera terdiam, dia sadar telah terbawa perasaan dan lupa diri saat menceritakan tentang sang mantan.
"Hem, i-itu yang aku dengar dari teman-temanku, Om," kilah Sera semakin gugup.
"Oh."
Keduanya kembali diam dengan pikiran masing-masing, tak ada pembicaraan lagi di antara mereka.
***