
Sera dan Damar sudah di kamar, mereka merasa lega karena tidak ada kebohongan dan sandiwara yang harus mereka tutupin lagi.
"Rasanya tenang banget!" seru Sera.
"Iya, ternyata apa pun alasannya, jujur itu jauh lebih baik."
"Benar banget, Om. Saat berbohong aku seperti dikejar dosa dan rasa takut."
Damar menatap Sera dengan wajah masam, membuat gadis itu bingung.
"Kenapa, Om? Apa aku salah bicara?" tanya Sera.
"Tidak, kamu tidak salah bicara. Cuma kurang enak saja dengar kamu manggil Om."
"Lah, kan memang selama ini aku manggilnya Om?"
"Iya, tapi kan sekarang kita sudah jadi suami istri sungguhan, masa masih manggil Om juga, sih!" protes Damar.
"Jadi aku harus manggil apa, dong? Mas? Akang? Atau Abang?" seloroh Sera.
Damar mendekati Sera dan langsung memeluk pinggang ramping istrinya itu, "Manggil sayang."
Sera sontak tertawa terbahak-bahak.
Damar mengernyit heran, "Kenapa kamu tertawa? Memangnya ada yang lucu?"
"Tidak ada yang lucu, sih! Aku cuma geli saja kalau harus manggil sayang, kayak berasa bucin gitu," dalih Sera.
"Ya sudah, deh. Kamu panggil Mas saja, biar aku yang manggil kamu sayang. Kan aku bucin nya kamu," ujar Damar sembari mencolek hidup mancung Sera.
"Wah, ternyata selain mesum, bucin juga," ledek Sera lalu kembali tertawa.
Damar merasa gemas melihat istrinya itu.
"Kamu berani mengejek suami sendiri? Awas, ya!"
Damar tiba-tiba menggendong tubuh Sera dan membanting nya ke atas kasur lalu mengungkungnya.
Sera seketika panik, "Eh, Om, hem, maksudnya Mas mau apa?"
"Menghukum istri nakal yang berani mengejek suaminya sendiri." Damar langsung mendekati Sera dan mencium bibir gadis itu dengan lembut.
Meskipun awalnya Sera tegang dan sedikit kaku, tapi lama kelamaan gadis itu mulai menikmati dan membalas perlakuan Damar.
Sera hampir kehabisan napas karena sentuhan Damar semakin menggebu dan penuh hasrat, seolah tak membiarkan dirinya untuk sekedar menguasai diri.
Dia bisa bernapas lega saat Damar melepaskan tautan bibir mereka dan menatapnya dengan mata yang sayu.
"Aku boleh melakukannya sekarang?" tanya Damar, dia tak ingin menyentuh Sera jika gadis itu belum siap.
Sera hanya mengangguk dan tak bisa menjawab sebab tengah terkesima sendiri dengan hawa panas yang membakar wajahnya yang pasti sekarang sudah merah padam.
Dengan gerakan pelan tapi tetap melengah kan, Damar mulai menyatukan diri mereka. Sera kini terhanyut ke dalam gelombang yang paling melenakan, membuat jantungnya kian berdentam-dentam tak karuan. Perutnya bahkan seperti dipenuhi ribuan kepakan sayap aneh yang membuat seluruh tubuhnya meremang.
Damar jelas seseorang yang profesional dan sudah terlalu lama menahan diri, dia seolah kehausan dan tak ingin membuang waktu. Meskipun ini yang pertama kali untuk Sera, tapi dia mampu melakukannya dengan sangat baik.
Dan sikap terbuka Sera berhasil memancing Damar untuk semakin menjelajah lebih dalam, demi bisa menikmati telaga kenikmatan yang sudah lama dia inginkan dan berakhir dengan meninggalkan gigitan manis di leher wanita yang dia cintai itu.
Kini semuanya telah usai, tinggal menyisakan rona bahagia dan senyum suka cita di wajah dua insan itu.
Dengan perlahan Damar menarik kepala Sera agar bersandar di dadanya, "Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintai Mas," balas Sera, namun dia masih terlalu malu untuk menatap sang suami.
Damar mengusap titik-titik keringat di dahi Sera, lalu mengecupnya dengan penuh kasih sayang, "Sekarang tidurlah, mimpi yang indah."
Sera hanya mengangguk lalu memejamkan mata, menikmati aroma maskulin dan suara detak jantung Damar hingga akhirnya terlelap di dalam pelukan lelaki itu.
***
Keesokan paginya, Damar terbangun lebih dulu, dia tersenyum menatap wajah damai Sera yang tertidur di dalam pelukannya. Dia mengecup bibir yang sedikit terbuka itu, namun ternyata perbuatannya itu membuat Sera menggeliat. Damar buru-buru memejamkan matanya dan berpura-pura tidur kembali.
Sera membuka mata, wajah gadis itu langsung merona saat menyadari dirinya tidur di dalam pelukan Damar tanpa sehelai benangpun. Dia memandangi wajah Damar sembari mengelus rahang lelaki itu yang mulai ditumbuhi bulu-bulu janggut sebab selama di rumah sakit, Damar tidak pernah bercukur. Sera masih tak menyangka jika akhirnya dia menjadi istri sungguhan Damar, lelaki yang sudah dia anggap seperti ayah.
Namun tiba-tiba Damar kembali mengecup bibir Sera dengan mata terpejam, membuat gadis itu terkejut setengah mati.
"Astaga, aku kaget!" Sera memukul pelan pinggang Damar yang langsung membuka mata dan tertawa.
Sera yang kesal pura-pura merajuk, dia bangkit dan hendak turun dari ranjang, tapi dengan cepat Damar memeluk dan menariknya agar kembali berbaring.
"Kamu mau ke mana, sayang?"
"Aku mau mandi," jawab Sera.
"Kalau begitu mandi bareng, yuk!" ajak Damar dengan wajah genit.
Sera sontak melotot, "Tidak! Aku mau mandi sendiri saja."
"Kalau tidak mau, aku paksa!" Damar beranjak dan langsung menggendong Sera ala bridal style.
"Eh, Mas mau apa?"
"Mau ajak kamu mandi bareng," sahut Damar sambil membawa Sera ke kamar mandi.
"Tapi aku mau mandi sendiri!"
"Bareng aku saja." Damar memaksa tanpa memedulikan penolakan Sera.
Keduanya pun mandi bersama sambil sesekali bercumbu mesra dia dalam bathtub, Damar seperti tak ingin menyia-nyiakan waktu sedikit pun tanpa bermesraan dengan sang istri, tampaknya dia benar-benar bucin.
***