
Damar telah dipindahkan ke ruang perawatan, dia masih lemah meskipun sudah bisa bicara dan tidak memerlukan alat bantu pernapasan lagi. Lusi yang duduk di kursi roda menangis bahagia di sisi Damar, dia bersyukur karena putranya itu bisa bangun dari koma.
Sera dan Yuni yang berdiri di belakang Lusi hanya bisa terdiam menahan rasa haru, mereka juga senang sebab Damar akhirnya bisa melewati masa kritisnya.
"Mama takut sekali saat kamu koma, sayang. Mama rasanya tak sanggup jika sampa terjadi sesuatu yang buruk padamu," ucap Lusi sambil mengusap kepala Damar.
"Mama jangan menangis lagi, sekarang aku sudah baik-baik saja, kok." Damar berbicara dengan lemah.
"Iya, Ma. Kalau Mama begini, nanti keadaan Mama bisa memburuk lagi." Sera mengingatkan mertuanya itu.
Mendengar Sera bicara, Damar pun menatap gadis itu, begitu juga sebaliknya. Keduanya saling melempar pandangan yang penuh arti, Yuni yang menyadarinya langsung berdeham.
"Ehem!"
Sera dan Damar seketika mengalihkan pandangan mereka ke arah lain, keduanya mendadak canggung.
"Kamu kenapa, Yun?" tanya Lusi yang heran mendengar deheman asisten rumah tangga putranya itu.
"Ada yang gatal, Nyonya," sahut Yuni sambil menggaruk-garuk lehernya.
"Minum sana!" pinta Lusi.
"Sudah hilang kok gatalnya, Nya," balas Yuni.
Sera yang tahu Yuni sedang meledeknya hanya mengulum senyum sambil tersipu-sipu malu.
Pintu ruang perawatan Damar terbuka, Dafi dan semua orang langsung masuk dengan bahagia. Tapi wajah Lusi seketika masam saat melihat Anggi dan Arman.
"Papa!" Dafi melangkah mendekati Damar dengan mata berkaca-kaca.
Damar sontak menatap sang putra, "Dafi, kamu tidak apa-apa, kan?"
Damar menggeleng, "Tidak, Pa. Aku baik-baik saja, kok."
Damar mengembuskan napas lega, "Syukurlah."
Lalu pandangan Damar beralih ke Anggi, "Kamu juga baik-baik saja, kan?"
Anggi mengangguk, tanpa di duga wanita itu mendekati Damar dan memeluknya sambil menangis sesenggukan.
"Damar, maafkan aku," ucap Anggi lirih.
Semua orang terkejut dengan sikap Anggi itu, bahkan Damar sendiri sontak menatap Sera yang langsung memalingkan wajahnya yang masam. Entah mengapa gadis itu merasa tidak suka dan kesal karena Anggi memeluk Damar, mungkinkah dia mulai merasa cemburu pada sang suami.
"Semua ini gara-gara aku! Aku yang menyebabkan kamu dan Dafi terluka, aku minta maaf." Anggi masih menangis dengan tersedu-sedu.
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Ini bukan salah siapa-siapa, ini takdir." Damar membalas ucapan mantan istrinya.
Merasa tidak enak hati, Dafi berusaha melepaskan pelukan Anggi dari sang ayah, "Ma, sudah. Papa bisa kesulitan bernapas kalau Mama peluk terus."
Anggi melepaskan pelukannya dan menjauh dari Damar, namun kini wajah Sera sudah cemberut, dia bahkan tak mau melihat Damar yang terus saja menatapnya.
"Jadi bagaimana suami kamu itu? Apa polisi sudah berhasil meringkusnya?" tanya Lusi penasaran, sebelumnya Sera sudah mengatakan jika Dafi dan Riko sedang pergi untuk menyelamatkan Anggi.
"Dia tertembak dan tewas," jawab Anggi sambil menyeka air matanya.
Damar dan semua orang terkejut setengah mati mendengar kabar itu, mereka tak menduga Datuk Dahlan akan berakhir mengenaskan seperti ini.
"Iya, Oma. Si berengsek itu menyandera dan melukai leher Mama dengan pisau saat diminta untuk menyerahkan diri, jadi polisi terpaksa melumpuhkannya dengan tembakan," terang Dafi.
"Dia pantas mendapatkan itu karena sudah melukai putra dan juga cucuku, semoga dia masuk neraka," sungut Lusi, dan Sera hanya mengusap pundak mertuanya itu untuk menenangkan.
Tiba-tiba pintu ruang perawatan Damar ada yang mengetuk, Yuni segera membukakan pintu. Ternyata Erick yang datang, lelaki itu sempat terkejut melihat Anggi dan Arman, tapi dia berusaha bersikap biasa saja.
"Papa!" sapa Lusi.
Erick melangkah masuk sambil menjelaskan keterlambatannya, "Maaf, Papa terlambat. Ada sedikit masalah di bandara Italia dan keberangkatan terpaksa ditunda, jadi sekarang baru tiba."
"Tidak apa-apa, Pa," balas Damar pelan.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Erick pada sang putra.
"Sudah lebih baik, kok," sahut Damar.
Erick tersenyum lalu beralih memandang Arman sembari mengulurkan tangan, "Apa kabar, Pak Arman?"
Arman menjabat tangan mantan besannya itu dengan canggung, "Kabar saya baik, Pak."
"Sudah lama tidak bertemu," lanjut Erick.
"Iya, Pak." Arman mengangguk sambil tersenyum kaku.
Meskipun hubungan Damar dan Anggi hancur berantakan, tapi Erick tidak ingin memusuhi mantan besannya itu. Padahal keluarga Anggi sudah menyakiti dan memfitnah Damar, bahkan sampai mencuci otak Dafi hingga anak itu sangat membenci ayahnya sendiri. Namun Erick tahu tak ada gunanya memusuhi apalagi membalas mereka, dia sadar ini sudah menjadi garis takdir putranya yang telah Tuhan tentukan.
Tapi tidak dengan Lusi, dia sakit hati dan sangat membenci Anggi serta keluarganya, meski dia juga tak ingin membalas mereka.
***