
Sera berjalan ke luar rumah, dia benar-benar marah pada Damar sebab tak menyangka lelaki itu akan menciumnya.
Damar menarik lengan sang istri, "Sera, tunggu! Om minta maaf!"
Sera berhenti dan menepis tangan Damar dengan kasar, "Lepaskan! Jangan sentuh aku!"
"Sera, Om benar-benar tidak sengaja, Om terbawa suasana."
Sera menatap Damar dengan mata berkaca-kaca, "Om tidak bisa dipercaya! Dasar mesum!"
"Sera, Om mohon ...."
Di saat bersamaan, Lusi melangkah mendekati mereka dengan tergopoh-gopoh, "Ada apa ini, sayang? Kenapa kamu marah?"
Kedua pasangan suami istri itu terdiam dan saling pandang, Damar takut kalau sandiwara mereka terbongkar.
"Sera, kenapa diam? Ada apa sebenarnya?" desak Lusi sebab melihat sang menantu terdiam dengan wajah tegang bercampur kesal.
"Ma, Sera malu karena aku menciumnya di depan orang lain tadi," dalih Damar, wajah Sera pun merona kala teringat kembali kejadian tadi.
"Kenapa kamu malu, sayang? Di sini suami istri berciuman di depan orang lain itu biasa." Lusi mengusap pipi menantunya itu.
Sera masih terdiam, berusaha menahan air matanya. Iya tahu itu biasa di Eropa, tapi masalahnya dia dan Damar hanya pura-pura menjadi suami istri, dia bahkan sudah menganggap lelaki itu seperti ayahnya.
"Ma, kebiasaan di sini dan di Indonesia berbeda, Sera pasti tidak terbiasa. Ini salahku, aku terbawa suasana tadi," sela Damar.
Lusi tersenyum, "Dasar kamu ini, selalu saja tidak bisa menahan diri."
Damar meringis sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Kalau begitu sekarang kita masuk, yuk! Jangan malu!" Lusi mengajak Sera.
"Hem, Ma. Maaf, aku mau cari udara segar dulu. Nanti aku masuk," bantah Sera.
"Ya sudah, Mama masuk duluan. Kalian jangan lama-lama di luar, soalnya dingin."
"Iya, Ma."
Lusi meninggalkan Sera dan Damar di depan rumah.
Setelah Lusi menghilang, Sera pun melanjutkan langkahnya yang tertunda tadi. Damar bergegas menyusulnya dan kembali menarik lengan gadis itu.
"Sera, kamu mau ke mana?"
"Lepaskan!" Sera menarik lengannya, namun Damar tidak mau melepaskannya.
"Sera, Om sungguh minta maaf. Om tidak bermaksud untuk kurang ajar, Om tidak sengaja. Om mohon percayalah!"
"Aku tidak percaya lagi dengan Om! Kalau begini, aku ingin kita cepat-cepat bercerai, aku takut Om macam-macam padaku," ujar Sera dengan nada meninggi, air matanya bahkan sampai menetes.
Damar tercengang mendengar kata-kata gadis itu.
"Kita memang sudah menikah, tapi Om kan tahu kalau itu semua hanya sandiwara. Jadi tidak seharusnya Om melakukan hal semacam tadi!" lanjut Sera, sambil mengusap air matanya.
"Sera, Om janji kejadian tadi tidak akan terulang lagi, Om tidak akan macam-macam. Percaya pada, Om."
Sera menggeleng dan melepaskan lengannya dari cengkeraman tangan Damar, "Tidak, aku tidak percaya lagi pada Om."
Sera akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi dan memutuskan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Damar yang terdiam dengan perasaan berkecamuk. Entah mengapa saat mendengar kata bercerai, hatinya sedikit ngilu dan tidak rela. Apa yang sebenarnya terjadi pada hati Damar? Bukankah itu yang harus mereka lakukan nanti? Tapi mengapa dia seolah tak ingin berpisah dari Sera?
***
Pesta telah usai, Sera sudah memakai piyama nya dan duduk di atas sofa sambil bermain ponsel. Dia tidak ingin tidur malam ini, dia takut Damar macam-macam padanya jika dia tertidur.
"Kamu tidak tidur?" tanya Damar.
"Ini sudah larut malam, kamu tidak tidak mengantuk?" Damar bertanya lagi.
"Tidak!"
Damar mengembuskan napas berat, dia tahu Sera masih marah padanya.
"Ya sudah, Om keluar dulu. Kamu jangan lama-lama tidurnya."
"Hem."
Damar pun keluar dari kamar, dia sengaja meninggalkan Sera agar gadis itu mau tidur jika dia tidak ada di kamar. Sera memang sudah sangat mengantuk, tapi dia bersikeras untuk tetap terjaga, dia sengaja mengalihkan rasa kantuknya dengan bermain ponsel, namun entah mengapa tiba-tiba dia teringat saat Damar menciumnya tadi, terasa begitu hangat dan lembut, membuat darah Sera berdesir dan jantungnya berdebar.
Sera menggelengkan kepalanya, berusaha menepis bayangan itu, "Aduh, Sera! Lupakan, jangan diingat-ingat!"
Demi mengalihkan perhatiannya, Sera pun memilih untuk menonton film komedi di ponselnya, di menit-menit awal dia berhasil tertawa terbahak-bahak namun di pertengahan film, dia akhirnya tertidur juga dengan posisi duduk. Ponselnya yang masih menyala bahkan sampai terlepas dan jatuh ke sofa.
Sementara itu di ruang keluarga, Damar sedang duduk termenung sendiri di depan perapian, dia masih memikirkan kejadian tadi dan bingung dengan perasaannya saat ini.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa terbawa suasana dan hilang kendali seperti tadi? Kenapa aku tidak bisa menahan diriku?"
Damar mengembuskan napas kesal lalu memejamkan matanya dengan kuat, kebetulan Erick keluar dari ruang kerjanya dan melihat sang putra.
"Damar, sedang apa kamu di sini?" tegur Erick.
Damar yang terkejut sontak membuka matanya dan memandang sang ayah dengan gugup.
"Papa? A-aku sedang bersantai di sini," dalih Damar.
"Istri kamu mana?"
"Di kamar, Pa."
Erick menatap curiga, "Kalian baik-baik saja, kan?"
"I-iya, kami baik-baik saja, kok."
"Lalu kenapa kamu di sini? Bukannya di kamar bersama istrimu?"
"Ini aku mau ke kamar, Pa. Selamat malam."
"Selamat malam," balas Erick.
Damar bergegas beranjak dan buru-buru berlalu dari hadapan Erick, sebelum sang ayah lebih banyak lagi bertanya.
Erick geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya itu, dia pun segera masuk ke dalam kamarnya.
Di depan kamar, Damar membuka pintu dengan perlahan dan terkesiap melihat Sera tertidur di sofa, dia langsung melangkah mendekati gadis itu.
"Sera bangun! Kenapa tidur di sini? Ayo, pindah ke kasur!" Damar membangunkan Sera, namun gadis itu tak merespon sama sekali, sepertinya dia benar-benar tertidur pulas.
"Aku tidak mungkin membiarkan dia tidur di sini, badannya bisa sakit semua nanti," ujar Damar cemas.
Dengan hati-hati Damar pun mengangkat tubuh Sera dan menggendongnya ala bridal style, kemudian membaringkan gadis itu di atas ranjang dan menyelimutinya.
Damar menatap wajah Sera lalu pandangannya tertuju pada bibir merah muda yang sedikit terbuka itu. Namun dia buru-buru menyadarkan dan memperingatkan dirinya sendiri.
"Damar, sadar! Dia itu Seranita, gadis yang sudah kamu anggap anak sendiri dan kalian hanya pura-pura menjadi suami istri. Jangan terpancing!"
Tak ingin hilang kendali lagi, Damar pun segera menjauhi Sera. Dia mengambil bed cover, membentangkannya di atas lantai lalu mengambil sebuah bantal dan bergegas tidur sebelum hawa nafsu menguasainya.
Tapi rupanya tak mudah untuk Damar terlelap, dia teringat saat tadi dia mencium Sera, hatinya bergetar seperti baru pertama kali ciuman, tanpa sadar seulas senyuman terbit di bibirnya.
***