My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 25.



Sera sedang bermalas-malasan di kamar hotel, dia bingung mau melakukan apa. Perutnya juga sudah terasa lapar, tapi dia malas memesan makanan.


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar, Sera tersentak dan langsung bangkit.


"Siapa yang datang, ya?" Sera bertanya-tanya sambil melangkah mendekati pintu, lalu dengan perlahan membukanya.


Terlihat Damar sedang berdiri di depan kamar hotel sambil memegang bungkusan.


"Hai, Sera," sapa Damar.


"Oh, ternyata Om, aku kirain siapa," balas Sera, "Masuk, Om!"


Damar melangkah masuk, "Kamu sedang apa?"


"Lagi tidak ngapa-ngapain, Om."


"Sudah makan?"


Sera menggeleng, "Belum."


"Kebetulan sekali, Om bawa makanan ini. Kita makan sama-sama, yuk!"


Sera mengangguk dan tersenyum senang, dia langsung menjatuhkan dirinya di samping Damar.


"Ini buat kamu." Damar meletakkan seporsi makanan di hadapan Sera, lalu mengambil seporsi lagi untuk dirinya, "Ini buat, Om."


Keduanya pun segera menyantap makanan di hadapan mereka masing-masing.


"Om tidak bekerja?" tanya Sera sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Kerja, kok," sahut Damar.


"Terus kenapa ke sini?"


"Tadi Om ada meeting dekat sini, jadi sekalian singgah buat makan siang bareng kamu."


"Oh, begitu."


"Sekalian Om mau bantu kamu daftar kuliah, soalnya kalau kelamaan, takut pendaftarannya tutup," lanjut Damar.


"Tapi berkas-berkas penunjang ku ada di rumah Om," keluh Sera.


"Om sudah suruh Yuni membawanya ke sini."


"Jadi Eonni mau ke sini?"


Damar mengangguk sambil makan.


"Tapi apa mama Om tidak curiga kalau Eonni pergi?" Sera merasa cemas.


"Mama juga sedang pergi, mungkin dia pulang sore atau malam. Biasalah kalau ibu-ibu sosialita sudah ngumpul, bisa lupa waktu," ujar Damar, dia tahu biasanya Lusi akan menemui teman-temannya jika pulang ke Indonesia.


"Pantas saja!"


"Sudah cepat makan, nanti keburu dingin," pinta Damar.


"Iya, Om." Sera pun melanjutkan makannya dengan lahap.


Tak lama kemudian, Yuni pun datang membawakan berkas-berkas kelengkapan Sera.


"Wah, lagi pada makan rupanya?" ujar Yuni.


"Iya, Eonni sudah makan?" tanya Sera, sedangkan Damar hanya bergeming menikmati makanan di hadapannya.


"Sudah, tadi sebelum ke sini aku makan dulu," jawab Yuni.


"Oh, kalau begitu aku makan dulu, ya."


Yuni mengangguk, "Iya, silakan."


Sera pun kembali melahap makan siangnya dengan sedikit terburu-buru.


Setelah selesai makan, Damar membantu Sera mendaftar kuliah di universitas yang dia inginkan melalui jalur mandiri, dari mulai mengisi formulir, menscan berkas-berkas kelengkapan sampai mentransfer uang pembayaran masuk kuliah.


"Sudah selesai! Kamu tinggal mengikuti ujian seleksi masuk saja," ucap Damar.


"Terima kasih sudah membantuku, Om."


Damar tersenyum, "Sama-sama. Om yakin kamu pasti bisa melewati ujian seleksi dan diterima di kampus itu, karena kamu anak yang cerdas."


Sera tersipu, "Aamiin, mudah-mudahan, Om.


Damar lalu mengeluarkan dompetnya dan menarik sebuah kartu ATM dan memberikannya kepada Sera, "Ambil ini!"


"Sera ambil! Gunakan ATM ini untuk membeli pakaian juga barang-barang yang kamu butuhkan untuk masuk kuliah."


Damar mengerti jika Sera membutuhkan semua itu, apalagi dia melihat pakaian gadis itu tidak terlalu banyak dan terkesan biasa saja, Sera juga tak punya tas ataupun sepatu yang bagus. Dia tak ingin nantinya Sera merasa minder masuk ke perguruan tinggi yang notabene isinya anak orang berada.


Sera menggeleng, "Tidak usah, Om! Aku tidak mau merepotkan Om."


"Sudah Om katakan berulang kali, Om tidak merasa direpotkan," bantah Damar gemas.


Sera masih bergeming, dia benar-benar merasa tidak enak menerima semua itu, meskipun dia memang membutuhkannya.


Damar menarik tangan Sera dan memaksa gadis itu menerima pemberiannya, "Sudah ambil! Jangan terlalu banyak mikir!"


Mau tak mau Sera pun menerima kartu ATM yang Damar berikan tersebut.


"Terima kasih banyak, ya, Om. Aku janji suatu saat akan membalas semua kebaikan Om ini," ucap Sera dengan mata berkaca-kaca, dia sungguh terharu dengan kebaikan Damar.


"Iya, nanti kalau kamu sudah sukses, Om akan tagih semuanya," seloroh Damar, Sera tertawa mendengar kelakarnya itu, begitu pun dengan Yuni yang ikut tersenyum melihat dua insan tersebut.


Damar memandang Yuni, "Yun, kamu temani Sera ke mall, dia akan belanja pakaian dan semua kebutuhannya!"


"Sekarang, Oppa?" Yuni memastikan.


Damar mengangguk, "Iya, tapi jangan kembali terlalu sore, nanti keburu Mama pulang."


"Siap, Oppa! Lee Yun Ni akan melaksanakan tugas ini dengan senang hati!" seru Yuni penuh semangat, dia paling senang kalau disuruh ke mall.


Damar geleng-geleng kepala, "Kamu ini paling semangat kalau disuruh jalan-jalan."


Yuni cengengesan, "Oppa, tahu saja!"


"Ya sudah, aku mau balik ke kantor. Kalian hati-hati nanti! Kalau ada apa-apa, cepat kabari."


"Iya, Om."


"Ok, Oppa."


Damar bergegas meninggalkan hotel dan kembali ke kantor.


Selepas kepergian Damar, Yuni pun meledek Sera, "Wah, kamu sudah seperti simpanannya saja, disembunyikan dan dibiayai."


Sera sontak cemberut, "Eonni apaan, sih! Aku juga sebenarnya tidak mau menerimanya, tapi Eonni lihat sendiri kan tadi kalau Om Damar memaksa."


"Eh, kenapa tidak mau? Rejeki jangan ditolak! Kan kamu tidak minta, tapi Oppa yang kasih."


"Iya, aku tahu, Eonni. Tapi aku merasa tidak enak karena menyusahkan Om Damar terus, gara-gara aku dia harus mengeluarkan banyak uang," keluh Sera. Dia masih saja merasa sungkan.


"Kamu tenang saja, uang Oppa banyak, tidak akan habis hanya karena kamu, yang terpenting sekarang kita shopping!" Yuni berteriak dengan girang.


"Eonni!" tegur Sera.


"Sudah, sekarang buruan ganti baju, jangan kelamaan!" Yuni mendorong pundak Sera.


"Iya-iya, Eonni." Sera buru-buru mengganti pakaiannya.


***


Dari kost-kostan Dafi, Lusi pergi ke salah satu mall terbesar di kota Jakarta, dia ada janji bertemu dengan Sarah.


Keduanya duduk di salah satu restoran cepat saji di dalam mall, sambil memesan kopi dan camilan. Suasana sangat lengang karena ini bukan weekend, jadi mereka bisa bicara dengan tenang.


"Sarah, Tante benar-benar minta maaf. Tante sungguh tidak tahu jika Damar sudah memiliki kekasih, dia tidak mengatakan apa pun ke Tante," ucap Lusi.


"Tidak apa-apa, Tante," balas Sarah sembari tersenyum manis.


"Tante merasa tidak enak denganmu dan mama kamu, makanya Tante langsung pulang untuk mengklarifikasi semuanya."


"Jadi Tante pulang karena masalah ini?" Sarah ingin tahu.


Lusi mengangguk, "Iya, Tante ingin langsung bicara pada Damar dan kalau bisa sekalian bertemu dengan kekasihnya itu. Tapi kata Damar, dia sedang tidak di sini."


"Memangnya dia ke mana, Tan?"


"Ke Medan, katanya ada urusan keluarga, tidak tahu kapan kembalinya."


"Oh, begitu."


"Hem, padahal Tante tidak bisa lama-lama di sini, Minggu depan Tante sudah harus balik ke Italia," keluh Lusi dengan wajah masam.


Sarah hanya bergeming, tak membalas ucapan wanita itu. Dia mengalihkan pandangannya ke luar restoran dan menatap beberapa pelanggan mall yang sedang berlalu lalang. Kalau boleh jujur, sebenarnya dia merasa sedikit kesal membahas tentang Damar, namun dia berusaha bersikap biasa saja di hadapan Lusi.


***