
Sebuah perkebunan seluas seribu meter persegi, ditumbuhi pohon-pohon anggur merah yang begitu indah. Sera sangat takjub melihatnya, dia bahkan berulang kali berdecak kagum.
"Perkebunan seluas ini milik papanya Om?" tanya Sera memastikan.
Damar mengangguk, "Iya, bukan hanya perkebunan saja, papa juga ada kilang pembuatan wine."
"Wah, keren sekali!" seru Sera dengan mata berbinar.
"Kamu mau lihat?"
"Iya, Om. Tapi sebelumnya aku mau jalan-jalan di perkebunan anggur nya dulu, nanti saja ke kilangnya."
"Baiklah, yuk!"
Sera dan Damar menyusuri deretan pohon anggur yang sedang berbuah lebat, buah-buah kecil berwarna merah itu menggantung indah, membuat Sera gemas melihatnya.
"Cantik sekali!" ucap Sera sambil menyentuh buah anggur itu.
"Kamu mau coba memetiknya?"
"Boleh, Om?"
"Boleh, dong! Tapi jangan langsung di makan, harus dicuci bersih dulu."
"Iya, Om. Tapi sekalian fotoin, ya?"
Damar kembali mengangguk sambil tersenyum, dia kemudian mengambil ponselnya dan membuka fitur kamera.
"Sudah siap?"
"Sudah, Om." Sera bergaya sambil memotong tangkai anggur dengan gunting pangkas tanaman dan
Damar pun memotretnya.
"Seumur-umur baru kali ini aku memetik buah anggur langsung dari pohonnya." Sera tersenyum senang sambil memegangi anggur hasil panennya, namun senyumnya seketika hilang saat menyadari ada ulat di tangannya.
Sera sontak menjerit dan mencampakkan anggur yang dia pegang sambil mengibaskan tangannya, dia benar-benar takut dan geli melihat hewan melata berwarna hijau dan berbulu itu.
Damar terkejut dan bingung, "Sera, ada apa?"
"Ada ulat, Om!"
"Di mana?"
"Di tanganku. Ih, aku geli sekali." Saking takut dan geli nya, Sera sampai merinding dan wajahnya pucat.
Damar memperhatikan tangan Sera dan tidak ada ulat sama sekali, "Sudah tidak ada."
Sera memeriksa tangan dan seluruh tubuhnya, memastikan ulat itu memang benar-benar sudah tidak ada lagi.
"Benar sudah tidak ada?" Sera memastikan lagi.
"Iya, mungkin ulatnya sudah jatuh," tebak Damar.
"Kalau begitu aku mau kembali ke rumah saja, takut ada ulat lagi," ujar Sera sambil bergidik ngeri.
"Tidak jadi melihat kilang wine nya?"
Sera menggeleng dan bergegas pergi, "Tidak, aku sudah tidak berminat lagi, Om."
Damar mengambil sebuah batang pohon anggur kering lalu melemparnya ke gadis itu sembari berteriak, "Sera, awas ada ular!"
Sera yang kaget dan takut langsung menjerit heboh sambil lompat-lompat di tempat.
"Mana ularnya, Om?"
Damar tertawa terbahak-bahak, Sera pun akhirnya sadar jika dia sedang dijahili oleh sang suami.
"Om ngerjain aku, ya?" tuduh Sera.
"Ya, ketahuan, deh!" ujar Damar disela-sela tawanya.
Sera yang kesal pun tak tinggal diam, dia berjalan menghampiri Damar dengan wajah masam. Namun apes, kakinya tersandung dan dia pun terjatuh.
"Aduh!" pekik Sera.
Damar terkesiap, dia mendadak cemas dan segera berlari menghampiri sang istri, "Sera, kamu tidak apa-apa?"
Melihat Damar cemas, Sera pun memanfaatkan situasi ini untuk balas dendam.
"Kaki aku sakit banget, Om. Kayaknya patah, deh." Sera memegangi kakinya sambil pura-pura kesakitan.
Damar panik, "Kita ke rumah sakit sekarang!"
"Aku tidak bisa berjalan, sakit sekali." rengek Sera.
"Mari Om gendong!" Damar berbalik membelakangi Sera lalu berjongkok.
Dengan perlahan Sera naik ke punggung sang suami dan memeluk lehernya sambil tersenyum penuh kemenangan. Damar pun menggendong Sera dan membawa gadis itu pergi dari perkebunan.
"Stop, Om! Turunkan aku di sini saja," pinta Sera saat mereka tiba di depan pintu belakang rumah megah Erick.
"Di sini? Bukannya kita harus ke rumah sakit?"
"Tidak jadi, kakiku sudah tidak apa-apa," sahut Sera enteng.
Damar pun menurunkan Sera dari punggungnya lalu menatap gadis cantik itu dengan bingung.
"Terima kasih, Om. Aku jadi tidak capek-capek jalan." Dengan santainya Sera melenggang meninggalkan Damar yang melongo.
"Kamu membohongi Om, ya?" tanya Damar bersungut-sungut.
Sera yang sudah menjauh berbalik dan tersenyum mengejek, "Satu sama, kita impas."
Damar tercengang, dia tak menyangka jika dia telah dibohongi mentah-mentah oleh gadis itu.
"Awas kamu, ya!" Damar melangkah mendekati Sera.
Melihat sang suami semakin mendekat, Sera sontak berlari untuk menghindarinya, dan terjadilah kejar-kejaran antara mereka.
"Ayo, kejar aku, Om!" tantang Sera lalu menjulurkan lidahnya mengejek Damar.
Damar mengejar Sera sambil tersenyum, dia gemas dengan kelakuan istri kecilnya itu.
Lusi yang tidak sengaja melihat tingkah laku anak dan menantunya itu tersenyum, dia senang melihat sang putra kini lebih ceria. Walaupun Sera masih terlalu muda bagi Damar, tapi dia yakin gadis itu bisa membahagiakan buah hatinya itu.
***