
Keesokan paginya, Sera terbangun, semalam tidurnya nyenyak sekali. Dia pun menggeliat sambil meregangkan otot-ototnya, namun tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Bukannya semalam aku duduk di sofa sambil nonton film, kenapa sekarang ada di sini, ya? Aku tidak ingat kalau pindah ke kasur." Sera coba mengingat-ingat.
"Apa ini kerjaannya Om Damar?" tebak Sera, dia pun mencari-cari Damar dan mendapati lelaki itu masih tertidur pulas di samping bawah ranjang.
Sera memandangi wajah Damar dan lagi-lagi ingatan kejadian semalam kembali muncul, membuat darahnya berdesir.
Sera menggelengkan kepalanya, "Sebaiknya aku mandi saja."
Dia lantas bangkit dari pembaringan dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setengah jam kemudian, Sera sudah selesai mandi dan berdandan, dia mengambil ponselnya dan bergegas keluar dari kamar. Sera menghampiri Lusi dan Erick yang sedang sarapan di meja makan.
"Selamat pagi, Ma, Pa," sapa Sera.
"Selamat pagi, Sera," balas Erick.
"Pagi, sayang. Kamu sudah bangun rupanya, mari sarapan!" ajak Lusi.
"Iya, Ma." Sera duduk di depan Lusi.
"Tadi Mama mau bangunin kalian, tapi kata Papa tidak usah, biarkan saja kalian istirahat," terang Lusi.
Sera hanya tersenyum menanggapi ucapan mertuanya itu.
"Oh iya, Damar mana?" tanya Lusi.
"Masih tidur, Ma," jawab Sera.
Lusi mengernyit, "Masih tidur? Kenapa dia belum bangun?"
"Ma, sepertinya dia tidur larut malam, jadi mungkin masih mengantuk," sela Erick.
Lusi memandang curiga Erick, "Papa tahu dari mana?"
"Semalam Papa memergoki dia duduk melamun di ruang keluarga, dia terlihat murung, sepertinya lagi ada masalah."
Sera terkesiap mendengar penuturan Erick itu.
Lusi beralih memandang Sera, "Apa kalian ada masalah, sayang?"
Sera mendadak tegang dan gugup, "Hem, ti-tidak ada, Ma."
"Ma, mungkin masalah di kantor," Erick kembali menyela.
Lusi terdiam, dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga membuat sang putra murung dan melamun.
"Ya sudah, Mama bangunkan dia dulu, agar kita bisa sarapan bersama." Lusi beranjak, tapi Sera menahannya
"Biar aku saja, Ma." Sera ikut beranjak.
"Tidak apa-apa, biar Mama saja."
Sera ketakutan, dia tak mungkin membiarkan Lusi masuk ke kamar mereka dan melihat Damar tidur di bawah.
"Hem, tapi aku ...."
"Selamat pagi semua," sapa Damar, membuat Sera tak sempat melanjutkan kata-katanya.
"Selamat pagi. Ini dia orangnya sudah bangun!" seru Erick.
Sera menghela napas lega.
"Selamat pagi, sayang. Baru saja Mama ingin membangunkan mu, ternyata kamu sudah turun," ujar Lusi.
Damar melirik Sera yang sedang menatapnya lalu duduk di samping gadis itu, "Buat apa membangunkan aku, Ma? Aku bisa bangun sendiri, kok."
"Mungkin Mama lupa kalau kamu sudah bukan anak kecil lagi, jadi dia ingin membangunkan mu seperti dulu," ledek Erick.
"Ish, Papa!" Lusi menepuk pelan lengan Erick.
Damar tertawa mendengar sang ayah meledek sang ibu, sementara Sera hanya memaksakan senyuman.
"Ya sudah, mari sarapan!" titah Erick.
Mereka berempat pun mulai menyantap sandwich di hadapan mereka masing-masing.
"Kalian jadi pulang sore ini?" tanya Erick sambil mengunyah makanan.
"Kenapa kalian tidak tinggal lebih lama lagi di sini? Mama kan masih ingin bersama kalian," protes Lusi dengan wajah sedih.
"Tidak bisa, Ma. Aku masih banyak pekerjaan di kantor," bantah Damar.
"Lain kali mereka kan bisa ke sini lagi, Ma. Atau Mama yang menemui mereka ke Jakarta," cetus Erick.
Lusi menghela napas, "Baiklah."
Sera dan Damar hanya bergeming, mereka sendiri tak yakin apa yang dikatakan oleh Erick itu akan terwujud.
"Kalau begitu setelah sarapan, Mama mau ajak kalian jalan-jalan," lanjut Lusi.
Kedua suami istri itu hanya mengangguk.
***
Lusi mengajak anak dan menantunya ke The Trevi Fountain, sebuah air mancur setinggi dua puluh enam koma tiga meter, yang menjadi air mancur bergaya Barok terbesar dan terindah di Roma sekaligus menjadi yang paling terkenal di dunia.
Sera benar-benar takjub melihat keindahan dan arsitektur unik air mancur yang sudah berumur ribuan tahun itu, dia melihat sekeliling dan banyak orang melemparkan koin ke dalam kolam air mancur tersebut.
"Ma, kenapa mereka pada buang-buang koin ke dalam kolam?" tanya Sera bingung.
Lusi tersenyum kemudian menjelaskan, "Ada mitos unik di sini, jika seseorang melempar koin ke Trevi Fountain, maka dipastikan dia akan kembali lagi ke sini."
Sera mangut-mangut, "Oh, begitu?"
"Kamu mau coba?" tantang Damar.
"Buat apa, sayang? Tanpa melempar koin pun, Sera pasti akan balik lagi ke sini mengunjungi Mama dan Papa," sela Lusi.
Kedua pasangan suami istri itu saling pandang, namun Sera buru-buru memalingkan wajahnya karena dia masih kesal pada Damar, meskipun lelaki itu sudah bersikap biasa saja.
"Kalau begitu kita foto-foto saja saja di sini!" usul Damar sambil melirik Sera.
"Iya, boleh itu!"
Damar pun memotret Sera dan Lusi yang berpose di dekat Trevi Fountain.
"Sekarang kalian foto berdua, dong! Biar Mama yang ambil fotonya," cetus Lusi.
"Eh, tidak usah, Ma," tolak Sera.
"Tidak apa-apa, sayang. Ayo cepat berpose!" desak Lusi.
Damar dan Sera tak ada pilihan, mereka pasrah mengikuti permintaan Lusi. Keduanya berdiri lalu tersenyum, tapi bukannya mengambil foto mereka, wanita paruh baya itu justru protes.
"Kurang romantis! Damar kamu meluk Sera, dong!"
"Begini saja, Ma."
"Ish, kalian ini!" seru Lusi gemas, "lihat semua orang berpose mesra, kalian malah seperti anak dan ayah."
Kedua orang itu tercenung mendengar kalimat menohok Lusi, memang benar mereka seharusnya menjadi ayah dan anak alih-alih suami istri.
"Ayo, sayang! Peluk Sera!" pinta Lusi sedikit memaksa.
Dengan sangat terpaksa, Damar pun memeluk pinggang Sera dari belakang, membuat gadis itu lagi-lagi terkejut dengan jantung yang berdebar.
"Maaf," bisik Damar di telinga Sera, dia tak ingin gadis itu semakin marah.
Padahal sebelumnya mereka juga pernah berpelukan, tapi saat ini rasanya berbeda. Ada getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuh mereka dan membuat keduanya merasa malu juga canggung.
Lusi memotret keduanya, wanita paruh baya itu sangat senang melihat anak dan menantunya begitu mesra.
Setelah selesai mengambil foto di air mancur, mereka pun berjalan-jalan ke Colosseum yang berjarak sekitar tiga koma enam kilometer dari Trevi Fountain. Di dekat bangunan yang menjadi salah satu keajaiban dunia itu, Sera kembali berpose mesra bersama Damar, tentu saja itu hasil dari arahan dan paksaan Lusi.
"Begini kan bagus, jadi kelihatan suami istrinya. Bukan seperti foto-foto kalian di Venesia, tidak ada mesra-mesranya sama sekali." Lusi mengoceh sambil melihat-lihat foto-foto Sera dan Damar yang dia ambil.
"Ma, sudah, ya? Sekarang kita cari tempat istirahat, aku lelah," rengek Damar.
Sementara Sera hanya diam, sebab tengah berusaha menenangkan hatinya yang sejak tadi merasa canggung dan malu.
"Iya-iya, kita cari restoran halal di dekat sini," sahut Lusi.
Mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat di Shawarma Station, sebuah restoran halal yang menjual beraneka macam makanan timur tengah.
***