
Hari ini Dafi sudah diperbolehkan pulang ke rumah, walaupun dia masih lemah dan harus banyak istirahat. Atas permintaan Dafi, Anggi pun ikut mengantarnya ke rumah Damar, dan ini untuk pertama kalinya bagi Anggi berkunjung ke rumah sang mantan suami. Anggi sedikit terkejut saat melihat rumah Damar nan mewah dan megah, dia tak menduga Damar yang dulu hanya anak mami dan tidak jelas masa depannya, kini menjadi seseorang yang sukses dan kaya raya.
Sera dan Yuni yang melihat kedatangan Anggi memasang wajah masam, keduanya sama sekali tidak ingin menyapa apalagi beramah tamah pada wanita itu. Begitu juga dengan Damar, sikapnya dingin pada Anggi, dia bahkan tak pernah tersenyum ataupun bicara baik-baik pada mantan istrinya itu.
Anggi yang menyadari sikap tak bersahabat semua orang merasa risi, dia pun memutuskan untuk pergi setelah mengantarkan Dafi, tapi sang putra menahannya dan memintanya untuk tinggal.
"Ma, aku mohon tinggal lah beberapa hari di sini!" pinta Dafi.
Damar, Sera dan Yuni terkejut dengan permintaan Dafi itu, mereka merasa keberatan jika Anggi tinggal di sini.
Anggi melirik Damar, "Mama tidak enak, sayang. Mama pulang saja, ya?"
Dafi tahu mamanya itu merasa sungkan, dia pun menatap Damar untuk meminta izin, "Pa, bolehkan Mama tinggal di sini beberapa hari? Aku masih ingin bersama Mama."
Damar terdiam, dia sejujurnya ingin menolak, tapi dia juga tak ingin membuat Dafi kecewa.
"Pa, boleh, kan?" Dafi memastikan.
Damar akhirnya mengangguk dengan wajah datar.
Dafi dan Anggi tersenyum senang, jauh di dalam hati Dafi, dia ingin melihat kedua orang tuanya akur dan bersama lagi. Ini juga akan menjadi kesempatan baik untuk membuat Sera berpisah dari sang ayah.
Sedangkan Sera dan Yuni merasa kesal karena Damar mengizinkan Anggi tinggal di sini, mereka curiga Dafi memiliki rencana lain dan ingin memanfaatkan kedatangan sang ibu. Tapi tentu saja keduanya tak berani memprotes keputusan Damar.
"Baiklah, kalau begitu Papa mau keluar dulu, ada urusan sebentar," ujar Damar.
"Iya, Pa."
Damar beralih memandang Sera yang berdiri di samping Yuni, "Sera, yuk ikut!"
Sera mengernyit heran, "Ke mana?"
"Sudah ikut saja!" Damar menarik lengan Sera dan mengajaknya pergi.
Dafi memandangi mereka dengan perasaan kesal dan cemburu, dia tidak suka ayahnya itu menyentuh sang mantan.
Sera dan Damar masuk ke dalam mobil, lalu segera melesat pergi meninggalkan rumah, tapi tanpa sepengetahuan keduanya, sebuah mobil Taft berwarna hitam mengikuti mereka.
Di dalam mobil, Sera bertanya-tanya ke mana Damar akan membawanya.
"Kita mau ke mana, Om?" tanya Sera penasaran.
"Om juga tidak tahu."
Sera tercengang, "Lah, bukannya tadi Om bilang ada urusan, kenapa sekarang tidak tahu?"
"Itu cuma alasan saja, Om malas di rumah karena ada Anggi."
"Ya ampun, Om! Jadi karena itu Om mengajak aku keluar?"
Damar mengangguk, "Om tahu kamu pasti juga tidak nyaman karena ada dia."
"Iya, sih. Tapi kalau Om tidak suka dia tinggal di rumah, kenapa Om menyetujui permintaan Dafi?"
"Om tidak ingin mengecewakannya," jawab Damar, "Dia sudah lama sekali tidak bertemu mamanya, jadi pasti dia masih rindu."
Sera tertegun mendengar alasan Damar, lelaki itu sangat pengertian dan baik. Dia semakin penasaran dengan masa lalu Damar, sebenarnya apa yang dia lakukan sampai harus berpisah dari Anggi dan membuat Dafi sangat membencinya.
"Hem, Om. Aku boleh tanya sesuatu tidak?"
"Iya, tanya apa?"
"Sebenarnya apa yang membuat Om dan mantan istri Om berpisah?"
Damar terdiam, dia tak menyangka Sera akan menanyakan hal itu.
Tapi belum sempat Damar menjawab, mobil Taft berwarna hitam tadi menyalip dan nyaris menyerempet mobilnya.
"Ya Tuhan!" pekik Damar, karena kaget dia langsung banting setir ke kiri dan berhenti mendadak.
Setelah hampir membuat mobil yang dikendarai Damar kecelakaan, pengemudi mobil Taft itu tancap gas dan meninggalkannya.
"Kamu tidak apa-apa?" Damar memandang cemas Sera yang pucat dan ketakutan.
"Tidak, aku tidak apa-apa, Om. Aku hanya kaget saja," jawab Sera, dia gemetaran karena mobil nyaris saja celaka.
Damar menghela napas lega, "Syukurlah."
"Om juga baik-baik saja, kan?"
"Iya."
"Pengemudinya terlalu ugal-ugalan, tidak hati-hati. Dia bahkan tidak merasa bersalah karena hampir saja membuat orang lain celaka," gerutu Sera kesal.
"Begitulah kalau di jalanan, meskipun kita sudah berhati-hati, tapi masih saja bisa celaka karena ulah orang lain. Untung saja kita masih dilindungi," balas Damar.
"Iya, Om. Kita masih beruntung."
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita cari tempat makan saja. Karena kaget, Om jadi lapar." Damar kembali menyalakan mesin mobilnya.
"Memang ada hubungannya kaget dan lapar?"
"Ada, dong! Karena kaget, jantung jadi berdebar kencang dan memicu keringat dingin. Nah, jadinya lapar, deh!" seloroh Damar sembari mengemudikan kembali mobilnya dengan pelan.
"Om ngarang!" seru Sera lalu tertawa.
"Om serius, itu pelajaran biologi, memangnya kamu tidak tahu?"
Sera menggeleng sambil terus tertawa terbahak-bahak. Damar melirik Sera dan tersenyum, ada perasaan bahagia saat melihat gadis itu tertawa dengan begitu riang, membuat Damar semakin yakin jika dia memang telah jatuh hati.
***
Damar mengajak Sera ke restoran Jepang, dia memesan sushi dan semangkuk chanko nabe, juga tak lupa dua gelas melon soda.
"Sushi di sini enak banget, kamu mau coba?" Damar menyodorkan sebuah sushi berisi irisan timun dan daging salmon ke depan mulut Sera.
Sera menggeleng, "Aku tidak suka sushi, Om."
"Ya sudah." Damar menarik kembali tangannya dan langsung memasukkan sushi tadi ke dalam mulut.
Sera tersenyum geli melihat mulut Damar yang penuh, membuat pipi lelaki itu menggembung.
"Hem, enak banget!" ujar Damar penuh drama.
"Aku tidak tertarik, aku mau makan ini saja." Sera menunjuk semangkuk chanko nabe yang ada di hadapannya.
Sera menunduk untuk menikmati mie rebus ala Jepang itu, membuat rambut panjangnya yang tergerai seketika turun menutupi kedua pipinya.
Melihat hal itu, dengan sigap Damar yang duduk di samping Sera merapikan rambut gadis itu lalu memeganginya agar tidak membuat makan sang istri terganggu.
Tindakannya itu sontak membuat Sera termangu, perlahan dia memutar kepalanya dan memandang Damar yang juga sedang menatapnya. Darah Sera berdesir dan jantungnya berdetak lebih cepat, membuat wajah cantiknya merona merah, karena merasa risi sekaligus malu.
"Om bantu pegangin, biar rambut kamu tidak kotor terkena makanan," ucap Damar, membuat Sera tersentak dari lamunannya.
"Oh, tidak usah, Om. Biar aku pegang sendiri saja, jadi Om tidak perlu capek-capek pegangin."
"Nanti kamu jadi kesulitan untuk makan."
"Tidak, Om. Aku sudah biasa, kok."
Damar pun melepaskan rambut Sera dari tangannya, dan gadis menarik rambutnya ke samping lalu menahannya sendiri.
Suasana menjadi canggung, mereka berdua akhirnya melanjutkan makan dalam diam.
***