My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 57.



Sera kembali ke kamar dan terkejut melihat Damar tidur di lantai hanya beralaskan bed cover.


"Om kenapa tidur di situ?"


"Habis di mana lagi? Kamu mau kita tidur seranjang?"


Sera menggeleng cepat, "Tidak, aku tidak mau!"


"Ya sudah, makanya Om tidur di sini."


"Tapi nanti badan Om bisa sakit, kenapa tidak tidur di sofa saja?"


"Sofa nya sempit, badan Om bisa semakin sakit. Sudah, di sini saja."


Sera merasa tidak tega membiarkan Damar tidur di lantai.


"Bagaimana kalau aku yang tidur di situ, Om di kasur saja," cetus Sera.


"Kamu pikir Om ini lelaki apaan? Mana mungkin Om tega membiarkan seorang wanita tidur di lantai sedangkan Om enak-enak tidur di kasur," balas Damar, "sudah, kamu jangan khawatir!"


Sera mengembuskan napas, "Ya sudahlah, jangan salahkan aku kalau besok badan Om sakit semua."


"Iya, cerewet! Sudah tidur sana!" pinta Damar, lalu memejamkan matanya.


"Iya-iya, ini juga mau tidur." Sera bergegas naik ke atas ranjang, lalu merebahkan tubuhnya, namun matanya belum terasa mengantuk.


Sera memandangi langit-langit kamar, seketika bayangan Dafi kembali hadir mengusiknya. Dia teringat tatapan mata Dafi yang menyiratkan kemarahan dan kekecewaan, entah mengapa hal itu membuat Sera sedikit sedih.


Hati Sera mendadak galau, namun tiba-tiba ucapan Yuni tadi kembali terngiang di telinganya dan kejadian menyakitkan di malam nahas itu sontak berlarian diingatan nya, membuat gadis cantik itu merasa geram.


"Apa yang kau rasakan ini tidak sebanding dengan rasa sakit dan kekecewaan ku atas pengkhianatan mu. Kadafi Putra Mahendra, aku akan membuatmu menyesali semuanya, aku bersumpah!" batin Sera.


Dia sudah bertekad akan melakukan apa yang disarankan oleh Yuni, dia akan membalas perbuatan Dafi dengan memanfaatkan situasi ini.


Sera kemudian berbalik dan memandang Damar yang sudah lebih dulu terlelap.


"Om, maafkan aku karena terpaksa memanfaatkan Om untuk membalas putramu yang berengsek itu. Tapi aku berjanji, setelah semua ini selesai, aku akan segera pergi," ucap Sera dalam hati, dia sudah memutuskan untuk pergi dari hidup Damar setelah membalas Dafi, karena dia tak ingin berurusan dengan keluarga ini lagi.


***


Di sebuah bar, Dafi yang terpukul melampiaskan kesedihannya dengan minum minuman keras. Ini untuk pertama kalinya dia menyentuh minuman haram itu, sebelumnya dia tidak seperti ini. Dafi berharap dengan mabuk dia bisa melupakan rasa sakit dan kecewa karena mendapati kenyataan sang ayah kini telah menikah dengan mantan kekasih yang masih dia sayangi itu.


Tapi ternyata Dafi salah, meskipun sudah mabuk, bayangan Sera dan Damar yang bergandengan tangan masih terus memenuhi pikirannya, seolah otaknya enggan melupakan semua itu.


Kepala Dafi sudah terasa berat dan pusing, dia meletakkan pipinya di atas meja bar dan memandangi gelas kosong di tangannya. Lagi-lagi bayangan Sera kembali datang menghantuinya, kali ini dia teringat akan kenangan-kenangan indah saat mereka masih bersama dulu, membuat hati Dafi semakin hancur dan diliput rasa penyesalan.


"Sera, kenapa seperti ini? Kenapa harus Papaku?" ucap Dafi lirih, tanpa terasa air matanya jatuh menetes.


Dia tidak pernah sesakit ini sebelumnya, dia teramat sangat menyesali semua yang pernah dia lakukan pada Sera. Karena keegoisannya, dia tega menyakiti wanita yang begitu baik dan menyayanginya dengan setulus hati, hingga kini Sera telah menjadi milik sang ayah.


Rasa sesal, kecewa dan marah bercampur menjadi satu, seolah ingin meleburkan dirinya ke dalam jurang kehancuran. Dia merasa semesta begitu kejam, karena telah menulis garis takdir seperih ini.


Beberapa orang yang berada di dekatnya terkejut dengan perbuatan Dafi itu, mereka sontak bergerak menjauh sambil mengumpat nya.


Manajer bar yang melihat kejadian itu bergegas menghampiri Dafi.


"Ada apa ini?" tanya manajer bar tersebut.


Dafi tak menjawab, dia hanya mengeluarkan dompet lalu menarik beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dan meletakkannya di atas meja bar.


"Ini aku bayar, sisanya ambil untuk ganti rugi gelas yang pecah itu," ujar Dafi, kemudian beranjak pergi.


Si manajer bar itu terdiam, dia tak bisa berkata-kata lagi melihat tingkah Dafi itu.


Dengan langkah yang sempoyongan, Dafi berjalan menuju pintu keluar bar, tapi tidak sengaja dia menabrak seorang pria yang berjalan bersama teman-temannya.


"Woi! Jalan pakai mata!" bentak si pria marah, dia menatap tajam Dafi.


Bukannya minta maaf, Dafi malah mendorong pria itu karena menghalangi jalannya, "Minggir sana!"


Kelakuan Dafi itu menyulut emosi si pria, tanpa basa-basi dia langsung melayangkan bogem mentah ke wajah Dafi, membuat mantan kekasih Sera itu terhuyung ke belakang.


Dafi yang mabuk dan sedang dikuasai amarah pun tak tinggal diam, dia membalas pukulan pria itu dengan membabi-buta. Melihat pria itu dipukuli, teman-temannya tidak terima dan sontak mengeroyok Dafi.


Mereka menendang dan memukuli Dafi tanpa belas kasih, suasana bar seketika menjadi kacau dan heboh, orang-orang mengerumuni mereka. Manajer bar dan beberapa waiters pun datang melerai perkelahian itu.


"Hei, hentikan! Jangan membuat keributan di sini!" teriak si manajer bar, namun mereka tak menggubrisnya.


"Sudah-sudah! Pergi sana! Atau saya akan panggil polisi," ancam manajer bar itu sembari menarik pemuda-pemuda yang mengeroyok Dafi.


Teman-teman pria tadi pun berhenti memukuli Dafi yang sudah babak belur dan terkapar di lantai.


"Lain kali jangan sok jagoan! Dasar pecundang!" ejek pria itu.


Dafi dapat mendengar dengan jelas kata-kata terakhir pria itu yang seperti sindiran telak baginya. Pecundang. Iya, saat ini dia memang seorang pecundang yang menyedihkan.


Para waiters membantu Dafi berdiri, tapi dengan tidak tahu dirinya dia menepis tangan mereka dan berusaha bangkit sendiri dengan susah payah.


"Lepaskan aku!"


Dafi melangkah dengan terseok-seok sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah, dia merasakan sakit di wajah dan sekujur tubuhnya, namun sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa perih di hatinya saat ini.


Dia tahu telah bersalah karena sudah menyakiti Sera, dia juga sempat berpikir ingin memperbaiki semuanya dan merebut hati Sera lagi, namun kenyataan mengejutkan yang dia dapatkan tadi seketika meluluhlantakkan harapannya tanpa ampun.


Melihat Sera menikah dengan orang lain saja pasti sangat menyakitkan, apalagi melihatnya menjadi istri dari sang ayah yang sangat dia benci?


Dafi sungguh tidak terima.


***