
Hari berganti malam, semua orang telah pulang, tinggal lah Sera yang menemani Damar. Sejak tadi Sera hanya diam saja, sepertinya kejadian tadi masih membuat gadis itu kesal dan dongkol.
Rupanya Damar memperhatikan sikap tak biasa istrinya itu, dia merasa aneh karena Sera yang biasanya ceria dan hangat, kini tak banyak bicara.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Damar pada Sera yang sedang duduk di samping ranjangnya sambil bermain ponsel.
"Lagi malas bicara," jawab Sera acuh tak acuh, dia bahkan tak mau menatap suaminya itu.
Damar memandang curiga istrinya itu, "Kamu lagi sakit atau ada masalah?"
Sera menggeleng, "Aku baik-baik saja, kok."
"Baik-baik saja tapi wajahnya cemberut begitu, memangnya kamu tidak senang Om bangun?"
"Senang," sahut Sera singkat.
Damar terdiam, dia bingung dengan sikap Sera, tak biasanya gadis itu seperti ini.
Seorang perawat mengetuk pintu lalu masuk saat Sera mempersilakan.
"Ini makan malam pasien," ujar si perawat ramah sembari meletakkan nampan yang dia bawa di atas meja.
"Iya, terima kasih, Sus," balas Sera.
"Sama-sama." Perawat itu pun bergegas keluar dari ruangan Damar.
"Om mau makan sekarang?" tanya Sera.
"Boleh."
Sera menekan tombol di sisi bawah ranjang dan membuat kasur di bagian kepala Damar naik, sehingga lelaki itu dalam keadaan separuh duduk sekarang. Sera kemudian mengambil piring tersebut lalu naik ke atas ranjang dan duduk di sisi sang suami.
Damar sedikit kaget karena Sera duduk di hadapannya sambil memegangi piring, tadinya dia berpikir gadis itu akan membiarkannya makan sendiri.
Tanpa basa-basi, Sera menyendok nasi berserta lauk pauknya lalu menyodorkannya ke depan mulut Damar.
Pria berwajah rupawan itu membuka mulut lalu memakan nasi yang Sera suap kan untuknya, dia mengunyah dengan pelan sambil terus menatap gadis itu.
Sera kembali menyuapkan makanan, tapi kali ini Damar menolaknya, "Sudah."
"Loh, tapi masih satu suap, Om."
"Tenggorokan Om terasa sakit saat menelan makanan," keluh Damar, sepertinya tenggorokan lelaki itu terluka karena pemasangan selang ventilator.
"Kalau begitu Om mau aku pesankan bubur atau makanan yang lebih lunak?"
Damar menggeleng, "Tidak usah!"
"Tapi Om harus makan! Sebentar aku bilang ke perawat dulu." Sera meletakkan kembali piring yang dia pegang di atas nampan lalu bergegas pergi.
Tak berapa lama kemudian, Sera kembali lagi dengan semangkuk makanan cair yang dia minta dari pihak rumah sakit, kemudian kembali duduk di sisi Damar.
"Sekarang Om makan lagi." Sera menyuapkan makanan cair itu ke mulut sang suami.
Damar makan sambil terus memandangi Sera, meskipun masih merasa sedikit sakit saat menelan, tapi makanan cair ini lebih baik daripada nasi yang dia telan tadi.
Awalnya Sera biasa saja, tapi lama-lama dia merasa risi sebab Damar tak berhenti menatapnya.
"Kenapa dari tadi Om ngelihatin aku terus? Ada sesuatu di wajahku?"
Damar menggeleng, "Tidak, tidak ada apa-apa di wajah kamu. Om hanya bersyukur saja bisa melihat kamu lagi. Tadinya Om pikir, Om akan mati dan kita tidak akan bertemu lagi."
"Aku juga sempat takut terjadi sesuatu pada Om, aku dan semua orang cemas sekali saat Om terluka dan kritis."
Damar tersenyum, "Terima kasih sudah mencemaskan Om."
Sera mengangguk tanpa membalas ucapan Damar, dia pun kembali menyuapkan makanan ke mulut lelaki itu. Damar merasa tenang karena Sera sudah kembali seperti sedia kala, dia sudah mau bicara seperti biasa dan tidak cemberut lagi.
Akhirnya Damar selesai makan, Sera juga sudah memberikan obat yang harus dia minum sesuai petunjuk dari dokter yang merawatnya.
"Sekarang Om istirahat, ya." Sera kembali menurunkan ranjang Damar agar lelaki itu bisa tidur dengan nyaman.
"Sera!"
Sera sontak menatap Damar, "Iya, Om?"
"Sekali lagi terima kasih, ya? Kamu sudah mau menemani dan merawat Om, maaf kalau Om merepotkan."
"Aku tidak merasa direpotkan, kok. Anggap ini balas budi ku karena dulu Om juga pernah melakukan hal yang sama saat aku sakit."
Damar tertawa, "Kalau itu memang tanggung jawab Om, kalau kamu kan tidak."
"Siapa bilang? Ini juga tanggung jawabku sebagai seorang istri, merawat suaminya yang sedang sakit," ucap Sera sambil tersenyum manis.
Damar tertegun, kata-kata Sera itu membuat jantungnya berdebar tak karuan.
"Sudah, ah! Sekarang Om tidur, biar cepat pulih lagi." Sera menarik selimut sampai sebatas dada Damar, "Selamat malam, Om."
"Selamat malam, Sera."
Damar memejamkan mata meskipun sebenarnya dia belum ingin tidur, tapi karena pengaruh obat, rasa kantuk pun menyerangnya. Tak butuh waktu lama, pria rupawan itu terlelap.
Sera memandangi wajah damai Damar, sebenarnya jauh di dalam hati gadis itu, dia ingin bertanya tentang perasaan Damar kepadanya, tapi dia merasa ini bukan waktu yang tepat. Akhirnya Sera memilih untuk menjauh dari ranjang Damar dan duduk di sofa, mengamati wajah suaminya itu dari kejauhan.
***