
Damar uring-uringan setelah mendapat kabar dari Sera, dia tak pernah menduga jika Lusi akan datang tiba-tiba begini, karena biasanya sang mama akan memberikan kabar jika hendak berkunjung.
"Bagaimana ini, Ko?" tanya Damar bingung, "aku takut Mama melihat Sera, Mama bisa salah paham."
"Itu yang saya takutkan, Pak. Makanya kemarin saya memperingatkan anda, tapi anda tidak menggubrisnya," gerutu Riko.
"Kamu kan tahu Mama selalu memberikan kabar kalau mau datang, aku juga tidak menyangka dia akan muncul tiba-tiba begini."
"Sepertinya wanita itu sudah mengadu ke Mama anda, jika anda memiliki kekasih."
"Iya, aku tahu dia pasti mengadu, tapi aku pikir paling Mama hanya meneleponku dan aku bisa kasih alasan, tapi ternyata Mama malah datang seperti ini."
"Jadi sekarang apa yang akan anda lakukan, Pak?"
"Kalau aku tahu, aku tidak bertanya padamu tadi," sungut Damar.
"Iya, juga, ya."
Ponsel Damar berdering, yang sedang dibicarakan akhirnya menelepon, Damar seketika merasa cemas.
"Mama menelepon, Ko. Apa jangan-jangan dia sudah tahu tentang Sera," Damar mendadak panik.
"Jawab saja, Pak. Tapi anda pura-pura tidak tahu kalau dia datang."
Damar pun menjawab panggilan masuk dari sang mama.
"Halo, Ma," sapa Damar sedikit gugup.
"Damar, kamu cepat pulang! Mama sekarang di rumah kamu ini."
"Loh, Mama datang? Kenapa tidak bilang dulu? Aku kan bisa jemput di bandara," ujar Damar basa-basi sambil melirik Riko yang berusaha menahan tawa.
"Tidak perlu, Mama bisa naik taksi. Ya sudah, Mama tunggu di rumah."
Lusi langsung mematikan teleponnya, Damar mengembuskan napas.
"Bagaimana, Pak? Apa kata mama anda?" tanya Riko penasaran.
"Dia cuma mengabarkan kedatangannya dan menyuruh aku cepat pulang, dia tidak membahas tentang Sera."
"Mungkin dia belum tahu tentang gadis itu."
"Iya, soalnya aku menyuruh Sera bersembunyi di kamarnya."
"Kalau begitu anda harus segera membawa Sera pergi dari rumah anda, baru nanti pelan-pelan anda bicara dengan mama anda tentang dia."
Damar mengangguk, "Iya, aku memang akan mengungsikan nya."
Riko mengernyit, "Ke mana?"
"Ke hotel," jawab Damar.
"Kapan dia akan pergi dari rumah anda?"
"Nanti malam saja, setelah Mama tidur, aku akan membawa Sera pergi dari rumah. Untuk saat ini, biar dia bersembunyi dulu."
"Itu ide yang bagus, Pak. Kalau anda butuh bantuan, segera hubungi saya."
"Baiklah, kalau begitu sekarang aku pulang dulu. Kamu urus kantor!"
"Siap, Pak."
Damar pun bergegas pergi meninggalkan kantor dengan perasaan khawatir.
***
Lusi yang sudah selesai makan sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi, dia sudah tidak sabar menunggu kepulangan Damar. Yuni terus saja memantau Lusi sambil membereskan rumah, dia berjaga-jaga agar nyonya besar itu tidak mengetahui keberadaan Sera.
Sementara Sera sendiri masih bersembunyi di dalam kamar, dia harap-harap cemas menunggu nasibnya setelah ini. Namun mendadak hidungnya terasa geli dan tanpa sengaja Sera pun bersin.
"Hatcim!" Sera sontak menutup mulutnya setelah bersin.
Lusi dan Yuni terkejut mendengar suara bersin Sera itu.
"Suara siapa itu, Yun?" tanya Lusi.
"Oh, i-itu suara bersin saya, Nyonya. Maaf tadi hidung saya gatal," dalih Yuni, dia mendadak gugup.
"Tapi suaranya seperti dari kamar itu." Lusi menunjuk kamar tamu yang berada tak jauh dari tempat dia duduk.
Yuni menelan ludah, dia semakin gugup. "Ah, perasaan Nyonya saja itu, orang saya yang bersin, kok."
"Hatcim!" Yuni pura-pura bersin untuk meyakinkan Lusi.
"Aduh, mampus!" umpat Yuni dalam hati.
"Mama?" tegur Damar yang datang tepat waktu.
Lusi sontak menoleh ke arah Damar dan mengurungkan niatnya, "Akhirnya kamu pulang juga."
Yuni menghela napas lega, nyaris saja keberadaan Sera diketahui oleh Lusi.
"Iya, tadi agak macet, Ma," sahut Damar dan langsung memeluk Lusi, "Mama apa kabar?"
"Mama baik."
"Syukurlah." Damar melepaskan pelukannya, "kenapa tidak mengabari aku dulu kalau Mama mau datang?"
"Mama mau buat kejutan sekalian menangkap basah kamu!"
"Memangnya aku maling apa?" gerutu Damar.
"Kamu itu lebih berbahaya dari maling."
Damar tertawa, "Mama bisa saja bercandanya."
"Mama sedang tidak bercanda, Damar!" bentak Lusi.
Damar sontak terdiam menatap sang mama, begitupun dengan Yuni yang ikut terkejut mendengar bentakan ibu majikannya itu.
"Kamu pasti tahu tujuan Mama datang, jadi sebelum Mama marah, sebaiknya kamu jelaskan yang semuanya! Apa benar yang dikatakan Sara jika kamu sudah punya kekasih?" Lusi memandang Damar dengan tatapan penuh selidik.
Damar menelan ludah, dia tahu Lusi pasti akan menanyakan hal ini dan dia pun sudah menyiapkan jawabannya.
"Iya, Ma. Itu benar," jawab Damar bohong.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang ke Mama? Bahkan kemarin Mama telepon, kamu juga tidak mengatakan apapun," protes Lusi.
"Hem, karena aku belum yakin untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Makanya aku masih merahasiakannya dari Mama, soalnya Mama kan ingin aku cepat-cepat menikah," dalih Damar.
Lusi menatap Damar dengan curiga, "Tapi Mama rasa ada yang aneh."
Damar mendadak canggung. "Aneh apanya, Ma?"
"Kamu itu mati-matian membantah Mama, kamu juga menolak semua wanita yang Mama jodohkan, karena kamu bersikeras ingin hidup sendiri dan tidak mau terikat. Tapi tiba-tiba sekarang kamu punya pacar, apa itu tidak aneh?"
Damar termangu, mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia melupakan komitmen yang selama bertahun-tahun dia buat.
"Sial! Bagaimana aku bisa lupa? Ini semua gara-gara ide gila Riko!" batin Damar.
"Damar!" tegur Lusi yang melihat putranya itu melamun.
"Oh, iya itu karena Mama terus saja menjodohkan aku, jadi aku memutuskan untuk mencari sendiri jodohku sesuai dengan yang aku mau," kilah Dirga.
"Lalu kenapa kamu bawa dia makan malam bersama Sarah?"
"Habis Mama terus saja memaksa aku berhubungan dengan Sarah, padahal Mama tahu aku tidak menyukainya. Ya sudah, mau tidak mau aku bawa saja pacarku agar Sarah menolak perjodohan ini."
Lusi menghela napas, "Baiklah, kalau begitu Mama ingin bertemu dengan kekasihmu itu. Ajak dia makan malam di sini, mumpung Mama datang."
Damar juga sudah mewanti-wanti hal ini, dia telah menyiapkan jawaban yang tepat.
"Sayang sekali, Ma. Dia sudah pergi ke Medan tadi pagi."
Lusi mengernyit, "Dia tinggal di Medan?"
Damar menggeleng, "Bukan, Ma. Dia hanya mengunjungi kerabatnya di sana."
Yuni geli mendengar semua kebohongan Damar, begitu juga Sera yang menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kamarnya, dia berusaha menahan tawanya agar tidak kedengaran sampai ke luar.
"Jadi kapan dia kembali ke sini?"
"Belum tahu, Ma. Soalnya dia ada urusan keluarga di sana," sahut Damar, "tapi jika sudah selesai, dia akan kembali secepatnya."
"Ya sudahlah, tapi kalau dia kembali, segera ajak ke sini, Mama mau kenalan dengannya."
Damar meringis, "Iya, Ma."
"Sekarang kamu ganti baju sana! Mama mau lanjut menonton lagi." Lusi membetulkan posisi duduknya dan kembali fokus ke televisi.
"Aku ke kamar dulu, Ma." Damar beranjak sambil menghela napas lega karena sang mama percaya dengan semua kebohongannya itu.
***