My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 58.



Sera sedang sarapan bersama Damar dan kedua orang tuanya, mereka sudah bersiap-siap akan berangkat ke Italia.


Damar terlihat lesu, dia berulang kali meregangkan otot-ototnya, ternyata tidur di lantai hanya beralaskan bed cover membuat badannya sakit semua.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Lusi yang sedari tadi memperhatikan tingkah putranya itu.


"Badan aku sakit semua, Ma," jawab Damar


Sera hanya memandangi Damar dengan rasa bersalah, dia sudah menduga akan begini, tapi suaminya itu terlalu keras kepala.


"Loh, kok bisa? Memangnya kamu habis ngapain?" Lusi menatap curiga.


"Mama seperti tidak pernah jadi pengantin baru saja, biasa itu kalau baru menikah, badan suka sakit semua karena kebanyakan main kuda-kudaan," sela Erick sambil senyum-senyum sendiri.


Lusi ikut terkekeh, "Papa ini bisa saja."


Damar dan Sera hanya menunduk malu dengan wajah yang merah. Mereka ingin membantah anggapan Erick itu, tapi juga tak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya. Kedua orang tua itu bisa heboh jika tahu tadi malam Damar tidur di lantai hanya dengan beralaskan bed cover saja.


Di saat bersamaan, Bobi datang menghampiri Damar.


"Selamat pagi, maaf mengganggu, Pak."


"Selamat pagi, ada apa, Bob?"


"Di luar ada anak anda," beber Bobi.


Damar terkesiap, "Dafi?"


Semua orang pun ikut terkejut, karena ini untuk pertama kalinya Dafi menginjakkan kaki di rumah ini.


"Mau apa Dafi ke sini? Apa dia ingin mengatakan siapa aku sebenarnya?" batin Sera, dia mendadak cemas dan takut.


"Suruh masuk saja, Bob!" pinta Lusi.


"Sudah, Nyonya. Tapi dia tidak mau, dia hanya berdiri di luar pagar."


Damar mengernyit, "Mau apa anak itu?"


"Ya sudah, kita temuin saja dia." Lusi beranjak dan bergegas keluar.


Damar dan yang lainnya pun ikut beranjak dan menyusul Lusi.


Di luar, semua orang terkejut melihat wajah Dafi yang babak belur, dia terlihat berantakan dan sangat kacau.


"Ya Tuhan, Dafi! Apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini, sayang?" Lusi langsung memeluk Dafi yang hanya berdiri diam, seketika indera penciumannya menangkap aroma khas alkohol dari tubuh sang cucu.


Lusi melepaskan pelukannya dan memandang Dafi dengan kecewa, "Kamu minum minuman keras?"


Dafi hanya terdiam, dia tak membalas pertanyaan sang nenek.


Sera yang melihat keadaan mantan kekasihnya itu juga merasa cemas dan kasihan, namun tiba-tiba dia teringat rencananya semalam. Dengan sengaja, Sera bergelayut di lengan Damar, membuat lelaki itu spontan menatapnya, namun dia pura-pura cuek.


Sedangkan Dafi yang melihat semua itu hanya memandangi mereka dengan tatapan yang sulit diartikan, dia hanya mengepal kuat tangannya demi menahan geram dan emosi.


Lusi menghela napas dan berusaha mengalihkan situasi, "Baiklah, kalau begitu kita masuk dulu. Biar luka-luka kamu diobati. Atau kamu mau kita ke rumah sakit saja?"


Dafi hanya menggeleng dengan wajah datar.


"Dafi, sebaiknya kamu masuk dulu, ceritakan apa yang terjadi," titah Damar, tapi Dafi tetap diam dan menatapnya sinis.


"Dafi, kalau kamu diam begini, kami semua jadi semakin khawatir. Ayo, masuk! Kita obati lukamu dan sekalian ceritakan apa yang terjadi sampai wajahmu babak belur seperti ini," ujar Erick tegas.


Namun Dafi tetap bergeming, matanya terus menatap tajam Damar dan Sera. Namun di saat bersamaan, Riko datang dan bingung melihat Dafi ada di rumah atasannya itu.


"Selamat pagi," sapa Riko.


"Selamat pagi," balas semua orang kecuali Dafi.


Riko mendekati Damar lalu bertanya, "Maaf, Pak. Jadi berangkatnya? Soalnya mobil sudah siap, Pak."


"Batalkan keberangkatannya," jawab Damar, ini kesempatan bagus untuknya membatalkan rencana sang mama.


"Tidak bisa! Kamu dan Sera tetap pergi," sela Lusi.


"Tapi, Ma ...."


"Dafi biar Mama dan Papa yang urus, kalian pergi saja! Ini kan bulan madu kalian, jangan sampai batal," Lanjut Lusi tak memberi Dama kesempatan untuk protes.


"Mama dan Papa kan juga harus pulang ke Italia." Damar memeringatkan.


"Bisa kami undur, kamu tenang saja!" sambung Erick.


"Aku mau ikut Papa!" ucap Dafi tiba-tiba, dia akhirnya bersuara.


Semua orang tercengang mendengar permintaan Dafi itu.


Damar mengerutkan keningnya, "Kamu mau ikut Papa?"


Dafi hanya mengangguk.


"Tidak bisa, sayang. Papa dan Mama kamu mau bulan madu, mana mungkin bawa-bawa kamu," bantah Lusi.


Dafi semakin geram mendengar kata-kata Omanya itu. Dia tidak terima Sera menjadi mamanya, dia tidak rela mantannya itu pergi bulan madu bersama sang ayah.


"Pokoknya aku mau ikut!" ucap Dafi bersikeras.


Lagi-lagi semua orang dibuat bingung dengan sikap Dafi itu.


"Bagaimana kalau kamu ikut Oma dan Opa saja?" cetus Erick menengahi.


"Aku mau ikut Papa!" Dafi masih bersikeras.


"Dafi, kamu ini kenapa, sih?" sungut Lusi yang mulai kesal, "kamu cemburu karena papa kamu pergi bulan madu? Jangan seperti anak kecil! Papa kamu kan sudah menikah, dia juga berhak bahagia."


Dafi mengeraskan rahangnya, dia tidak ikhlas Damar dan Sera bahagia sementara dia merana dan terkubur rasa penyesalan. Tanpa bicara sepatah katapun, Dafi pergi begitu saja, membawa rasa sakit dan marah yang semakin menusuk hatinya.


"Dafi!" Panggil Damar, namun Dafi tak peduli.


"Sudah, sayang. Biarkan saja dia! Lama-lama sikapnya semakin kekanak-kanakan, Mama jadi kesal," gerutu Lusi.


"Tapi kasihan dia, Ma." Damar merasa iba pada putranya itu.


"Dia sudah dewasa, dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri," pungkas Lusi, "sekarang sebaiknya kalian bersiap-siap, kita akan berangkat! Nanti ketinggalan pesawat."


Lusi melangkah masuk ke dalam rumah, di dalam hatinya dia juga merasa kasihan pada sang cucu, tapi melihat sikap keras kepala Dafi tadi membuatnya emosi dan dongkol.


"Ayo, buruan!" Erick menepuk pundak Damar, kemudian bergegas menyusul istrinya.


"Ehem, mesra banget pengantin baru," ledek Riko sembari melirik tangan Sera yang masih bergelut di lengan Damar.


Sera sontak melepaskan tangannya dari lengan Damar, wajahnya seketika merah karena malu.


"Aku masuk dulu." Sera buru-buru pergi demi menghindari dua lelaki itu yang kini memandanginya.


"Sera menggemaskan kalau lagi malu-malu, ya? Jadi pingin gigit," seloroh Riko dan langsung mendapatkan tatapan tajam Damar.


"Eh, saya hanya bercanda, Pak!"


"Kamu ini lama-lama aku pindahkan jadi cleaning servis, siapa tahu otak mu bisa bersih karena sering main bareng cairan pembersih lantai."


"Jangan! Ampun, Pak!" seru Riko.


"Ya sudah, ayo masuk!" Damar melangkah ke dalam rumah, disusul oleh Riko.


"Omong-omong, tumben anak anda datang ke sini? Pagi-pagi lagi," tanya Riko penasaran.


"Sepertinya dia masih belum terima aku menikah, apalagi dengan teman sekolahnya."


Riko mengernyitkan keningnya, "Teman sekolah? Maksud anda?"


"Sera dan Dafi itu ternyata teman sekolah. Kami semua baru tahu tadi malam saat mereka bertemu di restoran, Sera juga baru tahu kalau aku ini papanya Dafi," terang Damar.


Riko terperangah dan menghentikan langkahnya, "Wah, kebetulan sekali!


"Iya, sangat kebetulan sekali," sahut Damar yang juga ikut berhenti berjalan.


"Tapi apa sebelumnya anda tidak tahu Sera sekolah di mana? Bukankah waktu itu anda membantu dia mengisi formulir pendaftaran mahasiswa baru?"


"Aku tidak perhatikan, aku hanya mengarahkannya saja, dia yang mengisi sendiri formulir pendaftaran itu."


"Oh, pantas saja."


***