My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 102.



Sera kembali masuk ke dalam ruang ICU, sejak Dafi mengungkapkan perasaan Damar padanya, dia tak bisa berhenti memikirkan suaminya itu. Dia merasa bersalah dan menyesal.


"Om, aku datang lagi."


Dengan perlahan Sera meraih tangan Damar yang dingin dan menggenggamnya, "Aku minta maaf karena sudah menyakiti Om, aku tidak peduli dengan perasaan Om. Maafkan aku!"


Sera tertunduk dan menangis tersedu-sedu, betapa dia menyesali apa yang sudah terjadi, dia melewatkan Damar begitu saja dan tak pernah mengerti dengan sinyal cinta yang lelaki itu berikan.


Tapi kali ini Damar merespon, jari-jari tangannya mulai bergerak. Sera terkejut dan langsung menatap wajah pucat sang suami.


"Om."


Perlahan-lahan Damar membuka matanya.


"Ya Tuhan, Om sudah sadar?" Sera seketika heboh, dia merasa senang bercampur haru.


Damar tak membalas kata-kata Sera, dia hanya menatap gadis itu dengan lemah dan mata yang sayu.


"Sebentar aku panggil dokter dulu!" Sera menekan tombol di sisi ranjang Damar dengan gemetar saking senangnya.


Tak butuh waktu lama, seorang dokter dan tiga orang perawat masuk ke ruang ICU.


"Dok, pasien sudah sadar," ujar Sera.


"Iya, kami akan memeriksa keadaannya dulu."


Dokter dan para perawat langsung mengecek kondisi Damar, Sera terus memperhatikan suaminya itu sambil berulang kali mengucap syukur pada Tuhan.


"Ini benar-benar keajaiban, pasien bisa melewati masa kritisnya dan bangun dari koma," ucap dokter itu takjub, "kami akan melepas ventilator nya dan memantau perkembangan pasien, jika keadaannya terus membaik dia bisa pindah ke ruang pemulihan."


Sera mengangguk, "Iya, Dok. Kalau begitu saya kabarin keluarganya dulu."


"Silakan."


Sera buru-buru keluar dari ruang ICU, dia bermaksud ingin menyampaikan kabar baik ini pada Lusi. Damar hanya memandangi kepergian Sera dengan raut wajah sedih, dia ingin memanggil gadis itu tapi tidak bisa sebab dia kesulitan bicara karena masih ada selang ventilator yang masuk ke dalam mulutnya.


Sementara itu di rumah sakit tak jauh dari tempat penyergapan Datuk Dahlan dan anak buahnya, Anggi sedang diobati, dia mendapat luka sayat yang cukup panjang akibat perbuatan suaminya itu. Dafi, Riko dan Arman menunggu Anggi dengan sedikit cemas. Sedangkan jenazah Datuk Dahlan sudah di bawah ke kamar mayat.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Arman.


"Lukanya cukup panjang, tapi untungnya tidak terlalu dalam dan mengenai pembuluh darahnya. Dalam waktu dekat, dia akan segera pulih, jadi bapak jangan khawatir," terang dokter yang menangani Anggi.


"Syukurlah," ucap Arman lega, "lalu kapan dia bisa pulang?"


"Setelah ini dia sudah bisa pulang, saya akan meresepkan obat agar lukanya cepat mengering."


"Baik, Dok. Terima kasih."


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu berlalu dari hadapan semua orang.


Dafi dan Riko yang mendengar kondisi Anggi juga ikut merasa lega.


"Kamu baik-baik saja, kan, Nak?" Arman mengusap kepala Anggi dengan penuh kasih sayang.


"Iya, Pa."Anggi mengangguk, sebenarnya dia masih syok tapi sudah lebih tenang dari sebelumnya.


Anggi lalu memandang Dafi yang berdiri di sisinya, "Sayang, kenapa dengan wajah kamu, Nak? Apa ini ulah Datuk Dahlan?"


Anggi terperangah dan mendadak cemas, "Ya Tuhan! Jadi bagaimana keadaan Papa kamu sekarang? Apa lukanya parah?"


Wajah Dafi berubah sendu, dia tertunduk sedih, "Papa kritis dan koma, Ma."


Anggi sontak menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua telapak tangan, "Ya ampun, Damar!"


"Aku sedih banget, Ma. Aku takut terjadi sesuatu pada Papa, aku tak mau kehilangan dia," lanjut Dafi dengan suara bergetar menahan tangis.


Anggi dan semua orang yang mendengar penuturan Dafi terkejut, mereka tak menyangka bocah itu akhirnya luluh dan mencemaskan sang ayah setelah sekian lama sangat membencinya.


Perhatian semua orang sontak tertuju pada Riko ketika ponselnya tiba-tiba berdering, saat melihat Sera yang menelepon, Riko buru-buru menjawab panggilan itu.


"Iya, ada apa, Sera?" tanya Riko.


"Mas, Om Damar sudah sadar."


Riko terkesiap, "Benarkah?"


"Benar, Mas. Sekarang dokter sedang memindahkannya ke ruang pemulihan."


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


"Iya, Mas."


Riko pun mengakhiri pembicaraannya dengan Sera, dia senang bercampur haru.


"Ada apa, Mas?" tanya Dafi penasaran.


"Pak Damar sudah sadar dan sekarang sedang dipindahkan ke ruang pemulihan," jawab Riko.


Sama seperti Riko, Dafi juga terkejut sekaligus merasa senang, begitu pun dengan Anggi dan Arman.


"Terima kasih, Tuhan!" seru Dafi penuh syukur.


"Syukurlah," tutur Anggi.


"Kalau begitu saya akan segera ke sana," ujar Riko.


"Aku ikut, Mas," Sela Dafi, lalu memandang Anggi, "Aku tinggal dulu, ya, Ma?"


"Tidak, Mama juga mau ikut kamu. Mama mau bertemu papa kamu," ucap Anggi.


Dafi merasa cemas dan keberatan, "Tapi, Mama kan sedang terluka."


"Tidak apa-apa, Mama baik-baik saja, kok." Anggi bersikeras.


Dafi memandangi Riko dan sang kakek, kedua orang itu pun mengangguk.


"Baiklah, kita urus administrasi Mama dulu."


Mereka pun segera mengurus administrasi Anggi dan bergegas meninggalkan rumah sakit itu.


***