My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 45.



Sudah satu jam semua orang menunggu kedatangan Ferdi juga Jamal yang berperan sebagai penghulu dan saksi, Deni maupun Riko berulang kali mencoba menghubungi kedua orang itu, namun tak ada jawaban sama sekali, membuat mereka sedikit cemas.


"Penghulu dan saksinya mana? Kenapa belum datang juga?" tanya Lusi.


"Ini masih saya hubungi, Bu," sahut Deni.


Damar dan Sera sudah harap-harap cemas, takut rencana mereka berantakan.


"Ko, ke mana teman kamu itu?" bisik Damar.


"Saya juga tidak tahu, Pak. Dari tadi saya hubungi, tapi tidak dijawab," balas Riko dengan suara yang sangat pelan.


"Cckk, ada-ada saja!" kesal Damar, tapi rupanya Lusi memergokinya.


"Kenapa, sayang?"


"Oh, ti-tidak apa-apa, Ma," jawab Damar gugup.


"Bagaimana ini, Mbak? Sudah satu jam tapi penghulunya belum juga ada kabar." cicit seorang wanita paruh baya bernama Lina, dia adalah adik kandung Lusi.


"Iya, Mbak. Apa tidak sebaiknya kita panggil penghulu lain saja?" cetus Haris yang merupakan suami Lina.


Damar, Sera, Riko dan para talent seketika gusar mendengar usul Haris itu.


"Ide bagus itu, Ma," sela Erick.


"Hem, sebaiknya kita tunggu sebentar lagi." Damar berusaha mengulur waktu.


"I-iya, Bu. Mungkin penghulunya terjebak macet, jadi agak telat," sambung Raffi.


"Baiklah, kita tunggu," ucap Lusi pasrah.


Damar dan Sera menghela napas lega, Deni pun kembali menghubungi Ferdi maupun Jamal, namun lagi-lagi tak ada jawaban.


"Ke mana mereka? Kenapa susah sekali dihubungi?" batin Dani kesal.


Dua jam berlalu, namun masih belum ada kabar dari Ferdi dan Jamal. Semua orang mulai kasak-kusuk dan gelisah, kali ini kesabaran Lusi dan Erick sudah habis, mereka tak mau lagi menunggu penghulu yang tidak jelas itu.


"Ini sudah keterlaluan, sebaiknya kita panggil penghulu lain saja," ujar Lusi kesal.


Damar sontak membantah ucapan sang mama, "Ma, sabar. Sebentar lagi penghulunya pasti datang."


"Damar, kita sudah menunggu dua jam, tapi tidak ada kepastian." Lusi mulai emosi.


"Iya, Mar. Ini sudah tidak benar, bisa-bisa kamu gagal nikah kalau begini." Erick menimpali.


"Tapi, Pa ...."


"Sudah, kamu tenang saja! Biar Papa dan Mama yang urus," potong Erick sebelum Damar sempat melanjutkan kata-katanya.


"Saya bisa bantu, Pak. Kebetulan saya punya teman orang KUA, kita bisa minta tolong padanya." Pak RT yang akan menjadi saksi tiba-tiba menyela.


"Ide bagus itu, Pak. Tolong bantu kami, ya?" pinta Lusi.


Pak RT pun mengangguk setuju.


Sera menatap Damar yang juga sedang memandang ke arahnya, saat ini dia ingin sekali berteriak dan membongkar kebohongan ini, tapi entah mengapa lidahnya terasa kaku.


Damar yang menyadari kegusaran Sera pun berusaha mengubah keputusan kedua orang tuanya itu.


"Ma, bagaimana kalau kita tunda saja pernikahannya? Nanti aku coba untuk menemui penghulu itu," bujuk Damar.


Lusi menatap curiga, "Kamu ini kenapa, sih? Apa jangan-jangan kamu sedang merencanakan sesuatu?"


Damar mendadak gugup dan langsung membantah tuduhan Lusi, "Ma-Mama ini bicara apa? Kenapa menuduhku seperti itu?"


"Habis dari tadi Mama perhatikan kamu terus saja mengulur waktu dan membantah Mama."


"A-aku hanya berusaha agar pernikahan ini berjalan sesuai rencana saja, Ma," dalih Damar.


"Sudah kamu tenang saja, pernikahan ini pasti berjalan dengan baik," pungkas Lusi.


Damar semakin merasa kesal dan panik, dia tak ingin menikah sungguhan dengan Sera. Dia lantas memberikan kode kepada Riko agar menggagalkan niat orang tuanya untuk meminta bantuan teman Pak RT itu, tapi Riko hanya menggelengkan kepala, sebab bingung harus melakukan apa.


Jantung Sera dan Damar semakin berdebar tak karuan saat Pak RT mengatakan jika temannya itu bersedia membantu dan akan segera datang, keduanya hanya bisa menelan ludah dengan wajah tegang.


***


Damar menarik Riko menjauh dari semua orang, dia uring-uringan karena rencana mereka berantakan dan sang mama malah memanggil penghulu sungguhan.


"Ko, bagaimana ini? Jangan diam saja, dong! Lakukan sesuatu!" bisik Damar.


"Saya bingung harus melakukan apa, Pak. Ini di luar skenario kita, saya tidak ada ide," balas Riko pelan.


"Tapi aku dan Sera tidak mungkin menikah, ini harus dihentikan."


"Tenang, Pak! Saya akan coba pikirkan lagi cara untuk menghentikan semua ini."


"Ya sudah, cepat pikirkan!" desak Damar tak sabar.


Riko mengangguk patuh, "Baik, Pak."


Begitu juga dengan Sera, dia sangat gelisah dan takut, dia bingung harus melakukan apa untuk menghentikan semua ini.


"Bagaimana ini, Mbak?" Sera berbisik pada Ayu yang duduk di sebelahnya.


"Aku juga bingung, mungkin sudah takdir kalian harus menikah sungguhan," sahut ayu pelan.


"Tapi aku tidak mau, Mbak," rengek Sera hampir menangis, dia sungguh tidak ingin menikah apalagi dengan Damar.


"Jadi mau gimana lagi, Sera? Semua di luar rencana kita. Aku juga bingung harus melakukan apa."


Sera semakin frustasi mendengar ucapan Ayu itu.


"Ya Tuhan, tolong aku! Aku tidak mau menikah dengan Om Damar," batin Sera.


***