My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 23.



Di dalam kamarnya, Damar langsung menghubungi Sera. Dia sedikit khawatir dengan gadis itu, karena sejak kedatangan Lusi, Sera hanya berdiam diri di dalam kamar tamu.


"Halo, Om."


"Keadaan kamu amankan?" tanya Damar.


"Aman, Om."


"Kamu tetap di dalam sana, jangan keluar dan jangan menimbulkan suara-suara yang bisa memancing kecurigaan Mama! Soalnya sekarang Mama masih ada di ruang keluarga."


"Iya, Om tenang saja!"


"Bagus! Nanti Om akan bawa kamu pergi dari sini untuk sementara waktu, soalnya Om takut Mama Om salah paham."


"Om mau membawa aku ke mana?"


"Ke hotel."


"Baiklah, Om."


"Ya sudah, Om tutup teleponnya."


Damar mengembuskan napas lega setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Sera, dia tak menyangka semua akan seperti ini. Kedatangan mendadak Lusi membuat kepalanya pusing.


***


Malam harinya, setelah memastikan Lusi sudah tidur, Damar bergegas menjalankan misinya. Dia segera menemui Sera yang sudah bersiap untuk pergi, gadis itu juga sudah mempersiapkan barang-barang yang akan dia bawa selama dia mengungsi ke hotel.


"Kamu sudah siap?" tanya Damar memastikan.


Sera mengangguk, "Sudah, Om."


"Kalau begitu kita berangkat sekarang."


Sera memandang Yuni yang terlihat sedih. "Eonni, aku pergi dulu, ya."


"Iya, Sera. Nanti kalau ada waktu senggang, aku akan mengunjungimu," balas Yuni.


Sera tersenyum, "Iya, Eonni."


"Sudah, ayo buruan! Nanti Mama bangun." desak Damar.


"Iya, Om."


Damar dan Sera pun mengendap-endap keluar dari rumah, lalu buru-buru pergi.


Beberapa saat kemudian, keduanya tiba di sebuah hotel tak jauh dari rumah Damar. Setelah memesan sebuah kamar, Damar pun mengantarkan Sera.


"Ini kamar kamu," Damar dan Sera berhenti di depan pintu sebuah kamar hotel, "kamu beranikan sendirian di sini?"


"Berani, Om."


"Kalau ada apa-apa, cepat kabari Om!" pinta Damar.


Sera mengangguk patuh, "Iya, Om."


Damar kemudian mengeluarkan dompetnya dan menarik beberapa lembar uang pecahan seratus ribu lalu memberikannya kepada Sera, "Ambil ini!"


Sera tertegun memandangi uang di tangan Damar, dia merasa sungkan jika menerimanya.


"Sera ambil! Gunakan uang ini untuk membeli makanan dan kebutuhan kamu selama di hotel."


Dengan sedikit ragu, Sera mengulurkan tangannya dan mengambil uang itu, "Terima kasih, Om."


Damar mengangguk, "Ya sudah, kamu hati-hati di sini. Jangan ke mana-mana, kalau mau makan pesan via online saja."


"Baik, Om."


"Kalau begitu Om pulang dulu."


"Iya, Om hati-hati di jalan."


Damar kembali mengangguk sambil tersenyum. "Selamat malam."


"Selamat malam, Om," balas Sera.


Damar pun meninggalkan Sera di hotel, dia sudah benar-benar lega saat ini dan tinggal mencari waktu yang tepat untuk menceritakan tentang gadis itu kepada Lusi.


Sera masuk ke dalam hotel dan menutup pintu, lalu meletakkan tas yang dia bawa di sudut kamar. Sera lantas duduk di atas ranjang dan mengeluarkan ponselnya, dia menghubungi Yuni.


"Halo, Eonni. Sudah tidur belum?" tanya Sera.


"Sudah, Eonni," jawab Sera.


"Terus Oppa mana?"


"Sudah pulang."


"Kamu sabar, ya. Nanti kalau nyonya Lusi sudah pulang ke Italia, kamu bisa kembali ke rumah ini lagi, kok."


"Iya, aku tahu, Eonni. Tapi aku kasihan pada Om Damar, dia jadi repot gara-gara aku."


"Tidak apa-apa, yang terpenting sekarang kamu aman dan baik-baik saja."


"Iya, Eonni," sahut Sera.


"Ya sudah, sekarang kamu tidur, ini sudah larut malam. Aku juga sudah mengantuk."


"Baiklah, Eonni. Selamat malam dan selamat tidur," ucap Sera.


"Selamat malam dan selamat tidur juga, Sera."


Sera pun mengakhiri pembicaraannya dengan Yuni, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Meskipun malam sudah larut, tapi matanya belum dapat terpejam. Dia masih memikirkan semua ini, dia merasa menjadi beban untuk Damar, karena selalu menyusahkan lelaki itu.


Sera mengembuskan napas, karena tidak bisa tidur, dia pun memutuskan untuk bermain ponsel. Sera kembali membuka media sosialnya dan mendapatkan pesan balasan dari temannya yang waktu itu mengucapkan turut berdukacita.


"SAMA-SAMA, SERA. KAMU APA KABAR? AKU DENGAR KATANYA KAMU KECELAKAAN, YA?"


Sera pun membalas pesan itu demi mengisi waktu.


***


Dafi sedang nongkrong bersama dua temannya di salah satu kafe tak jauh dari kostnya, walaupun luka di kaki dan tangannya belum kering, tapi dia tak ingin berdiam diri di dalam kost-kostan.


Salah seorang teman Dafi yang bernama Alvin sedang asyik bermain ponsel, tiba-tiba chat balasan dari Sera masuk, dia buru-buru membukanya.


"KABAR AKU BAIK, VIN. IYA, AKU TERTABRAK MOBIL WAKTU ITU, TAPI SEKARANG SUDAH TIDAK APA-APA, KOK."


Alvin pun kembali membalas pesan dari Sera itu. "SYUKUR, DEH. BEBERAPA HARI YANG LALU DAFI JUGA KECELAKAAN, DIA JATUH DARI MOTOR DAN LUKA-LUKA."


Tapi tak ada balasan dari Sera.


"Kamu lagi chatting dengan siapa? Mangsa baru?" ledek teman Dafi yang lain yaitu Marcell.


"Dengan Sera," jawab Alvin sembari melirik Dafi.


Mendengar nama Sera, Dafi sontak menatap Alvin.


"Eits, jangan cemburu dulu, Daf! Waktu itu aku mengucapkan turut berdukacita, dan tadi siang baru dia balas. Terus aku tanya kabarnya, ini baru dia jawab," terang Alvin sebab tak ingin Dafi salah sangka.


Wajah Dafi berubah sendu karena Sera sama sekali tak membalas pesan darinya, sedangkan pesan dari Alvin dibalas oleh mantannya itu.


"Terus Sera bilang apa? Bagaimana keadaannya sekarang?" sela Marcell.


"Iya, waktu itu dia tertabrak mobil, tapi sekarang sudah baik-baik saja," jawab Alvin.


"Syukurlah kalau begitu, soalnya waktu di pemakaman, keadaannya terlihat parah, sampai naik kursi roda segala," ujar Marcell yang waktu itu hadir di pemakaman Mila.


Dafi masih bergeming, jauh di hatinya lelaki itu merasa lega karena Sera baik-baik saja.


"Aku juga bilang kalau Dafi kecelakaan," lanjut Alvin.


Dafi langsung menatap Alvin dengan penuh rasa ingin tahu, "Lalu apa katanya?"


Alvin menggeleng pelan, "Tidak dibalas."


Wajah Dafi semakin murung, tak bisa dipungkiri hatinya merasa kecewa karena Sera tidak lagi peduli padanya, padahal dulu gadis itu orang yang paling mencemaskan dirinya jika ada apa-apa.


"Kayaknya Sera sudah tidak peduli lagi padamu, Daf. Mungkin doi sudah move on, atau jangan-jangan sudah punya pacar baru," imbuh Marcell.


"Iya, apalagi Sera itu cantik, pasti gampang banget dapat pacar baru," sambung Alvin.


Dafi mengembuskan napas berat, entah mengapa hatinya merasa kesal mendengar ucapan provokasi teman-temannya itu.


Awalnya dia berpikir hidupnya pasti lebih menyenangkan jika bisa berpacaran dengan Luna, tapi kenyataannya dia tidak pernah benar-benar merasa bahagia. Entah itu karena rasa bersalah pada Sera atau mungkin karena masih mencintai gadis itu, sampai detik ini dia tak bisa berhenti memikirkan dan peduli pada sang mantan, meski sudah enam bulan mereka putus.


Sementara itu di dalam kamar hotel, Sera termangu sembari menggenggam erat ponselnya. Kalau boleh jujur, dia masih mencemaskan Dafi tapi dia tak ingin membahas lelaki itu kepada Alvin yang merupakan teman dekat sang mantan. Dia tak ingin Alvin cerita ke Dafi dan membuat lelaki itu besar kepala karena dia masih memedulikannya.


"Semoga dia baik-baik saja," ucap Sera penuh harap.


***