My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 4.



Tiba-tiba pintu ruangan Sera terbuka, Damar yang baru datang langsung menyelonong masuk.


Sera dan Riko sontak menoleh ke arah pintu.


"Selamat pagi, Pak," sapa Riko sambil menunduk hormat.


"Selamat pagi, Ko. Bagaimana kondisinya?"


Riko pun mengulangi apa yang dokter katakan tadi, Damar hanya menyimak dan merasa lebih tenang sekarang. Sedangkan Sera yang tidak mengenal Damar hanya bergeming memandangi pria itu dengan bingung.


"Baiklah, sekarang kamu boleh pulang dan beristirahat. Hari ini kami tidak usah masuk kerja," titah Damar yang tahu Riko pasti lelah semalaman menjaga Sera.


"Serius, Pak?" Riko memastikan.


"Iya, terima kasih sudah membatu ku mengurus semua ini."


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya pulang dulu."


Damar mengangguk dan tersenyum.


Riko pun bergegas meninggalkan ruang perawatan Sera dengan riang, dia akan balas dendam dan tidur seharian nanti.


Selepas kepergian Riko, Damar mendekati Sera dan duduk di samping gadis itu.


"Hai, apa kabar?" sapa Damar basa-basi, dia sedikit canggung karena merasa bersalah.


"Sudah lumayan baik, Om." Sera memandangi wajah Damar, entah mengapa sepintas lelaki itu mirip Dafi. Ah, dia jadi teringat mantan kekasihnya itu.


"Syukurlah. Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?"


Sera tersentak lalu menjawab, "Sera, Om."


"Nama yang cantik, secantik orangnya," puji Damar.


Sera tersenyum simpul mendengar pujian Damar itu.


"Nama Om, Damar. Om mau minta maaf, karena tadi malam Om tidak sengaja menabrak kamu. Om juga kaget banget saat kamu tiba-tiba menyeberang jalan," terang Damar menyesal.


Sera bergeming, dia kembali berusaha mengingat kejadian yang Damar maksud dan pelan-pelan beberapa potongan memori mulai bermunculan di ingatannya.


"Aku tidak terlalu mengingat kejadian itu, Om."


"Tidak apa-apa, jangan terlalu memaksa untuk mengingat nya," imbuh Dirga.


"Kalau boleh tahu alamat kamu di mana? Atau kamu ingat nomor telepon orang tuamu? Biar Om bisa menghubungi mereka untuk memberi kabar," tanya Damar kemudian.


Sera termangu, dia mendadak teringat perlakuan biadab Heru terhadapnya, hatinya merasa takut jika harus bertemu lelaki itu lagi.


Melihat Sera melamun, Damar menegurnya, "Kamu kenapa?"


Sera terkejut, "Oh, tidak apa-apa, Om."


"Kenapa kamu melamun? Kamu tidak ingat nomor telepon mereka?"


Damar mengernyitkan dahinya, "Memangnya ada apa? Kenapa kamu tidak mau pulang?"


"Aku hampir saja diperkosa oleh ayah tiri ku, jadi aku kabur dari rumah."


Damar tercengang, sekarang terjawab sudah rasa penasarannya dan Riko.


"Jadi itu alasannya kamu berlari malam-malam?" selidik Damar.


"Sebenarnya bukan itu saja," sanggah Sera.


"Lalu?"


"Saat kabur dari rumah, aku ke kost-kostan kekasihku untuk minta perlindungan, tapi aku malah memergoki dia selingkuh dengan wanita lain. Akhirnya aku pergi dan berjalan tak tentu arah, sampai di tempat sepi ada preman yang mau menggangguku, aku berusaha berlari dan kabur dari mereka," beber Sera dengan air mata berlinang.


"Dan akhirnya kamu tertabrak mobil Om."


Sera tak menjawab, dia malah menangis tersedu-sedu. Damar semakin merasa kasihan pada gadis itu.


"Kekasihmu itu benar-benar brengsek! Dan ayah tiri mu sebaiknya kita laporkan ke polisi, biar dia tahu rasa," kecam Damar.


"Jangan, Om!"


"Kenapa?"


"Ibuku sedang sakit, aku takut terjadi sesuatu dengan Ibu jika ayahku ditangkap polisi."


"Tapi dia sudah kurang ajar," sungut Damar penuh emosi.


"Ibu punya sakit jantung, Om. Aku tidak ingin sakitnya semakin parah."


"Pasti sekarang ibumu sedang cemas karena kamu pergi dan tidak ada kabar."


"Iya, aku tahu. Tapi saat ini aku juga tidak bisa bertemu Ibu, aku tak ingin dia semakin cemas melihat keadaanku sekarang. Nanti aku akan hubungi tetanggaku agar dia menyampaikan ke Ibu kalau aku baik-baik saja, jadi Ibu bisa tenang."


"Baiklah kalau itu mau kamu, Om tidak bisa memaksa," ucap Damar pasrah," sekarang sebaiknya kamu istirahat dan jangan sedih lagi. Nanti Om akan mencarikan tempat tinggal untukmu."


"Om mau bantu aku cari tempat tinggal?" Sera memastikan.


Damar mengangguk, "Iya, tapi sekarang Om ke kantor dulu. Kamu baik-baik di sini, nanti Om akan kirim seseorang untuk menjagamu."


"Terima kasih, ya, Om. Maaf sudah merepotkan." Sera merasa sungkan.


"Tidak apa-apa, anggap ini bentuk pertanggung-jawaban dari Om," balas Damar sambil tersenyum, "Kalau begitu Om pergi dulu."


"Iya, Om."


Damar beranjak dan pergi dari ruang perawatan Sera, sementara gadis itu masih merasa sedih dan cemas memikirkan Mila. Saat ini dia sangat merindukan ibunya itu.


"Ibu sabar, ya. Nanti kalau aku sudah sembuh dan mendapatkan pekerjaan, aku akan bawa ibu keluar dari rumah itu." Sera berbicara sambil mengusap air matanya.


***