
Sementara itu di dalam kamar, Sera tengah duduk melamun di tepi ranjang sambil memandangi foto Dafi di media sosialnya. Dia masih tak bisa percaya jika sekarang statusnya adalah ibu sambung dari mantan kekasihnya sendiri, ini sungguh membuatnya galau dan dilema.
"Kenapa bisa begini? Bagaimana kalau Dafi dan Om Damar tahu semua ini? Mereka pasti berpikiran macam-macam tentang aku." Sera benar-benar merasa khawatir.
"Berarti yang waktu itu harusnya aku temui di restoran adalah Dafi," ujar Sera lalu memukul pelan kepalanya, "Cckk, andai saja waktu itu aku tidak ke toilet, pasti tidak akan seperti ini kejadiannya. Aku pasti akan menolak semua rencana Om Damar kalau tahu dia papanya Dafi."
Sera sungguh menyesali semuanya. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Eh, tapi tadi Dafi tidak ada. Apa Om Damar tidak memberi tahu dia? Atau memang dia yang tidak mau datang?" Sera bertanya-tanya.
Lamunan Sera seketika buyar karena Damar tiba-tiba mengetuk pintu sambil memanggilnya.
"Sera!"
Sera langsung mematikan layar telepon genggamnya dan bergegas membuka pintu. Meski canggung, dia berusaha bersikap biasa saja di depan suaminya itu.
"Kamu sedang apa di kamar sendirian?" tanya Damar
"Lagi istirahat, Om."
"Kenapa tidak ganti pakaian?"
"Ini baru mau ganti, Om," jawab Sera.
"Om juga mau ganti pakaian, soalnya gerah pakai ini." Damar menunjuk beskap putih yang masih menempel di tubuhnya.
"Ya sudah, kalau begitu Om ganti saja duluan, biar aku tunggu di luar." Sera hendak keluar, tapi terpaku saat Riko tiba-tiba muncul dan berdiri di depan kamar.
"Ada kabar buruk!" seru Riko panik dan cemas.
"Kabar buruk apa, Ko?"
"Ferdi dan Bang Jamal kecelakaan, sekarang mereka ada di rumah sakit Fatmawati," beber Riko.
Damar terkesiap, "Astaga!"
"Ya Tuhan, Mas Ferdi, Bang Jamal," pekik Sera yang terkejut mendengar berita itu.
"Saya dan yang lainnya mau ke rumah sakit, apa kalian berdua mau ikut?" Riko memastikan.
"Iya, aku mau ikut, Mas," sahut Sera heboh.
"Ya sudah, kalian duluan saja! Kami mau ganti baju dulu," pinta Damar, seba dia dan Sera tidak mungkin ke rumah sakit mengenakan kebaya dan beskap seperti itu.
"Baik, Pak." Riko buru-buru pergi dari hadapan pasangan suami istri tersebut.
"Sera, buruan ganti baju!" Damar buru-buru membuka pakaiannya.
Sera termangu dan langsung mengalihkan pandangannya, wajah gadis itu merah karena malu melihat Damar bertelanjang dada.
Damar mengerutkan keningnya melihat Sera masih terpaku membelakanginya di depan pintu, "Sera kenapa kamu tidak ganti pakaian?"
"Nanti saja, tunggu Om keluar," sahut Sera tanpa memandang suaminya itu.
Begitu Damar pergi, Sera mengembuskan napas lega dan langsung menutup pintu.
Sera bergegas melepaskan hiasan di kepalanya, lalu kemudian menarik resleting belakang kebaya yang dia kenakan, namun tanpa di duga resleting itu macet sehingga membuat dia kesulitan untuk membukanya.
"Kenapa sulit sekali dibuka, sih?" gerutu Sera kesal.
Dia terus berusaha menarik resleting itu agar terbuka, namun tidak bisa.
Sepuluh menit kemudian, Sera belum juga berhasil membuka resleting tersebut.
"Sera, sudah selesai belum? Kenapa lama sekali?" Damar tiba-tiba berteriak dari balik pintu.
"Belum, Om. Resleting kebayanya sulit sekali dibuka," teriak Sera dari dalam kamar.
"Kalau begitu mari Om bantu."
Sera terdiam, jika dia menerima bantuan Damar, itu berarti Damar akan melihat tubuh bagian belakangnya.
"Sera!" tegur Damar sebab tak ada jawaban dari sang istri.
Sera benar-benar terdesak, dia tak ada pilihan lain lagi. Mau tak mau, dia pun menerima tawaran Damar itu.
"Iya, sebentar, Om." Sera segera membuka pintu.
"Sini biar Om bantu buka kan."
Dengan ragu Sera berbalik membelakangi Damar, jantungnya berdebar kencang sebab merasa malu dan gugup.
Dengan hati-hati Damar menarik resleting kebaya yang Sera kenakan, memang sedikit sulit karena ada sisa benang yang tersangkut di resleting tersebut.
Akhirnya resleting itu bisa dibuka juga dan Damar sontak terpana begitu melihat pundak dan badan belakang Sera yang putih mulus. Dia menelan ludah, darahnya berdesir dengan jantung yang berdetak kencang. Mendadak ada yang bergejolak di dalam diri Damar, hasratnya pun terpancing dan pikiran-pikiran kotor mulai memenuhi kepalanya.
Aneh memang, hanya dengan melihat badan belakang Sera saja, birahi Damar yang sudah seminggu ini tidak terlampiaskan bisa naik seketika. Bagaimana jika dia melihat tubuh polos gadis itu? Mungkin dia tidak akan bisa mengontrol dirinya lagi.
"Sudah, Om?" Sera bertanya, membuat Damar tersadar dari pikiran nakalnya.
"Su-sudah," jawab Damar gugup.
Sera langsung berbalik menghadap Damar, "Kalau begitu Om keluar dulu, aku mau ganti baju."
Damar mengangguk dan bergegas keluar dari kamar itu.
Sera pun kembali menutup pintu dan bergegas melepaskan kebaya yang dia pakai lalu menggantinya dengan sebuah dress berwarna biru cerah.
Sementara itu, Damar masih berdiri di depan pintu kamar sambil memegangi dadanya, "Ada apa denganku? Kenapa aku seperti ini?"
Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya, perasaan aneh yang beberapa waktu lalu pernah dia rasakan, kita mendadak muncul lagi. Bahkan kali ini lebih parah dari sebelumnya.
***