
Selesai makan malam, Lusi mengajak Damar dan Sera duduk di ruang tamu. Dia ingin mengobrol dan mencari tahu sudah sejauh mana hubungan kedua orang itu.
"Kalian serius dengan hubungan ini?" tanya Lusi tanpa basa-basi.
"Serius lah, Ma," jawab Damar cepat, Sera sontak menoleh ke arah lelaki itu.
"Kalau begitu kenapa kalian tidak menikah saja? Jadi Sera bisa tinggal di sini dan tidak sendirian lagi di apartemen," cetus Lusi.
Damar dan Sera tercengang, keduanya saling pandang sambil menelan ludah, namun Damar buru-buru memutuskan pandangannya dan membantah ide Lusi itu.
"Ma, Sera itu kan masih muda, dia juga baru saja mau masuk kuliah. Jadi terlalu cepat kalau kami menikah sekarang."
"Memangnya kenapa? Banyak kok wanita muda yang sudah menikah tapi tetap kuliah, tidak jadi masalah."
"Iya, tapi ini terlalu cepat. Mama kan tahu bagaimana masa laluku, aku takut itu terulang lagi kalau aku memutuskan buru-buru menikah," sambung Damar, sementara Sera hanya terdiam, dia tak berani membuka suara.
"Mama yakin Sera tidak seperti mantan istri kamu itu, dia pasti bisa membahagiakan mu," ujar Lusi yakin.
Damar mengernyit, "Kenapa Mama bisa yakin sekali? Mama kan belum kenal dia seperti apa?"
"Entahlah, tapi Mama menyukainya sejak pertama kali bertemu. Mama percaya dia gadis yang baik."
Damar tertegun, jauh di dalam hatinya dia juga mengakui jika Sera itu adalah gadis yang baik, tapi masalahnya dia tidak mau menikah apalagi dengan Sera.
Sementara Sera sendiri masih tetap bergeming, wajah merona mendengar pujian Lusi.
Lusi kemudian beralih memandang Sera. "Sayang, kamu mau kan menikah dengan Damar?"
Sera mendadak tegang mendengar pertanyaan wanita paruh baya itu, dia ingin melirik Damar yang duduk di sampingnya untuk meminta bantuan, tapi tak berani karena Lusi terus menatapnya dengan intens.
"Hem, ... a-aku ...." Sera seketika tergagap.
"Ma, jangan membuat Sera merasa tidak nyaman!" sela Damar yang ingin mengalihkan perhatian Lusi dan menyelamatkan Sera dari situasi menegangkan ini.
"Mama kan hanya bertanya!" sahut Lusi ketus.
"Tapi, Ma ...."
Sera berulang kali menelan ludah, dia benar-benar gugup dan bingung harus menjawab apa.
Damar masih berusaha mengalihkan suasana, "Ma, sudahlah!"
"Damar, diam!" bentak Lusi, membuat putranya itu seketika bergeming.
"Ayo jawab, Sera!" desak Lusi yang masih menatap Sera dengan penuh harap, membuat gadis itu semakin berkeringat dingin.
"Hem, ma-maaf, Tante. A-aku belum mau menikah, aku masih mau kuliah," jawab Sera dengan bibir bergetar, dia pasrah kalau Lusi akan marah karena jawabannya itu.
Damar juga harap-harap cemas dengan reaksi sang mama.
Lusi merasa kecewa dengan jawaban Sera tersebut, wajah tuanya seketika berubah sedih, "Baiklah, kalau kamu belum mau menikah. Tapi jangan salahkan Tante jika nanti Tante menjodohkan Damar dengan wanita lain, karena Tante ingin dia menikah secepatnya, bukan cuma sekedar pacar-pacaran saja."
"Mama!" tegur Damar memberi peringatan.
"Damar, umur kamu sudah banyak, kamu bukan anak ABG lagi. Mama dan Papa ingin melihatmu menikah lalu hidup bahagia, agar kami bisa mati dengan tenang," sungut Lusi dengan mata berkaca-kaca, membuat Sera semakin merasa tidak enak.
"Tante, aku minta maaf, ya," ucap Sera melas.
"Sudahlah, Tante rasa semuanya sudah jelas. Selamat malam." Lusi beranjak dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan keduanya di ruang tamu.
Damar mengembuskan napas berat sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, melihat itu, Sera jadi merasa bersalah.
"Aku minta maaf, ya, Om. Gara-gara aku, Mama Om jadi marah," sesal Sera.
"Kamu tidak salah, Mama memang seperti itu kalau keinginannya ditentang, dia akan ngambek dan marah."
"Jadi sekarang bagaimana?" tanya Sera
"Sudah biarkan saja, nanti juga Mama baik lagi," balas Damar lalu menegakkan tubuhnya, "sekarang Om antar pulau, yuk!"
Sera mengangguk setuju, keduanya pun segera meninggalkan rumah itu.
***