
Sera dan Damar tiba di restoran yang tadi sempat dikatakan oleh Lusi sebelum mereka berangkat, Sera berulang kali menarik napas lalu membuangnya demi menenangkan diri, agar tidak gugup.
"Ingat, bertingkah sewajarnya orang pacaran, jangan berlebihan. Pokoknya kamu harus berakting sebagus mungkin, jangan sampai rencana kita gagal."
"Siap, Om!"
"Nah, itu juga jangan sampai salah! Panggil Mas, jangan Om! Ingat itu!"
"Iya, Mas Damar," ledek Sera, membuat Damar tertawa.
"Ya sudah, ayo turun!"
Damar dan Sera buru-buru keluar dari dalam mobil.
"Gandeng tangan, Om!" pinta Damar, dan Sera pun menurutinya.
Keduanya berjalan masuk ke dalam restoran, Sera bergelayut di lengan Damar bak pasangan kekasih beneran. Sejujurnya Sera merasa risi dan tidak nyaman bertingkah seperti itu, tapi dia harus totalitas dalam menjalankan perannya demi membantu Damar.
Di sudut restoran terlihat Sarah sedang duduk sendiri sambil bermain ponsel, wanita itu juga tak kalah cantik malam ini. Damar dan Sera melangkah menghampiri Sarah.
"Selamat malam, Sarah," sapa Damar.
Sarah mengangkat kepalanya dan menatap kedua insan itu bergantian. "Selamat malam, silakan!"
Sera dan Damar duduk di hadapan Sarah yang masih terus memandangi mereka dengan tatapan tak terbaca.
"Perkenalkan, ini kekasihku. Namanya Sera." Damar memperkenalkan Sera pada Sarah, meskipun wanita itu tak bertanya.
Sera tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke hadapannya Sarah, "Sera."
Sarah pun balas tersenyum dan menjabat tangan Sera, "Sarah."
"Maaf, sudah menunggu lama," ujar Damar basa-basi.
"Tidak, apa-apa. Aku juga baru datang," balas Sarah, "oh iya, kalian mau pesan apa?"
Sarah berusaha bersikap biasa saja meskipun dia merasa sedikit kecewa dengan kehadiran Sera.
"Kamu pesan apa, sayang?" Damar bertanya kepada Sera dengan mesra.
"Terserah kamu saja, Mas."
"Ya sudah aku yang pilihkan, ya?" Lanjut Damar, dan Sera mengangguk patuh.
Sarah hanya melirik mereka dengan perasaan cemburu.
Damar pun segera memanggil waiters dan memesan makanan, begitu pun dengan Sarah.
"Sudah berapa lama kalian berhubungan?" tanya Sarah penasaran.
"Setahun."
"Tiga bulan."
Damar dan Sera menjawab bersamaan, tapi jawaban mereka tidak kompak. Sarah mengernyit dan menatap mereka dengan curiga.
"Maksudnya setahun tiga bulan," ralat Damar cepat.
"Oh, ternyata sudah lumayan lama."
Keduanya pun tersenyum gugup, hampir saja kedok mereka terbongkar.
Pesanan mereka pun akhirnya datang, dan waiters menghidangkan di atas meja.
"Silakan!" Si waiters mempersilakan.
"Terima kasih."
Damar, Sera dan Sarah pun mulai menyantap makanan di hadapan mereka.
Tapi tiba-tiba Sera menyodorkan sesendok makanan ke depan wajah Damar dan meminta lelaki itu membuka mulutnya, "Ahk, sayang!"
Damar tertegun dan akhirnya terpaksa membuka mulut dan memakan apa yang Sera suap kan, karena dia tahu Sarah sedang mengawasi mereka.
Sejujurnya Damar merasa malu, karena ulah Sera itu membuat mereka jadi bahan perhatian pengunjung restoran lain.
"Kamu tidak mau menyuapi aku juga?" rengek Sera manja.
Damar terdiam, tapi sejurus kemudian dia terpaksa menyuapi gadis itu dan mereka kembali menjadi pusat perhatian.
Kali ini Sarah benar-benar merasa muak, dia tahu kedua insan di hadapannya ini sedang berusaha memamerkan kemesraan mereka padanya. Sarah pun berhenti makan lalu meletakkan sendok dan garpu nya.
Wanita cantik itu menghela napas dan menatap Damar kesal, "Sepertinya cukup! Sekarang aku tahu kalau kamu itu kekanak-kanakan!"
Damar dan Sera termangu mendengar kalimat menohok Sarah itu.
Sarah meraih tasnya dan segera beranjak dari sana, Damar dan Sera melongo melihat kepergian wanita itu.
"Semua ini gara-gara kamu!" tuduh Damar, dia kesal karena ucapan Sarah tadi.
"Lah, kok gara-gara aku?" protes Sera tak terima.
"Iyalah, ngapain pakai acara suap-suapan segala? Om jadi dikatain kekanak-kanakan sama dia."
"Kan biar romantis, Om. Bukannya tadi Om sendiri yang minta agar aku bertingkah sewajarnya orang pacaran, jadi kenapa sekarang menyalahkan aku?"
Sera mengangguk dengan polos, "Iya. Memangnya Om kalau pacaran tidak seperti itu?"
"Pacaran orang dewasa itu beda," jawab Damar asal.
Sera mengernyit, "Memangnya orang dewasa kalau pacaran itu gimana?"
"Anak kecil seperti kamu tidak akan paham."
Wajah Sera sontak masam. Damar pun memanggil waiters dan membayar semua makanan itu.
"Kita tidak makan dulu, Om?"
"Makan di rumah saja!" pungkas Damar, sesungguhnya dia sudah malu berada di restoran itu, "yuk pulang!"
Keduanya segera beranjak dan meninggalkan restoran tersebut.
Di perjalanan, Sera teringat dengan kata-kata Yuni tadi, dia pun menanyakan hal itu pada Damar.
"Om."
"Hem." Damar berdeham sambil fokus mengemudi.
"Om yakin ini tidak akan jadi masalah? Bagaimana kalau wanita yang tadi mengadu ke mamanya Om?"
"Itu urusan Om, jadi biar Om yang urus. Kamu tenang saja!"
"Lagian kenapa Om tidak terima saja perjodohan ini? Wanita yang tadi cantik, loh."
"Om tidak mau terikat," jawab Damar singkat.
"Kenapa?"
"Ya tidak mau saja!" sahut Damar enteng, dia tentu tak ingin Sera tahu masa lalunya yang buruk.
"Om aneh, deh! Dimana-mana setiap orang itu pasti ingin menikah, memiliki anak dan keluarga yang bahagia. Om malah tidak mau terikat," gerutu Sera.
"Itu kan orang."
"Memangnya Om bukan orang!" sungut Sera kesal, membuat Damar terkekeh.
"Sera, terima kasih ya karena kamu sudah membantu Om."
"Iya, sama-sama," balas Sera.
"Nanti Om kasih hadiah, deh."
"Tidak usah repot-repot, aku ikhlas kok membantu Om."
"Tidak apa-apa, anggap saja sebagai ucapan terima kasih," tukas Damar dengan senyum mengembang.
***
Sera sudah tiba di rumah, sedangkan Damar pergi lagi setelah mengantarkan gadis itu. Yuni yang dari tadi menunggu segera menghampiri gadis itu.
"Wah, sudah pulang? Kenapa cepat sekali?"
"Entah, tuh! Om Damar buru-buru ajak aku pulang," keluh Sera.
"Terus bagaimana misi kalian? Berhasil?" tanya Yuni penasaran.
"Sepertinya berhasil," jawab Sera.
"Syukur, deh!" sahut Yuni, "lalu seperti apa respon wanita itu? Dia marah-marah atau justru menangis?"
"Tidak keduanya, dia pergi begitu saja setelah mengatakan kalau Om Damar kekanak-kanakan."
Yuni terperangah, "Dia bilang begitu?"
Sera mengangguk dan Yuni sontak tertawa.
"Astaga, kenapa dia bisa mengatakan itu?"
"Karena kami suap-suapan tadi," jawab Sera jujur.
Tawa Yuni kembali meledak.
"Pantas saja dia berkata seperti itu. Oppa itu pria dewasa yang berwibawa, masa gaya pacarannya seperti anak ABG." Yuni berbicara setelah bisa menguasai diri.
Sera langsung merengut, "Kan biar romantis."
"Eh, tapi kalau aku perhatikan, kamu dan Oppa itu serasi juga. Yang satu tampan dan satunya lagi cantik," imbuh Yuni kemudian.
"Serasi apanya, Eonni? Dia lebih pantas jadi ayahku."
"Tidak, dia lebih cocok dari kekasihmu. Percaya, deh!" ucap Yuni yakin.
"Ah, mata Eonni sudah rabun," ejek Sera dan bergegas ke kamarnya. Yuni pun menyusul gadis itu sembari terus menggodanya.
***
Maaf ya kalau terkadang ada typo nama Damar ataupun yang lain nya, soalnya aku sedang ngerjain 3 novel sekaligus, jadi kadang suka tertukar nama tokohnya. Mohon dimaklumi, tapi kalau kalian menemukan ada typo, buruan kasih tahu aku, biar aku perbaiki.☺️