My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 14.



Damar pulang dengan wajah lesu dan muram, kejadian di rumah sakit tadi benar-benar membuat moodnya buruk.


Melihat majikannya pulang, Yuni sontak menghampirinya.


"Bagaimana keadaan anak Oppa?" tanya Yuni heboh.


"Dia hanya luka-luka saja," jawab Damar.


"Syukurlah!" seru Yuni lega.


Damar celingukan, "Sera mana, Yun?"


"Ada di kamarnya, mau saya panggilkan?"


Damar menggeleng, "Tidak usah! Biar aku saja yang ke sana."


Damar melangkah menuju kamar tamu, saat ini dia ingin sekali bertemu dengan Sera, karena gadis itu yang selalu berhasil membuat suasana hatinya lebih tenang.


Damar mengetuk pintu kamar Sera, "Sera, Om boleh masuk?"


"Silakan, Om," teriak Sera dari dalam kamar.


Dengan perlahan Damar membuka pintu dan masuk, tampak Sera sedang duduk bersandar di atas kasur sambil memegang sebuah buku.


Damar pun duduk di tepi ranjang Sera, "Kamu sedang apa?"


"Nih, lagi baca buku." Sera menunjukkan buku yang sedang dia pegang, karena tidak ada ponsel, dia hanya mengisi waktu dengan membaca.


"Om tidak menggangu, kan?"


"Tidak, Om," balas Sera, "oh iya, bagaimana keadaan anak Om? Dia baik-baik saja, kan?"


"Iya, dia baik-baik saja. Cuma kaki dan tangannya yang terluka."


"Syukurlah kalau begitu," ujar Sera lega.


Perhatian Damar teralihkan ke pigura foto keluarga Sera yang terpajang di atas meja.


"Sera!"


"Iya, Om."


"Kamu sayang pada ayahmu?" tanya Damar.


"Tentu saja, Om. Aku sangat menyayangi ayahku."


"Kamu pernah tidak marah padanya?"


Sera menggeleng, "Tidak, Om. Soalnya ayah itu baik banget."


Wajah Damar berubah sendu, seketika dia merasa iri kepada ayah Sera yang bisa merasakan kasih sayang seorang anak. Tapi dia sadar, apa yang dia dapatkan saat ini kerena kesalahannya sendiri, mungkin Tuhan sedang menghukumnya.


Sera yang memperhatikan Damar merasa heran, "Om kenapa?"


Damar menatap Sera dan memaksakan senyuman, "Tidak apa-apa."


Meskipun Damar berusaha menyembunyikan kesedihannya, tapi Sera tahu ini pasti ada hubungannya dengan sang anak, tapi Sera pura-pura tidak tahu.


"Oh iya Sera, ada yang mau Om tanyakan ke kamu."


"Apa, Om?"


"Apa kamu tidak ada niat untuk kuliah?" tanya Damar kemudian demi mengalihkan pembicaraan.


"Ada, sih, Om. Tapi kuliah itu kan butuh banyak biaya, jadi aku rencananya mau cari pekerjaan dulu, baru kuliah."


"Bagaimana kalau Om yang membiayai kuliah kamu sampai tamat."


Sera tercengang, "Serius, Om?"


Damar menganggukkan kepalanya.


"Tapi aku takut merepotkan Om."


"Om tidak merasa direpotkan sama sekali, kok," balas Damar.


Sera tertegun memandang Damar, dia merasa terharu karena kebaikan lelaki itu.


"Sekarang kamu pilih mau kuliah di mana dan mengambil fakultas apa?" lanjut Damar.


Sera bergeming, seketika dia teringat kampus tempat Dafi menimba ilmu. Dari dulu dia sangat berharap bisa masuk ke universitas ternama itu, tapi sekarang dia ragu sebab tak ingin bertemu sang mantan.


"Sera, kenapa melamun?" tegur Damar sebab melihat Sera termenung.


"Eh, tidak apa-apa, Om."


"Jadi kamu mau pilih kampus mana?" Damar memastikan.


"Belum tahu, Om. Nanti aku pikirkan dulu."


"Ya sudah, kamu pikirkan dulu, nanti kabari Om."


"Baik, Om."


"Kalau begitu Om ke kamar dulu, mau ganti baju." Damar beranjak dari sisi Sera.


Sera mengangguk seraya tersenyum, "Iya, Om."


Damar pun keluar dari kamar Sera dan melangkah ke kamarnya. Tak berapa lama Yuni pun datang.


"Kabar gembira apa, Eonni?"


"Tahu tidak, ada pujasera yang baru buka dan kita bisa mendapatkan diskon besar-besaran kalau makan di sana hari ini."


Sera terkesiap, "Benar ada diskon besar-besaran?"


"Iya, Sera. Kalau tidak percaya lihat ini beritanya." Yuni menunjukkan berita pembukaan pujasera itu di ponselnya.


"Wah, benar! Tempatnya jauh tidak?"


Yuni menggeleng, "Tidak terlalu jauh, kok. Ke sana, yuk? Sekalian merayakan kesembuhan kamu."


"Mau naik apa ke sana?"


"Kita naik taksi saja."


"Tapi aku tidak punya uang, Eonni," keluh Sera.


"Sudah tenang saja! Biar aku yang bayar, kamu tinggal ikut."


"Tapi apa Om Damar mengizinkan aku pergi?" Jora merasa ragu.


"Ya mana tahu kalau belum dicoba, sudah sana minta izin dulu, takutnya Oppa pergi!" pinta Yuni.


"Baiklah." Sera beranjak dan dengan perlahan melangkah ke kamar Damar.


***


Pelan-pelan Sera menaiki anak tangga satu per satu, karena kamar Damar terletak di lantai atas. Dia sebenarnya sedikit takut, tapi dia juga sangat ingin keluar rumah.


Sera mengetuk pintu sambil memanggil Damar. "Om."


Tak berapa lama pintu dibuka oleh Damar, dan Sera sontak menutup matanya saat melihat lelaki rupawan itu bertelanjang dada.


"Astaga, Om! Kenapa tidak pakai baju?" pekik Sera heboh bercampur panik.


"Tadi Om lagi ganti baju, ini baru mau dipakai," ujar Damar sembari mengenakan kaos oblong berwarna putih.


"Seharusnya Om pakai dulu baru buka pintunya, aku kan malu," gerutu Sera, membuat Damar terkekeh.


"Iya-iya, maaf." Damar pun memakai baju.


"Sekarang kamu sudah bisa buka mata." pinta Damar.


Sera membuka matanya, wajah gadis itu memerah.


"Idih, wajahnya sampai merah begitu," ledek Damar sambil mencolek dagu gadis itu.


Sera hanya cemberut.


"Ada apa kamu ke sini? Mentang-mentang sudah bisa berjalan, langsung naik tangga."


"Aku mau minta izin, Om."


Damar mengernyit, "Mau ke mana?"


"Ke pujasera yang baru dibuka, katanya hari ini kita bisa mendapatkan diskon besar-besaran kalau makan di sana. Boleh kan, Om?"


"Kamu pergi dengan siapa?"


"Dengan Eonni."


"Kamu yakin mau pergi? Apa kaki tidak apa-apa kalau banyak berjalan?" Damar memandang cemas Jora.


"Yakin, Om. Nanti kalau kakiku mulai sakit, aku akan istirahat."


"Ya sudah, kalian boleh pergi. Tapi jangan pulang terlalu malam, ya?" ucap Damar.


"Asyik! Terima kasih, Om." Sera sontak memeluk Damar karena saking senangnya, soalnya dia sudah sangat jenuh karena enam bulan dia terkurung di rumah.


Damar tertegun karena Sera memeluknya, padahal ini bukan yang pertama, dia pernah memeluk gadis itu saat ibunya meninggal tapi entah mengapa kali ini ada satu perasaan aneh yang membuat darahnya berdesir.


Sera lekas melepaskan pelukannya dan menatap danar dengan mata berbinar, "Om tidak mau ikut?"


"Tidak, kalian saja," jawab Damar yang masih berusaha menghalau rasa aneh di dadanya itu.


"Ayolah, Om! Kapan lagi kita bisa jalan-jalan bersama?" rengek Sera, "sekalian merayakan kesembuhan aku."


Damar terdiam menatap wajah Sera .


"Om, mau, ya?" desak Sera.


Damar menghela napas, "Baiklah, Om ikut!"


"Yeeee!" seru Sera girang, "Kalau begitu aku siap-siap dulu."


Sera langsung melangkah pelan meninggalkan Damar.


"Hati-hati turun tangganya!"


"Iya, Om."


Damar tersenyum melihat gadis itu berjalan tertatih meninggalkan kamarnya, dia tahu Sera selalu bisa membuat suasana hatinya membaik.


***