My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 94.



Sera dan Lusi sedang harap-harap cemas menunggu di depan ruang UGD rumah sakit, keduanya saling berpelukan dan tidak berhenti menangis.


Dafi dan Bobi yang sudah selesai diobati keluar dari ruang UGD, dan duduk di dekat Lusi.


"Bagaimana papa kamu?" tanya Lusi penasaran, wajah tuanya terlihat cemas.


"Dokter sedang menanganinya, Oma. Kita tunggu saja!"


Lusi mengembuskan napas dan kembali menangis. "Ya Tuhan, selamatkan anakku."


Sera memeluk tubuh tua Lusi dan mengusap punggungnya, dia juga menangis sebab takut sesuatu yang buruk terjadi pada Damar.


Seorang dokter keluar dari ruang UGD, Dafi dan semua orang langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Lusi cemas.


"Pasien mengalami luka tusuk sedalam lima centimeter dan mengenai paru-paru bagian belakangnya. Kami akan melakukan tindakan operasi untuk menjahit luka dalam dan luka di luar, tapi pasien kehabisan banyak darah, kami butuh donor darah dengan golongan B. Karena kebetulan stok darah dengan golongan tersebut habis."


Sera dan semua orang terkesiap mendengar penuturan dokter itu.


"Damar, anakku!" ucap Lusi lirih.


"Ambil darah saya saja, Dok! Saya anaknya, golongan darah kami sama," pinta Dafi.


"Tapi kamu juga sedang terluka, nanti bisa berakibat fatal terhadap kondisi tubuh kamu."


"Iya, Daf. Sebaiknya jangan!" sela Lusi.


"Tidak apa-apa, Oma! Aku baik-baik saja, kok!" Dafi bersikeras ingin mendonorkan darahnya pada Damar.


"Dok, saya mohon izinkan saya mendonorkan darah!" Dafi memohon pada si dokter.


"Baiklah, kalau begitu kamu ikut saya. Kita akan cek terlebih dahulu kondisi kamu," ujar si dokter.


"Baik, Dok."


Dokter itu berlalu dari hadapan semua orang.


Dafi lantas menatap Sera, "Aku titip Oma."


Sera mengangguk sambil memeluk Lusi, Dafi pun bergegas menyusul dokter itu.


"Ma, sebaiknya sekarang kita duduk dan berdoa, semoga semuanya baik-baik saja," tutur Sera.


Lusi mengangguk dan menuruti menantunya itu, mereka kembali duduk di kursi tunggu lalu berdoa.


Riko pun datang setelah mendapatkan telepon dari Yuni, dia juga terlihat sangat cemas.


"Bagaimana keadaan Pak Damar?" cecar Riko.


"Dia terluka parah dan kehabisan banyak darah, Mas. Dokter akan segera mengoperasinya, sekarang Dafi sedang mendonorkan darah untuknya," jawab Sera sembari menyeka air matanya.


Riko mengusap wajahnya dengan kasar, "Ya Tuhan, kenapa bisa seperti ini?"


"Ini semua gara-gara Anggi! Dia penyebab putraku terluka!" sungut Lusi penuh emosi.


"Ma, tenanglah!" Sera mengusap punggung belakang Lusi.


Sera pun menceritakan kepada Riko apa yang terjadi, sehingga Damar sampai terluka seperti ini.


"Apa kalian sudah lapor polisi?" tanya Riko lagi.


Sera menggeleng, "Belum, Mas."


Riko lalu menatap Bobi yang juga babak belur, "Mas, bisa ikut saya ke kantor polisi, kita akan buat laporan."


Bobi mengangguk, "Bisa, Mas."


Riko mengalihkan pandangannya ke Sera dan Lusi lagi, "Kalau begitu aku permisi dulu, kabari aku jika ada perkembangan atau terjadi sesuatu."


"Iya, Mas," sahut Sera, sementara Lusi hanya bergeming sambil menangis.


Riko dan Bobi bergegas meninggalkan rumah sakit, mereka akan melaporkan kejadian ini ke pihak yang berwajib.


***


Damar sudah masuk ke ruang operasi setelah mendapatkan donor darah dari Dafi. Sementara Sera dan Lusi menanti di depan ruang operasi dengan perasaan cemas, mereka tak henti-hentinya berdoa memohon keselamatan dan kesembuhan untuk Damar.


Dafi datang menghampiri mereka, dia terlihat pucat dan lemas, namun tetap memaksakan diri untuk kuat. Lusi dan Sera merasa khawatir melihat keadaan keadaan Dafi itu, mereka takut jika dia juga kenapa-kenapa.


"Dafi, kamu baik-baik saja?" tanya Lusi khawatir.


Dafi mengangguk lemah, "Iya, Oma. Aku baik-baik saja, kok."


"Tapi wajah kamu pucat sekali, apa tidak sebaiknya kamu dirawat saja?"


"Tidak usah, Oma. Aku tidak apa-apa," sanggah Dafi, dia kemudian duduk bersandar lalu memejamkan matanya.


Sera prihatin melihat kondisi mantan kekasihnya itu.


"Hem, aku beli teh hangat dulu, Ma," bisik Sera.


"Iya, pergilah."


Sera pun beranjak dan bergegas pergi untuk membelikan teh hangat. Sejenak tak ada pembicaraan antara Lusi dan Dafi, suasana hening, keduanya hanya diam di dalam kecemasan.


Namun sebuah pertanyaan bernada khawatir keluar dari mulut Dafi, "Apakah Papa akan sembuh?"


"Pasti, papa kamu pasti sembuh! Dia pria yang kuat, dia orang baik, Tuhan pasti melindunginya," sahut Lusi penuh keyakinan sembari mengusap air matanya.


"Aku masih tidak menyangka Papa akan melakukan ini, dia rela terluka demi menyelamatkan aku, padahal selama ini aku selalu bersikap buruk padanya," ucap Dafi, satu tetes cairan bening jatuh dari matanya yang masih terpejam, namun buru-buru dia hapus.


"Itulah orang tua, dia rela berkorban demi anaknya, meskipun nyawanya menjadi taruhan. Tidak ada orang tua yang mau melihat anaknya terluka dan sakit, dia lebih menyayangi anaknya daripada dirinya sendiri."


Dafi hanya bergeming, dia merasa tertampar karena kata-kata Lusi yang begitu menyentuh hatinya.


"Mungkin inilah saatnya kamu tahu yang sebenarnya, agar kamu berhenti membenci papamu," lanjut Lusi.


Dafi sontak membuka matanya yang basa dan menatap Lusi dengan kening mengerut, "Apa maksud Oma? Apa yang tidak aku ketahui selama ini?"


***