My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 53.



Begitu membuka pintu kamar, Damar dan Sera tercengang melihat kamar tersebut didekorasi seperti kamar pengantin, banyak lilin aromaterapi dan taburan kelopak bunga mawar merah di atas ranjang.


"Ini pasti ulah Mama," tebak Damar.


"Aku jadi merasa bersalah, Om. Orang tua Om sepertinya sangat bahagia dengan pernikahan ini, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka tahu yang sebenarnya," keluh Sera sedih.


"Entahlah, Om juga bingung. Sepertinya kita semakin terjebak dalam sandiwara kita sendiri."


"Aku jadi takut, Om."


"Jangan takut, Om akan selalu menjaga dan melindungi mu. Kamu tenang saja!"


Sera hanya mengangguk.


"Kalau begitu sekarang kamu istirahat, Om mau menghubungi Riko dulu," pinta Damar sembari berjalan ke arah balkon, dia ingin mengatur cutinya.


Sera melangkah ke dalam kamar, baru kali ini dia masuk ke sini. Matanya memperhatikan setiap sudut ruangan bercat putih itu dan tertuju pada sebuah pigura foto di atas meja nakas.


Sera mengambil pigura itu dan mengamatinya, ada foto seorang pemuda yang sangat mirip dengan Dafi sedang menggendong bayi lucu.


"Ini pasti Om Damar dan Dafi sewaktu bayi," tebak Sera.


Dia mengusap foto Damar, "Ternyata Om Damar muda mirip banget dengan Dafi. Tapi kenapa aku tidak menyadari hal itu dari awal?"


Sera kembali merasakan penyesalan karena terlambat menyadari jika Damar adalah ayahnya Dafi. Dia meletakkan pigura itu lalu merebahkan badannya di atas ranjang, mendadak dia teringat pada Dafi.


Pikiran Sera menerawang jauh ke masa saat pertama dia bertemu Dafi di sekolah, kala itu Sera yang merupakan siswi baru dijahili oleh siswa lain dan Dafi menolongnya. Sejak itulah Sera jatuh hati pada mantan kekasihnya itu.


Karena terlalu asyik bermain-main dengan pikirannya, tanpa sadar Sera pun tertidur. Tak berapa lama Damar datang dan tertegun melihat gadis itu sudah terlelap dengan begitu damai.


"Kasihan, dia harus terlibat dalam kebohongan ini. Maafkan Om, Sera. Om janji akan segera mengakhiri semuanya," gumam Damar, dia kemudian pergi meninggalkan Sera.


***


Hari sudah beranjak sore, Sera pun terbangun dari tidurnya.


"Ya ampun, aku tertidur." Sera bangkit dan mengedarkan pandangannya, "Om Damar ke mana?"


Di saat bersamaan Lusi masuk ke dalam kamar dan terkejut melihat Sera sudah duduk di atas ranjang, "Eh, rupanya kamu sudah bangun, sayang. Baru saja mau Mama bangunkan."


"Iya, aku baru saja bangun, Ma."


Lusi tersenyum sambil mengusap rambut panjang Sera, "Kamu pasti kelelahan, ya?"


"Tidak, kok, Ma. Aku hanya kurang tidur saja," dalih Sera.


"Pasti karena ulah Damar, kan?" goda Lusi.


Wajah Sera langsung merona merah, dia mengerti maksud Lusi itu, tapi dia tak mau membantah sebab takut mertuanya itu curiga.


Lusi tersenyum melihat wajah merah menantunya.


"Damar sedang ke kantor, ada beberapa berkas yang harus dia tanda tangani sebelum berangkat ke Venesia, tadi dia tidak sempat pamit ke kamu, katanya kamu tidur nyenyak sekali," terang Lusi.


"Sudah lama perginya, Ma?" tanya Sera basa-basi agar terlihat dia peduli pada suaminya itu.


"Sudah, sih. Sebentar lagi juga pulang, kok," sahut Lusi, "ya sudah, sekarang kamu mandi dan dandan yang cantik! Kita mau pergi."


Sera mengernyit, "Ke mana, Ma?"


"Kita mau makan malam di luar."


"Oh, baiklah, kalau begitu aku mandi dulu."


"Iya, Mama juga mau mandi." Lusi bergegas keluar dari kamar itu.


Sera juga segera masuk ke kamar mandi, tapi dia lupa mengunci pintu.


Sepuluh menit kemudian, Damar pulang dan langsung masuk ke dalam kamar. Dia melepaskan sepatunya, lalu membuka pakaiannya. Kini dia hanya mengenakan celanaa dalaam lalu menyelonong masuk ke dalam kamar mandi.


Damar tercengang dengan mata melotot saat melihat tubuh polos Sera.


"Aaaahhh!" Sera sontak berteriak sembari menutupi dada dan daerah intinya dengan tangan saat melihat Damar masuk.


"Maaf-maaf, Om tidak tahu ada kamu." Damar langsung keluar lagi dan menutup pintu kamar mandi.


Damar terpaku di depan pintu kamar mandi dengan raut terkejut bercampur tegang, dia memegangi dadanya yang bergemuruh hebat. Untung saja Lusi dan yang lainnya tidak mendengar suara teriakkan Sera, kalau tidak bisa panjang urusannya.


Pintu kamar mandi terbuka, Sera yang sudah memakai kimono handuk keluar dengan wajah masam, namun begitu melihat Damar hanya memakai celanaa dalaam, dia spontan menutup matanya.


"Om kok telanjang?" sungut Sera kesal.


"Tadi niatnya Om mau mandi, tapi rupanya di kamar mandi ada kamu."


"Kenapa Om masuk sembarangan?"


"Om minta maaf, Om lupa kalau sekarang ada penghuni lain di kamar ini. Lagian kamu kenapa tidak kunci pintunya? Kan bahaya kalau ada orang lain yang masuk seperti tadi."


"Aku lupa," jawab Sera menyesal, "ya sudah, sekarang Om mandi sana! Aku sudah selesai."


"Iya." Damar buru-buru masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintu dan menguncinya.


Perlahan Sera membuka matanya, dia menghela napas lega karena Damar sudah tidak ada. Sejujurnya dia malu sekali karena Damar sudah melihat tubuhnya tanpa sehelai benangpun.


Sementara itu di dalam kamar mandi, Damar masih terbayang-bayang tubuh polos Sera yang putih mulus, seketika hasratnya bangkit dan bergelora.


"Sial! Kenapa aku harus melihatnya, sih?" gerutu Damar kesal.


Dia pun menyalakan shower dan membasuh tubuhnya yang mendadak terasa gerah, dia tak ingin terpengaruh dengan birahinya dan berusaha mati-matian untuk melupakan pemandangan yang menggoda iman tadi.


***