My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 11.



Dafi pulang ke kost-kostan, ternyata Luna sudah menunggunya dengan wajah masam, seketika lelaki ganteng itu menyadari kesalahannya telah meninggalkan sang kekasih di kampus. Dafi turun dari motor dan segera menghampiri kekasihnya itu.


"Luna, aku minta maaf. Tadi aku ...."


Plaaaakk ....


Dafi terkejut karena Luna tiba-tiba menamparnya, dia bahkan tak sempat melanjutkan ucapannya.


"Apa-apaan kau? Kenapa menampar ku?" Dafi menatap tajam Luna sambil meraba pipinya yang perih.


"Itu balasannya karena kau berani melanggar janji dan mengkhianati aku!" sungut Luna.


"Apa maksudmu? Siapa yang mengkhianati?"


"Kau pikir aku tidak tahu jika kau pergi menemui mantanmu itu, haa?" hardik Luna.


Dafi tercengang, dari mana kekasihnya itu tahu jika tadi dia ke rumah Sera?


"Aku tidak bertemu dengannya," bantah Dafi.


"Jangan bohong! Aku sudah menghubungi teman-teman mu dan mereka bilang kau datang ke rumah Sera, jadi jangan mengelak lagi!"


Dafi terhenyak, "Jadi kau menghubungi teman-temanku? Dari mana kau dapatkan nomor mereka?"


"Aku menyalinnya dari ponselmu waktu itu."


Dafi kembali terperangah, "Kau ini terlalu berlebihan, buat apa menanyakan aku pada mereka? Buat malu saja!"


"Habis kau tidak menjawab telepon dariku, jadi aku tanya saja mereka."


Dafi memang sengaja tidak menjawab panggilan dari Luna karena dia sedang cemas memikirkan Sera, tapi dia tak menyangka kekasihnya itu akan menghubungi teman-temannya.


"Aku tidak suka caramu ini!"


"Makanya jangan coba-coba mengingkari janji dan mempermainkan aku."


"Luna dengar! Ibu Sera meninggal, aku hanya ingin mengucapkan belasungkawa, itu saja! Tidak ada maksud lain, jadi kau jangan berpikir macam-macam!"


"Daf, bagaimana aku tidak berpikir macam-macam, dia itu mantanmu dan kau masih saja peduli padanya."


"Ah, sudahlah! Susah bicara denganmu." Dafi masuk ke dalam kamar kostnya dan membanting pintu dengan keras.


Luna sampai terperanjat.


"Dafi! Kamu ini benar-benar, ya!" teriak Luna.


Dafi tak menggubris Luna yang berteriak di depan kost-kostan nya, dia benar-benar kesal dengan tingkah kekasihnya itu. Dafi mengembuskan napas berat, pikiran masih mencemaskan Sera.


"Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Mungkinkah ada hubungannya dengan malam itu?" Dafi bertanya pada dirinya sendiri.


Dafi kemudian mengusap wajahnya dengan kasar, "Sera, kenapa aku tidak bisa berhenti peduli padamu?"


Entah apa yang terjadi pada hatinya saat ini, dia merasa jenuh dengan hubungan mereka, tapi dia juga tak merasa bahagia saat putus dari Sera. Bayang-bayang gadis itu dan rasa bersalahnya terus saja menghantui, dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja, terlebih dengan sikap Luna yang belakangan ini berubah jadi kekanak-kanakan, Dafi semakin diliputi kegalauan.


"Aku harus menemuinya, aku harus tahu apa yang terjadi."


***


Setelah memastikan keadaan Sera sudah lebih baik, Damar membawa gadis itu kembali ke rumah orang tuanya, karena ada beberapa barang penting yang harus dia ambil. Demi mengobati rasa penasaran mereka, kerabat dan tetangga Sera pun akhirnya bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Dengan hati-hati gadis cantik itu menceritakan apa yang menimpanya dari awal sampai akhir, beberapa orang merasa kasihan padanya dan ada juga yang merasa marah pada Heru.


"Kalau begitu mulai sekarang Sera tinggal bersamaku saja," ujar seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah kerabat jauh Mila.


"Hem, begini. Bagaimana kalau Sera tinggal dengan saya saja?" sahut Damar tiba-tiba, Sera sontak menatap lelaki itu.


"Tapi apa anda dan keluarga anda tidak keberatan? Sera kan bukan siapa-siapa kalian?"


Damar tersenyum, "Tidak apa-apa, lagipula saya masih berkewajiban untuk mengobati Sera sampai sembuh. Bagaimana pun juga saya tetap harus bertanggung jawab karena sudah membuat dia terluka."


Wanita itu memandang Sera yang duduk di samping Damar, "Bagaimana Sera?"


Sera terdiam, dia sedang menimbang-nimbang keputusan apa yang dia ambil.


Tapi tiba-tiba Yuni menggenggam erat tangannya, "Mau saja Sera, nanti kita bisa nonton bareng dan curhat-curhatan lagi, aku akan ajarkan kamu bahasa Korea."


"Yun!" Damar memberi peringatan.


Yuni langsung merengut, "Iya, Oppa. Maaf."


Damar tersenyum samar, entah mengapa dia merasa senang gadis itu bersedia tinggal bersamanya, begitu pun dengan Yuni, asisten rumah tangga Damar itu sontak mendekap Sera sambil tertawa riang.


"Ya sudah, kalau itu keputusan kamu. Wak berharap kamu baik-baik saja di mana pun kamu berada, jangan lupa kabarin Wak kalau ada apa-apa."


"Iya, Wak," balas Sera, dia memang sudah merasa nyaman di rumah Damar, terlebih pada lelaki itu, dia merasa seperti memiliki ayah yang menyayanginya.


Wanita paruh baya itu beralih memandang Damar, "Saya titip Jora, tolong jaga dia baik-baik."


Damar mengangguk dan tersenyum, "Tentu, Bu. Saya pasti akan menjaga dia sebaik mungkin, saya janji!"


"Terima kasih."


Setelah selesai bicara dengan kerabat Sera, Damar memutuskan untuk pulang bersama Yuni dan berjanji akan datang lagi untuk menjemput gadis itu.


Sedangkan Sera sendiri masuk ke dalam kamarnya, dia mengambil pigura foto yang tergeletak di tempat tidur, pigura yang dia pakai untuk memukul Heru waktu itu. Sera memandangi foto dirinya yang masih kecil bersama sang ayah dan sang ibu, air matanya kembali jatuh menetes.


"Semoga Ayah dan Ibu tenang di sana, aku akan selalu menyayangi kalian," ucap Sera lirih.


"Sera, di luar ada teman kamu yang datang," ujar kerabat Sera dari depan pintu kamar.


Sera buru-buru mengusap air matanya dan menoleh ke arah orang itu, "Iya, Mbak."


Kerabat nya itu menghampiri Sera dan mendorong kursi rodanya, "Sini Mbak bantu."


"Terima kasih, Mbak."


Betapa kagetnya Sera saat tahu ternyata yang datang adalah Dafi, emosinya seketika naik.


Dafi terkesiap melihat kondisi mantannya itu. "Sera? Apa yang terjadi padamu?"


"Mau apa kau ke sini?" sergah Sera tanpa menggubris pertanyaan Dafi.


"Aku ingin mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya ibu kamu."


"Terima kasih, kalau begitu sekarang kau pergi!"


"Sera, aku ...."


"Pergi!" bentak Sera sebelum Dafi sempat melanjutkan kata-katanya.


Dafi menghela napas dan segera pergi, dia tak ingin semakin membuat Sera marah dan sedih. Tapi hatinya kian merasa iba dan cemas pada mantan kekasihnya itu.


Selepas kepergian Dafi, Sera pun kembali ke kamarnya dan menangis sesenggukan. Melihat Dafi seakan mengoyak luka hatinya lagi, dia marah dan benci pada lelaki tu.


***


Besok malamnya, Damar menjemput Sera dan membawa gadis itu pulang ke rumahnya, Yuni langsung menyambut mereka.


"Sekarang ini menjadi rumah kamu, jadi kamu bisa tinggal sampai kapanpun yang kamu mau," ujar Damar sambil mendorong kursi roda Sera.


"Terima kasih banyak, ya, Om."


"Iya, pokoknya kamu tidak boleh sedih lagi, karena sekarang kamu punya keluarga baru."


"Dan aku jadi punya teman nonton bareng," sela Yuni girang.


"Awas kalau kamu nunjukin film-film yang tidak baik ke Sera!" ancam Damar.


"Oppa tenang saja, Lee Yun Ni yang cantik jelita ini tidak akan menunjukkan film-film tak senonoh," sahut Yuni.


Damar geleng-geleng kepala menanggapi ocehan Yuni, sedangkan Sera hanya tersenyum samar, duka masih menyelimutinya.


"Ya sudah, kamu tolong antar Sera ke kamarnya, biar dia bisa beristirahat. Tapi setelah itu jangan ditinggal, temani dia!" titah Damar pada Yuni.


"Siap, Oppa!" seru Yuni penuh semangat.


Damar beralih memandang Sera, "Kamu istirahat, ya. Ingat pesan Om tadi."


Sera mengangguk, "Iya, Om."


"Yuk, kita ke kamar!" Yuni pun mendorong kursi roda Sera menuju kamar tamu, sementara Bobi membawakan tas gadis itu.


Sera hanya membawa beberapa potong pakaiannya dan barang-barang penting saja, namun dia tak dapat menemukan ponselnya, dia yakin Heru sudah mengambil benda itu.


Damar mengembuskan napas lega, akhirnya gadis malang itu bisa menerima semua ini dengan lapang dada. Sejujurnya Damar kagum pada Sera, meskipun dia mengalami musibah beruntun di usia muda, namun dia tetap kuat.


***