My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 49.



Di kost-kostan Dafi, Alvin dan Marcell sedang bermain game online sembari menghibur sahabat mereka yang baru putus cinta itu.


"Jadi sekarang kamu resmi menjomblo ini?" ledek Alvin tanpa memandang Dafi, dia tengah fokus menatap layar gadget nya.


"Paling besok dia sudah dapat pacar baru, Dafi gitu loh," sela Marcell.


"Kalian pikir cari pacar kayak beli sendal, hari ini putus, besoknya langsung beli baru?" sungut Dafi kesal.


"Kalau sendal putus tidak nunggu sampai besok kali, Daf. Hari ini putus, hari ini juga beli baru lah," kelakar Marcell lalu tertawa terbahak-bahak.


"Cell, Dafi itu tidak mau cari pacar baru, tapi dia mau balikan sama pacar yang lama," ejek Alvin.


"Siapa? Sera?" tanya Marcell.


"Iyalah, siapa lagi? Dafi kan gagal move on dari mantan terindahnya itu, soalnya Luna produk gagal," sambung Alvin kemudian terkekeh.


"Sialan kalian berdua! Puas banget ngeledek aku!" umpat Dafi.


Tiba-tiba seseorang menghubungi Alvin, wajah Alvin sontak berubah tegang dan panik saat mendengar apa yang disampaikan si penelepon itu.


***


Setelah mendapatkan informasi dari Riko, Sera dan Damar berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar rawat inap Ferdi dan Jamal, keduanya sudah mendapatkan penanganan medis.


Begitu tiba di kamar yang Riko maksud, pasangan pengantin baru itu langsung menyelonong masuk. Terlihat Ferdi dan Jamal terbaring lemah dengan dikelilingi oleh Riko dan para talent lainnya.


"Bagaimana kondisi mereka?" tanya Damar cemas, dia memandangi Ferdi dan Jamal yang tergolek tak berdaya.


"Ferdi mengalami luka robek di kepala dan hidungnya patah, Mas. Kalau Bang Jamal, tangannya yang patah," terang Deni.


Damar dan Sera merasa prihatin atas apa yang menimpa dua orang itu, mereka juga merasa bersalah.


"Bagaimana kronologis kecelakaannya?" tanya Damar lagi.


"Kata saksi mata, mereka naik motor kencang banget, dan dipertigaan tiba-tiba ada mobil yang juga melaju kencang lalu menabrak mereka. Jadinya mereka berdua terpental ke aspal, Pak," papar Riko yang sudah mendengar kronologis kejadiannya dari polisi yang meneleponnya tadi.


"Jadi yang menabrak melarikan diri?" tebak Damar.


"Tidak, Pak. Dia sudah diamankan ke kantor polisi dan katanya bersedia untuk bertanggung jawab," sahut Riko.


"Syukurlah kalau begitu," balas Damar lega.


Damar lantas memandang iba Ferdi dan Jamal, "Apa keluarga mereka sudah dikabari?"


"Sudah, tadi aku sudah menghubungi adiknya Ferdi dan juga istrinya Bang Jamal. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini," sahut Raffi.


Tak berapa lama pintu ruang perawatan Ferdi dan Jamal terbuka, seorang wanita hamil masuk sambil menangis.


"Bang Jamal." Wanita itu langsung mendekati ranjang tempat Jamal berbaring, tangisnya semakin kencang.


Sera dan semua orang semakin prihatin, bahkan Damar yang tadinya marah dan kesal terhadap Ferdi juga Jamal, kini merasa kasihan pada dua orang itu.


Pintu ruangan itu kembali terbuka, dan Sera terkejut setengah mati saat melihat yang datang adalah Alvin, dia sontak beringsut lalu bersembunyi di balik punggung Damar sebelum Alvin melihatnya. Ternyata Alvin adalah adiknya Ferdi, dan Sera baru tahu hal itu.


Damar bingung melihat tingkah Sera, "Kamu kenapa?"


"Itu teman aku, Om," bisik Sera sambil menunjuk Alvin yang berdiri di depan mereka.


Damar lantas memperhatikan Alvin, dia seperti pernah melihat pemuda itu sebelumnya, tapi dia lupa di mana.


"Om, bisa tidak kita pergi dari sini? Aku takut dia melihatku." Sera kembali berbisik di telinga suaminya itu.


Damar mengangguk, lalu beralih memandang Riko dan berbisik pada bawahannya itu, "Kami pergi dulu, nanti kami ke sini lagi."


Riko mengangguk, "Iya, Pak."


"Kalau begitu kami permisi dulu, soalnya masih ada urusan," ujar Damar pada semua orang yang ada di ruangan itu.


"Iya, Mas. Silakan."


Alvin pun memandangi Damar dan Sera yang melintas di sampingnya, namun karena terhalang tubuh kekar Damar, dia jadi tidak bisa melihat wajah Sera.


Pasangan suami istri itu pun buru-buru meninggalkan ruang perawatan Ferdi dan Jamal demi menghindari Alvin.


Sera akhirnya bisa bernapas lega saat sudah berada di luar, jantungnya nyaris copot saat melihat Alvin tadi. Rasanya dunia ini terlalu sempit, lagi-lagi dia harus berurusan dengan orang-orang yang saling berkaitan satu sama lain. Pertama Damar yang rupanya ayah kandung Dafi, dan sekarang Ferdi yang ternyata kakaknya Alvin.


"Itu tadi teman atau mantan kamu?" Damar tiba-tiba bertanya.


"Dia teman SMA aku, Om. Kalau sahabatnya baru mantan aku." Sera menjawab dengan jujur.


Damar tercenung, lalu kembali bertanya, "Kenapa kamu menghindarinya?"


"Aku malas saja bertemu dia."


Sera tentu tak ingin Alvin melihatnya dan mengadu ke Dafi, dia takut mantannya itu mengetahui tentang apa yang terjadi.


"Ya sudah, sekarang kita mau ke mana?"


"Pulang saja, Om. Aku lelah dan ingin istirahat."


"Baiklah, kita pulang."


Pasangan pengantin baru itu berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit tersebut.


***